HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Akibat Rebutan Lahan, Masyarakat Aceh Singkil – Sumut Bentrok di Perbatasan

Pondok Kebun Habis Terbakar (HAI/Study)
28

HARIANACEH.co.id, Singkil — Puluhan warga dari empat desa di Kecamatan Maduamas Sumatera Utara terlibat perkelahian dengan sekelompok masyarakat desa Laembalno Kec. Danau Paris, kabupaten Aceh Singkil, Selasa (30/8) di perbatasan Aceh-Sumut yang menyebabkan tiga orang luka-luka akibat terkena pukulan senjata tajam dan benda tumpul.

Khawatir atas peristiwa Bentrokan berlanjut, pemerintah kedua daerah bertetangga itu langsung menggelar pertemuan dilokasi kejadian, Rabu (31/8).

Langkah cepat itu diambil, sebagai upaya mengantisipasi adanya serangan susulan sekaligus mencegah timbulnya provokasi dari pihak-pihak yang ingin memperkeruh suasana.

Sekretaris Daerah Aceh Singkil, Drs.Azmi yang memimpin rombongan dalam pertemuan dengan perwakilan pemerintah Tapanuli Tengah,  petani dan tokoh masyarakat menegaskan, bahwah pemicu bentrokan antar petani tersebut murni disebabkan persoalan atas hak lahan garapan persawahan, bukan soal tapal batas kedua wilayah terlebih dikarenakan persoalan sarah.

“ini sebenarnya insiden kecil saja sebenanya, karena kesalah pahaman, jadi kita segera mengambil tindakan dengan mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat dari kedua daerah, ini tidak boleh ber kepanjangan” kata Azmi.

Azmi meminta masyarakat untuk dapat menahan diri dengan tidak melakukan tindakan diluar koridor hukum. Pihaknya berjanji akan segera membentuk tim khusus bersama pemerintah Tapanuli tengah untuk menyelesaikan persoalan.

“kami meminta masyarakat bersabar, kami akan segera menyelesaikan persoalan ini, intinya soal tapal batas Kabupaten itu menjadi kewenangan pemerintah pusat akan kita dorong penyelesaianya” kata Azmi.

Pejabat dari Kedua Pihak Melakukan Dialog dengan Masyarakat Yang Terlibat Konflik (HAI/Study)
Pejabat dari Kedua Pihak Melakukan Dialog dengan Masyarakat Yang Terlibat Konflik (HAI/Study)

Sedangkan menyangkut adanya klaim dari kedua belah pihak atas kepemilikan sekitar 50 Ha lahan yang menjadi pemicu bentrok berdarah itu, Pemerintah kedua Kabupaten sepakat mengembalikanya kepada aturan yang ada sebagai pedoman penyelesaian sengketa.

“Soal klaim kepemilikan lahan, kita harus berpedoman pada aturan yang ada dan karena ini sudah ada korban maka proses hukumnya  kita serahkan ke pihak yang berwajib” pungkas Azmi.

Menurut Kades Laembalno, Hermanto, Lokasi sengketa adalah wilayah Aceh Singkil. Sementara penyebab bentrokan dikarenakan terjadi sengketa lahan antara masyarakat Desa Sarmanauli,Saragih barat,Saragih timur dan Tambahan nanjur yg berada di perbatasan Antara Kab.Tapteng dengan Kab.Aceh Singkil.

Awalnya, petani berjumlah kurang lebih 50 org yg berasal kec.Manduamas datang ke lahan persawahan milik mereka yg ada di perbatasan Aceh-Sumut untuk bercocok tanam. Namun pada saat mereka sedang berada di lahan persawahan tersebut, sekelompok masyarakat petani lainnya berjumlah 6 orang bersenjata parang panjang menghadang mereka, sehingga terjadi perkelahian,yg mengakibatkan jatuhnya korban  dengan luka bacok di leher dari pihak warga Sarmanauli, Belprima (21).

Karena mengetahui ada korban dari pihak mereka, warga Maduamas kembali ke TKP dengan jumlah besar sekitar 150 orang dan langsung menyerang enam warga Aceh Singkil yang masih berada di lokasi. Akibat dari serangan balasan itu, dua warga Singkil, Lasnihora dan Toko Berutu mengalami luka-luka. (HAI/Std)

 

 

 

Komentar
Sedang Loading...
Memuat