HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Peredaran Rokok Ilegal Mulai Terjadi Akibat Kenaikan Harga Rokok

5

HARIANACEH.co.id – Ketua Harian Forum Masyarakat Industri Rokok Indonesia (Farmasi), Heri Susianto, mengatakan kenaikan harga rokok akan memicu peredaran rokok ilegal. Munculnya rokok ilegal ini dengan menggunakan cukai palsu sehingga tak harus membayar pajak.

“Paling tidak tahun ini rokok ilegal terjadi kenaikan sebesar dua persen. Kami prediksi kenaikan kerugian negara dari rokok ilegal sekitar Rp11 triliun,” ujar Heri, dikonfirmasi, Senin (22/8/2016).

Menurut Heri, rokok ilegal dapat mengambil pangsa pasar sekitar 11,9 persen dari total pasar rokok di Indonesia yang mencapai Rp314,8 miliar batang rokok. Sedangkan di Indonesia sendiri, pabrik rokok menengah dan kecil hanya memiliki pangsa pasar sebanyak 7 persen.

“Sebanyak 93 persen pangsa pasar rokok di kuasai oleh PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk, PT Gudang Garam Tbk, PT Djarum, PT Wismilak Inti Makmur Tbk serta PT Bentoel Internasional Investama Tbk dan PT Nojorono Tobacco International,” kata Heri.

Direktur PT Gudang Garam Tbk, Istatat Taswin Sidharta, mengaku kenaikan harga rokok hingga 23 persen akan menimbulkan banyak masalah dan efek negatif.

“Tapi saya yakin pemerintah akan mengeluarkan kebijakan yang pas, bijak,” katanya.

Menurut Aswin, pendapatan Gudang Garam pada 2016 meningkat sekitar 11,2 persen atau setara dengan Rp37 triliun. Jumlah ini lebih besar dibanding dengan pendapatan tahun 2015 lalu di periode pertama sebesar Rp33,2 triliun. Sedangkan untuk jumlah penghasilan komorehensif di semester pertama 2016 ini meningkat 19,2 persen menjadi Rp2,9 triliun, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni Rp2,4 triliun.

“Meskipun pendapatan naik, tapi volume penjualan turun sekitar 2 persen,” katanya.

Volume penjualan untuk Sigaret Kretek Mesin (SKM) full flavour turun sebesar 2,4 persen menjadi Rp28,9 miliar batang. Sedangkan untuk kategori SKM rendah tar dan nikotin (SKM LTN) volume penjualan turun sebesar 1,6 persen menjadi 4,6 miliar batang. Sedangkan untuk volume penjualan SKT (Sigaret Kretek Tangan) meningkat sebesar 1,9 persen menjadi 4,2 miliar batang.

“Meski turun 2 persen, tapi kami optimis dan realistis menunggu ada perubahan di industri rokok,” pungkas Istata Taswin Sidharta.

loading...