HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Di Filipina, Terduga Gembong Narkoba Ditembak Mati

8

HARIANACEH.co.id – Seorang pebisnis Filipina beserta istrinya ditembak mati setelah polisi menyebut dirinya sebagai gembong narkotika dan obat-obatan terlarang. Penembakan meningkatkan kekhawatiran mengenai pembunuhan di luar jalur hukum di bawah kebijakan kontroversial Presiden Rodrigo Duterte.

Lebih dari 2.000 orang tewas sejak Duterte bertekad menghabisi kejahatan narkoba di negaranya, dengan mengizinkan aparat serta warga untuk membunuh siapa saja yang diduga terlibat.

Pada Senin 29 Agustus, pebisnis Filipina bernama Melvin Odicta dan istrinya ditembak mati di pelabuhan Aklan setelah turun dari kapal feri. Odicta dicurigai sebagai gembong narkoba dengan julukan populer “Dragon.”

Kepala Polisi Regional Jose Gentiles mengatakan kepada AFP, Selasa (30/8/2016), bahwa pelaku penembakan belum teridentifikasi. Namun ia menyebut penembakan ini terkait peredaran narkoba.

“Motif yang paling memungkinkan adalah pelaku ingin membungkam pasangan tersebut. Mungkin pelaku takut korban akan buka mulut mengenai keterlibatan,” ujar Gentiles.

Odicta merasa ketakutan setelah polisi menuduh dirinya sebagai gembong narkoba kelas kakap di provinsi Iloilo. Odicta mengaku bukan gembong narkoba, namun kepala kepolisian nasional Ronald dela Rosa tidak memercayainya.

“Kalian semua tahu dia bandar narkoba, tapi dia tetap saja membantahnya?” tutur dela Rosa kepada para awak media di Iloilo pada Jumat 26 Agustus.

Duterte berulang kali mengatakan pengedar dan bandar narkoba pantas dibunuh. Saat kampanye pemilihan umum presiden, dia berjanji 100 ribu orang akan tewas dalam perang melawan narkoba.

Pembunuhan di Luar Jalur Hukum

Duterte (kiri) dan dela Rosa
Duterte (kiri) dan dela Rosa. (Foto: AFP)

Namun dalam beberapa pekan terakhir, ia membantah aparat keamanan Filipina melakukan pembunuhan di luar jalur hukum. Polisi Filipina melaporkan pihaknya telah membunuh lebih dari 700 orang yang dinilai terlibat kejahatan narkotika. Duterte dan kepolisian nasional Filipina menegaskan pembunuhan itu dilakukan dalam konteks membela diri.

Pekan lalu dela Rosa mengatakan terdapat 1.190 kasus pembunuhan terkait narkoba yang masih diinvestigasi.

PBB mengecam keras kebijakan Duterte dan menyebutnya sebagai sebuah kejahatan di bawah hukum internasional. Kesal dikritik, Duterte menyarankan PBB untuk mengkaji ulang makna sesungguhnya dari kemanusiaan dan hak asasi manusia. Duterte merasa kejahatan narkoba telah menelan banyak korban tak bersalah.

“Saya berperang melawan narkoba. Terdapat krisis di negara ini,” tegas Duterte pada Senin 29 Agustus.

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time