HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Peraih Nobel Perdamaian: Islam dan Terorisme Tidak ada Kaitannya

Peraih penghargaan Nobel Perdamaian Wided Bouchamaoui (tengah) di Tunis, Tunisia,l 1 Mei 2016. (Foto: AFP/FETHI BELAID)
9

HARIANACEH.co.id – Peraih penghargaan Nobel Perdamaian Wided Bouchamaoui meminta masyarakat dunia untuk tidak “mengaitkan” terorisme dengan Islam.

Pebisnis asal Tunisia itu — pendiri grup Tunisian National Dialogue Quartet yang memenangkan Nobel pada 2015 — mengatakan bahwa Muslim yang menunaikan ibadah secara damai dan terhormat menjadi “korban dari masalah semantik” saat para teroris dideskripsikan atau disebut sebagai “teroris Islam.”

“Saya rasa kita harus menyebut ‘A’ sebagai ‘A,’ bukan ‘B’,” ujar Bouchamaoui di forum PBB mengenai Budaya Perdamaian, seperti dilansir Associated Press, Kamis (1/9/2016). “Seorang teroris adalah pembunuh, seorang kriminal, dan saya bahkan berani bilang seseorang yang memanipulasi Islam,” sambung dia.

Tunisian National Dialogue Quartet disebut Komite Nobel Norwegia sebagai grup yang memberikan “kontribusi membangun demokrasi pluralistik di Tunisia” setelah terjadinya Revolusi Jasmine pada 2011.

Bouchamaoui mengklaim Tunisia berbeda dengan beberapa negara Arab lainnya karena mampu menghindari konflik dan mendorong dialog. Tunisia juga disebut mampu menegakkan demokrasi dan mengambil sejumlah langkah tegas untuk mengatasi terorisme.

Namun setelah terjadinya aksi teror di Tunisia dan di tempat lainnya, ia menyarankan “komunitas internasional untuk mencari solusi terbaik mengatasi masalah kompleks terorisme.”

“Terorisme mencoba menyerang opini publik, mencoba mengintimidasi dengan menebar ketakutan dan teror, dan tujuan para teroris tercapai di beberapa tempat,” ungkap Bouchamaoui.

Ia dan sejumlah rekannya berencana menggabungkan kekuatan untuk memerangi ekstremisme dan terorisme. “Upaya ini harus dipertimbangkan menjadi prioritas oleh PBB,” tuturnya.

Menekankan pentingnya aksi komunitas internasional, Bouchamaoui mengatakan, “saya meminta kalian semua untuk tidak mengaitkan terorisme (dengan) Islam.”

Menurut dia, dengan adanya anggapan terorisme sudah pasti terkait Islam, maka akan tercipta kebingungan di tengah masyarakat Muslim dan “bibit-bibit ekstremis yang sewaktu-waktu dapat meledakkan diri dan membunuh orang tak berdosa.”

Komentar
Sedang Loading...
Memuat