HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Kebijakan Usir Imigran Gelap Dipertimbangkan Ulang Donald Trump

Capres AS Donald Trump dalam kampanye di Fredericksburg, 20 Agustus 2016. (AFP/MOLLY RILEY)
12

HARIANACEH.co.id – Tim kampanye dari calon presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan perubahan wacana salah satu kebijakan kontroversial terkait keimigrasian. Kubu Trump menyebut rencana mengusir sebelas juta imigran gelap di Negeri Paman Sam sedang dikaji ulang.

Trump menempatkan rencana kebijakan keimigrasian sebagai pusat perhatian dalam kkampanyenya. Ia berjanji mendeportasi jutaan imigran ilegal dan membangun tembok besar di perbatasan AS-Meksiko. Sejumlah kritik menilai kebijakan Trump tidak manusiawi, terlampau menghabiskan biaya dan tidak masuk akal.

Mengekor di belakang capres Hillary Clinton dari Partai Demokrat dalam beberapa polling, Trump mencoba memperluas jangkauannya kepada warga AS dari komunitas kulit hitam dan Hispanik. Selama ini, pendukung utama Trump berasal dari kulit putih kelas pekerja.

“Dia (Trump) ingin memastikan kita semua menjunjung tinggi hukum, menghormati warga AS yang mencari pekerjaan, dan memperlakukan secara adil dan manusiawi kepada mereka (imigran) yang tinggal bersama kita di negara ini,” ujar manajer baru kampanye Trump, Kellyanne Conway, kepada CNN, Minggu (21/8/2016).

Saat ditanya apakah Trump akan tetap menjalankan “rencana deportasi” seperti yang ditegaskannya dalam beberapa kesempatan, Conway menjawab: “akan ditentukan nanti.”

Imigran gelap asal Meksiko diproses otoritas Texas
Imigran gelap asal Meksiko diproses otoritas Texas. (AFP)

Sementara itu senator Jeff Sessions dari Partai Republik, teman dekat Trump, mengatakan dalam program “Face the Nation” CBS bahwa sang capres masih menelaah rencana deportasinya.

“Saat ini dia masih menelaah bagaimana cara melakukannya. Orang-orang yang tinggal di sini secara ilegal, datang ke sini dengan melanggar hukum, harus disingkirkan. Itu faktanya,” tutur Sessions. “Dia memikirkan hal tersebut.”

Selain rencana mengusir imigran, Trump juga berencana menolak kedatangan semua Muslim ke AS. Belakangan, Trump menurunkan intonasinya dengan mengatakan hanya akan fokus melarang kedatangan Muslim dari negara-negara yang dinilainya sudah terkontaminasi terorisme.

Clinton menuduh Trump menebar bibit perpecahan. Bertolak belakang dengan Trump, Clinton berencana menyodorkan sebuah jalur kepada para imigran gelap untuk menjadi warga AS.

Popularitas Trump di sejumlah polling nasional merosot dalam beberapa pekan terakhir. Survei di beberapa negara bagian krusial seperti Pennsylvania dan New Hampshire menunjukkan keunggulan Clinton dari Trump.

Sebuah survei dari Reuters/Ipsos pada 19 Agustus memperlihatkan Clinton unggul 8 persen dari Trump, 42 berbanding 34.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat