HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Saham Emiten Rokok Belum Lagi Mengepul Pasca Wacana Kenaikan

Ilustrasi rokok. (Foto: Okezone)
23

HARIANACEH.co.id – Menyebarnya berita hoax atau berita yang tidak benar soal kenaikan harga rokok menjadi Rp50 ribu perbungkusnya telah membuat kegaduhan di masyarakat. Ironisnya, kegaduhan ini juga memberikan dampak negatif perdagangan saham emiten produsen rokok yang ikut rontok di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Saham-saham produsen rokok masih terus berjatuhan, di antaranya PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM). Saham GGRM pada penutupan perdagangan sesi I, masuk dalam jajaran top losers.

Tercatat saham GGRM ditutup melemah 475 poin (0,71 persen) ke Rp66.525. Saham GGRM sempat menyentuh level terendahnya di Rp66.350 dan tertingginya di Rp67.400. Saham GGRM ditransaksikan sebanyak 1.675 kali dengan total volume perdagangan sebanyak 4.475 saham senilai Rp29,8 miliar.

Sementara saham HMSP ditutup merosot 60 poin (1,48 persen) ke Rp3.990. Saham HMSP sempat menyentuh level terendahnya di Rp3.980 dan tertingginya di Rp4.040. Saham HMSP ditransaksikan sebanyak 2.330 kali dengan total volume perdagangan sebanyak 45.485 saham senilai Rp18,2 miliar.

Sedangkan saham WIIM ditutup turun 2 poin (0,50 persen) ke Rp398. Saham WIIM sempat menyentuh level terendahnya di Rp396 dan tertingginya di Rp400. Saham WIIM ditransaksikan sebanyak 10 kali dengan total volume perdagangan sebanyak 61 saham senilai Rp2,4 juta.

Liyanto Sudarso, analis MNC Asset Management pernah bilang, penurunan saham-saham emiten rokok disinyalir terkait dengan isu kenaikan harga produk rokok yang selangit. Memang, pemerintah memiliki wacana untuk menaikkan cukai rokok pada tahun 2017 mendatang. Investor sedianya tidak perlu cemas dengan rencana kenaikan cukai tersebut.

Sebab, menurutnya, kenaikan cukai yang dilakukan pemerintah akan terukur. Jadi, kenaikan tersebut didesain supaya tidak menekan konsumsi rokok. Dengan kata lain, pemerintah lebih baik menaikan pendapatan negara yang sedang minus ketimbang mengurangi konsumsi rokok. Apalagi, kontribusi pendapatan pajak dari cukai rokok selama ini terbilang besar.

Head of Regulatory International Trade and Communications PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), Elvira Lianita dalam siaran persnya menegaskan, pihaknya membantah kabar harga produknya sedang dan akan menjadi Rp50 ribu per bungkus.”Isu terkait adanya kenaikan harga secara drastis atas produk-produk Sampoerna adalah informasi tidak benar yang disebarkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” tuturnya.

Sampoerna yang merupakan penguasa pasar rokok nasional, menurut Elvira, mendukung kebijakan tarif cukai yang adil, transparan, dan terprediksi dengan tetap memperhatikan unsur perlindungan kesehatan. Termasuk perlindungan terhadap 6 juta orang yang terlibat dalam industri hasil tembakau nasional.

”Perlu menjadi catatan penting, dengan tingkat cukai saat ini, perdagangan rokok ilegal telah mencapai 11,7 persen dan merugikan negara hingga Rp9 triliun. Hal ini tentu kontraproduktif dengan upaya pengendalian konsumsi rokok, peningkatan penerimaan negara, dan perlindungan tenaga kerja,”paparnya.

Kenaikan harga drastis maupun kenaikan cukai secara eksesif dinilai bukan merupakan langkah bijaksana. Sebab, kata Elvira, setiap kebijakan yang berkaitan dengan harga dan cukai rokok harus mempertimbangkan seluruh aspek secara komprehensif.Aspek tersebut terdiri atas seluruh mata rantai industri tembakau nasional: petani, pekerja, pabrikan, pedagang, dan konsumen. Harus dipertimbangkan pula kondisi industri dan daya beli masyarakat saat ini.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat