HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Abu Sayyaf Bunuh 15 Tentara Filipina

Prajurit Filipina menggotong peti mati berisi rekannya yang tewas dalam operasi melawan grup ekstremis Abu Sayyaf, 30 Agustus 2016. (AFP/STR)
25

HARIANACEH.co.id, Zamboanga — Sebanyak 15 prajurit tewas dibunuh, dua di antaranya dipenggal, dalam operasi militer memburu kelompok militan Abu Sayyaf di wilayah selatan Filipina.

Pusat Komando Mindanao Barat di kota Zamboanga merilis laporan perkembangan terbaru operasi melawan Abu Sayyaf pada Selasa (30/8/2016) pagi waktu setempat. Disebutkan beberapa prajurit, termasuk seorang perwira, tewas dalam baku tembak sengit dengan Abu Sayyaf di kota Patikul, sekitar 10 kilometer dari Jolo, ibu kota provinsi Sulu. Sejumlah prajurit lainnya tewas dalam baku tembak di desa Maligay.

Kolonel Edgard Arevalo mengonfirmasi jumlah korban tewas yang berasal dari Batalion Infantri ke-35 dan 21. Ia menyebut jumlah kematian dari kubu Abu Sayyaf belum dapat ditentukan secara pasti.

Seperti dikutip GMA News, Jenderal Ricardo Visaya menggarisbawahi bahwa operasi melawan Abu Sayyaf akan terus berlanjut meski korban jiwa terus berjatuhan.

“Mungkin masih akan ada korban jiwa dalam operasi memberantas para bandit dan teroris ini, tapi kami tidak akan berhenti sebelum menghabisi ASG,” tegas Visaya, merujuk pada singkatan grup Abu Sayyaf.

Senin 29 Agustus, militer Filipina mengklaim menemukan sedikitnya 16 jasad militan Abu Sayyaf di Patikul dan Talipao, setelah terjadinya baku tembak di wilayah tersebut pada Jumat.

Letnan Jenderal Mayoralgo dela Cruz mengatakan jumlah militan Abu Sayyaf yang tewas dalam operasi terbaru bertambah menjadi 22.

Bersenjatakan bahan peledak, mortir dan senapan otomatis, Abu Sayyaf telah melakukan serangkaian pengeboman, penculikan, pembunuhan dan pemerasan di Filipina sejak 1991. Mereka berjuang untuk memerdekakan sebuah provinsi di Filipina.

Abu Sayyaf adalah satu dari dua grup yang telah mendeklarasikan kesetiaannya kepada kelompok militan Islamic State (ISIS). Deklarasi atau baiat tersebut dikhawatirkan mengganggu proses perdamaian antara pemerintah Filipina dengan grup pemberontak Moro, yang telah berseteru selama berdekade-dekade.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat