HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Pertarungan Mourinho vs Guardiola: Bicara soal Rivalitas

Ilustrasi: (MTVN/M.Rizal)
24

HARIANACEH.co.id — Akhir pekan ini, Stadion Old Trafford akan jadi saksi sejarah bertemunya kembali dua musuh bebuyutan, Jose Mourinho dan Josep Guardiola. Kedua pelatih jenius ini akan kembali beradu cerdik dan intrik dalam laga bertajuk Derby Manchester.

Sebelum menyaksikan kedua pelatih hebat di atas beradu taktik di lapangan pada Sabtu 10 September nanti, tidak ada salahnya mengingat kembali sejarah rivalitas kedua pelatih.

Mou dan Pep tercatat sudah 16 kali bentrok. Dan selama itu, pertemuan keduanya kerap menghadirkan cerita yang menarik untuk diikuti.

Ilustrasi. (MTVN)
Ilustrasi. (MTVN)

Berikut rangkuman cerita dan momen menarik hingga kontroversi yang terjadi saat kedua pelatih yang dulunya bekerja sama di Barcelona itu beradu strategi.

1. Guardiola/Barcelona vs Mourinho/Inter Milan
(4 Kali Bentrok: Guardiola 2 kali menang, Mourinho 1 kali menang)

Pertemuan pertama Mou dan Pep tersaji di Giuseppe Meazza pada leg pertama babak penyisihan grup Liga Champions 2009–2010. Di laga itu, Inter dan Barca harus puas berbagi angka 0-0.

Namun pada leg kedua di Camp Nou, Inter harus mengakui keunggulan Barcelona yang menang 2-0. Padahal di laga tersebut, Guardiola tidak memainkan Lionel Messi dan Zlatan Ibrahimovic. Pedro Rodriguez dan Gerard Pique tampil sebagai bintang lewat golnya ke gawang Julio Cesar.

“Secara kualitas dan individu kami kalah dari Barca. Tapi jika besok kami harus berhadapan lagi dengan Barcelona, saya pastikan kami siap. Jika Anda mengatakan Inter dan Barca akan bertemu lagi di semifinal, saya akan senang menerimanya,” ujar Mourinho usai pertandingan.

Celotehan Mou saat itu ternyata jadi kenyataan. Barca dan Inter kembali bertemu di babak semifinal. Dan pelatih asal Portugal itu berhasil menuntaskan janjinya untuk balas dendam.

Pada pertemuan pertama di Milan, Mou sukses memaksa Guardiola tunduk dengan skor 3-1. Tak puas dengan kemenangan tersebut, Mou kemudian mengecam klaim penalti Guardiola terkait pelanggaran yang dilakukan pemain Inter terhadap Dani Alves.

“Tahun lalu, Chelsea menangis dan Barcelona tertawa bersama wasit,” ujar Mourinho merujuk pada kemenangan kontroversial Barcelona atas Chelsea (saat itu dilatih Guus Hiddink) di Stamford Bridge, di mana wasit Tom Henning Ovrebo menolak sejumlah klaim penalti para pemain Chelsea.

Ilustrasi (MTVN)
Ilustrasi (MTVN)

Pada pertemuan kedua di Camp Nou, Mourinho tetap bahagia meski timnya kalah 0-1. Ia bahagia karena timnya berhasil lolos meski harus bermain dengan 10 pemain lantaran Thiago Motta diganjar kartu merah langsung oleh wasit di babak pertama.

“Ini adalah kekalahan terindah dalam karier saya. Ini masalah harga diri bukan skill. Kami adalah tim yang berisikan para pahlawan. Saya sudah pernah memenangi Liga Champions, tapi kebahagiaan yang saya rasakan hari ini lebih baik dari itu. Kami membuat pengorbanan besar,” kata Mou di konferensi pers usai laga.

Tawa Mourinho makin lebar lantaran Inter berhasil dibawanya tampil sebagai kampiun Liga Champions. Inter sukses menyabet treble winner di musim 2009–2010, atau menyamai rekor yang ditrorehkan Guardiola bersama Barcelona setahun sebelumnya.

2. Guardiola/Barcelona vs Mourinho/Real Madrid
(11 kali bentrok: Guardiola 5 kali menang, Mourinho 2 kali menang)

Rivalitas antara Mourinho dan Guardiola makin menjadi-jadi saat Mourinho meninggalkan Inter dan menerima pinangan Real Madrid. Selama dua musim beradu taktik, cerita menarik selalu tersaji di El Clasico.

Pada El Clasico pertamanya, Mourinho dibuat malu oleh Guardiola. Madrid dibantai 5-0 oleh Barcelona. “Saya bangga karena seluruh dunia melihat bagaimana kami bermain sepak bola,” ujar Mourinho kala itu.

Setelah pertandingan itu, Madrid dan Barca harus berduel empat kali hanya dalam kurun waktu dua pekan. Mereka masing-masing satu kali bentrok di La Liga dan Copa Del Rey serta dua laga di babak semifinal Liga Champions.

Di pentas La Liga, hasil imbang 1-1 membuat Barca keluar sebagai juara La Liga. Namun, empat hari berselang giliran Madrid yang berpesta usai mengalahkan Barca 1-0 lewat gol Cristiano Ronaldo di babak extra time. Madrid berpesta karena menggondol trofi Copa del Rey yang belum mereka raih dalam 18 tahun terakhir.

Perang statement antara Guardiola dan Mou kembali pecah usai pertandingan. Hal ini dipicu kekecewaan Pep pada hakim garis yang menilai Pedro sudah berada dalam posisi offside sebelum mencetak gol yang menurut Pep bisa jadi keuntungan Barca andai hakim garis tidak keliru mengambil keputusan. Sebab, itu adalah gol pembuka dalam laga itu.

Mourinho langsung merespons pernyataan tersebut jelang bentrok ketiga di leg pertama babak semifinal Liga Champions.

“Hingga kini, ada kelompok kecil pelatih yang tidak suka berbicara tentang wasit, sementara mayoritas dari mereka selalu mengeluh soal kinerja wasit.” Mou juga mengatakan bahwa Pep adalah satu-satunya pelatih yang mengeluh saat wasit membuat keputusan yang tepat.

Pep tidak terima dengan komentar tersebut. “Besok jam 8.45 malam, kami akan kembali berhadapan di lapangan. Di luar lapangan, dia (Mourinho) adalah juara. Jadi, kita berikan saja trofi Liga Champions kepadanya untuk hal itu.”

Guardiola memegang kata-katanya bahwa Mourinho hanya unggul darinya di luar lapangan. Dia sukses membawa Barca menang 2-0 di Santiago Bernabeu pada leg pertama dan bermain imbang 1-1 di leg kedua. Hasil itu cukup membawa Barca lolos ke final.

Bagi Mourinho, kekalahan 0-2 pada leg pertama merupakan pertandingan kelima secara beruntun ia harus menerima fakta pemainnya mendapat kartu merah. Pada laga tersebut, giliran Pepe yang diusir wasit karena mengasari Messi.

Komentar pedas pun kembali terlontar dari mulutnya. Ia merasa Guardiola dan Barcelona kerap mendapat bantuan dari wasit (UEFA) karena mereka disponsori oleh organisasi kemanusiaan, UNICEF.

“Suatu saat nanti, saya ingin melihat Josep Guardiola memenangi kompetisi ini dengan benar, tanpa skandal. Saya tidak tahu apakah ini karena UNICEF atau karena mereka orang yang menyenangkan. Yang jelas mereka (Barcelona) memiliki power sehingga kami tidak punya peluang (menang),” kata Mourinho yang akhirnya harus menerima sanksi larangan mendampingi Madrid.

Perseteruan antara Mourinho dan Guardiola secara tak langsung menular kepada para pemain di lapangan. Para pemain kerap mempertontonkan permainan kasar setiap kali bentrok.

Puncaknya terjadi pada ajang Piala Super Spanyol. Sebuah tekel yang dilancarkan Marcelo kepada Cesc Fabregas memicu kericuhan antar pemain di pengujung laga yang berkesudahan 3-2 untuk kemenangan Barcelona.

Tak hanya pemain, staf pelatih dari kedua tim juga tak kuasa meredam emosinya. Mourinho bahkan tertangkap kamera mencolok mata asisten pelatih Barcelona, Tito Villanova.

Mourinho mengatakan, kericuhan tersebut terjadi lantaran para pemain Barca tidak bermain selayaknya pria karena kerap melakukan diving.

“Kami hanya mencoba bermain selayaknya pria dan tidak mudah jatuh hanya karena sedikit kontak. Saya selalu mengajarkan pemain untuk bermain seperti pria bukan untuk jatuh terlebih dulu,” ujarnya.

Di musim terakhir pertemuan keduanya di Spanyol, Mourinho mengawali persaingan dengan buruk. Madrid takluk 3-1 di pertemuan pertama.

Mou juga kembali tertunduk di ajang Copa del Rey lantaran Barca menang 2-1 di Santiago Bernabeu dan imbang 2-2 di Camp Nou. Barca keluar sebagai juara di ajang ini.

Namun, kekecewaan Mou berakhir manis di akhir musim. Pada El Clasico penentu di Camp Nou, Madrid sukses mengalahkan Barca 2-1 yang sekaligus mempermudah jalan Mou untuk memberikan trofi La Liga untuk Madrid.

“Kami tidak bisa selalu bermain di atas standar, tapi mengecewakan bahwa kami justru kehilangan permainan kami di momen yang menentukan,” ujar Guardiola usai pertandingan itu. Adapun, Mourinho menolak memberikan komentar pasca-pertandingan.

Di akhir musim, Guardiola memutuskan meninggalkan Barca dan mengambil cuti dari dunia kepelatihan. Mourinho pun berkomentar terkait keputusan rivalnya itu. “Itu adalah hidupnya, tapi saya pribadi tidak pernah berpikir untuk cuti. Dia lebih muda dari saya, tapi saya belum lelah.”

3. Guardiola/Bayern Muenchen vs Mourinho/Chelsea
(1 kali bentrok: imbang–Guardiola menang adu penalti)

Setelah satu tahun cuti, Guardiola akhirnya memutuskan turun gunung dan menangani Bayern Muenchen. Adapun Mourinho menukangi Chelsea.

Namun takdir kembali mempertemukan mereka pada Agustus 2013. Muenchen sebagai jawara Liga Champions bentrok dengan Chelsea yang menyandang predikat kampiun Liga Europa.

Mourinho lagi-lagi harus menelan kecewa di akhir laga. Gol Hazard di awal babak extra time nyaris mengantar Chelsea jadi juara andai Javi Martinez tidak mencetak gol penyeimbang pada menit akhir dan membawa laga ke babak adu penalti.

Di laga itu, Mourinho juga harus bermain dengan 10 pemain usai Ramires diganjar kartu merah pada menit ke-85. Chelsea akhirnya kalah 5-4 (2-2) via adu penalti.

Hasil ini tentunya mengecewakan buat Mourinho. Sebab ia merasa timnya bermain lebih baik dari anak-anak asuh Guardiola. “Tim yang lebih baik harus kalah,” katanya.

Mourinho makin dibuat sewot lantaran seorang jurnalis meminta komentarnya terkait rekornya yang cukup buruk saat berhadapan dengan Guardiola. Sebagai informasi, dalam 16 kali bentrok, Mourinho hanya tiga kali menang atas Guardiola. Tujuh lainnya berakhir kekalahan.

“Statistik Anda salah, benar-benar salah. Coba lihat lagi apa yang terjadi dengan Inter Milan di semifinal Liga Champions. Saya juga memenangi Piala Super Spanyol di Valencia, juga juara di Liga Spanyol. Saya memenangi pertandingan perebutan gelar di Barcelona dengan Madrid. Mungkin Anda benar, saya salah. Tapi saya tidak peduli. Itu tidak penting,” ujarnya.

Kini, setelah tiga musim tidak beradu strategi, Mourinho dan Guardiola akan kembali melanjutkan rivalitas mereka di Old Trafford. Siapa yang akan keluar sebagai pemenang? Saksikan saja pertandingannya.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat