HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Di Bandara Kuala Lumpur, Seorang Diplomat Sri Lanka Diserang Orang

Utusan Sri Lanka untuk Malaysia Ibrahim Sahib Ansar menandatangani sebuah buku tamu di Malaysia pada Februari 2016. (Foto: @mjoharibaharum)
23

HARIANACEH.co.id – Seorang pejabat diplomatik Sri Lanka diserang sekelompok orang di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (4/9/2016). Ia diserang setelah menolak memberitahu keberadaan mantan Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa.

Menurut laporan kantor berita New Straits Times, serangan terhadap utusan Sri Lanka untuk Malaysia bernama Ibrahim Sahib Ansar itu terjadi pada malam hari. Kementerian Luar Negeri Sri Lanka mengutuk keras insiden tersebut.

“Komisioner Tinggi Sri Lanka di Kuala Lumpur sedang berkoordinasi dengan penegak hukum di Malaysia dan otoritas relevan lainnya untuk mengidentifikasi pelaku dan membantu proses investigasi,” jelas pernyataan resmi Kemenlu Sri Lanka, seperti dikutip asiancorrespondent.com.

“Kemenlu Sri Lanka mengambil semua langkah yang diperlukan melalui saluran diplomatik,” sambung dia.

Ibrahim, yang berada di bandara untuk mengantar Menteri Perindustrian Sri Lanka Daya Gamage, dilaporkan mengalami luka ringan dari serangan dan sudah mendapat perawatan medis.

Daya berada di Kuala Lumpur selama beberapa hari untuk menghadiri Konferensi Internasional Partai-Partai Politik Asia yang juga dihadiri Mahinda.

Mahinda Rajapaksa
Mahinda Rajapaksa. (Foto: AFP)

Inspektur Jenderal Kepolisian Malaysia Tan Sri Khalid Abu Bakar mengonfirmasi terjadinya penyerangan di Kuala Lumpur. Pihaknya saat ini sedang melacak para pelaku.

Serangan dipicu kunjungan Mahinda ke Malaysia. Kunjungan tersebut memicu protes dari sebuah grup etnis India Malaysia yang menyebut Mahinda sebagai “penjahat perang” atas kekejaman dan pembunuhan yang dilakukan pihak militer selama perang sipil Sri Lanka.

Tahun lalu, PBB mendesak pembentukan sebuah pengadilan khusus yang berisi hakim serta investigator asing, untuk menyelidiki kekejaman selama perang sipil Sri Lanka.

Zei Raad al-Hussein dari PBB menyinggung mengenai berbagai praktik kekejaman selama perang sipil Sri Lanka, termasuk penyiksaan, eksekusi, pelecehan seksual; dan serangan bunuh diri, pembunuhan dan perekrutan anak-anak oleh pemberontak.

PBB juga mendesak Sri Lanka menyingkirkan personel militer atau penegak hukum dan pejabat lainnya jika “meyakini ada dasar kuat bahwa mereka terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia” dalam perang sipil yang berlangsung selama 26 tahun dan berakhir pada 2009.

PBB diminta menginvestigasi kejahatan perang sipil di Sri Lanka
PBB diminta menginvestigasi kejahatan perang sipil di Sri Lanka. (Foto: NDTV)

Selama ini sejumlah grup HAM dan beberapa pejabat pemerintah menginginkan adanya investigasi internasional, namun selalu ditolak Sri Lanka.

Perang sipil Sri Lanka berakhir pada 2009 saat pasukan pemerintah mengalahkan pemberontak Tamil Tiger. PBB mengestimasi sedikitnya 80 ribu orang tewas dalam perang tersebut.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat