HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Sebenarnya, Mario Teguh Sudah Menentang Hukum Tuhan

5

HARIANACEH.co.id – SUPER SEKALI…. Itulah kalimat yang sering diungkapkan oleh motivator Mario Teguh kepada audiens dalam setiap acaranya, dimana pun dan kapan pun.

Tidak hanya kalimat itu saja yang sering diucapkannya, Mario Teguh juga sering mengatakan, “Jujurlah terhadap diri sendiri dan orang lain.”

Tentu saja, semua rangkaian kata yang disampaikannya membuat para pendengarnya tertegun kagum. Sebab, setiap rangkaian katanya mengandung energi yang mampu membangkitkan semangat dan merangsang rasa percaya diri.

Namun kini, semua rangkaian katanya itu menjadi hancur berantakan. Tak ada lagi makna yang tersisa dalam setiap kata-katanya. Terutama ketika secara tiba-tiba muncul seorang pemuda yang menyapanya bapak, malah disambutmya dengan membuang muka.

Pemuda itu bernama Ario Kiswinar Teguh. Sontak, kasus ini pun ibarat bom yang meledak di tengah orang-orang yang sedang terlena mendengarkan lagu merdu berjudul ‘Jujurlah pada Diri Sendiri’.

Pengang telinga ini rasanya, ketika mendengar ledakan itu. Ternyata orang yang selama ini selalu memotivasi masyarakat, justru menyimpan bom yang ledakannya mampu membalikkan 360 derajat dari setiap ucapannya.

Dengan lantangnya, Mario Teguh menantang pemuda itu agar melakukan tes DNA. Artinya, secara eksplisit Mario benar-benar mengatakan, “lo bukan anak gua, tapi anak orang lain yang numpang di janin bini gua.”

Padahal, jika mendengar cerita adik kandung Mario sendiri, Permata Kurama, atau bibi dari Ario, bahwa saat Ario di dalam kandungan, Mario bernazar, jika bayi itu lahir selamat, maka ia akan naik ke atas rumah untuk berkokok seperti ayam. Dan, ketika Ario lahir, nazar itu pun dilakukannya.

Bahkan, kehidupan rumah tangganya normal, sebelum datang pihak ketiga, yang justru dari pihak Mario sendiri, hadir di tengah kebahagiaan keluarga itu. Sejak saat itulah, kata Kurama, Mario malah menuding istrinya selingkuh. Bahkan kerap mengatakan, “Kok anakku rambutnya ikal, beda dengan bapaknya?”

Saking seringnya ucapan itu disampaikan Mario dengan nada sinis, Aryani, sang istri pun akhirnya secara refleks menjawab, “dia memang bukan anakmu.”

Akumulasi pertengkaran akhirnya membuat Mario meninggalkan istri dan anaknya, Ario, di saat usianya 7 tahun. Pertemuan terakhir Mario dan Ario terjadi 13 tahun lalu, saat usianya sudah 17 tahun. Sejak itulah, Mario benar-benar memutuskan hubungannya dengan anaknya. Bahkan, menurut Kurama, hubungan dengan saudara-saudara kandungnya pun diputuskan.

Jika Mario tidak menganggap anak kepada Ario hanya karena beda bentuk rambut, jelas ini suatu dosa besar. Sebab, perbedaan itu secara bilogi bisa saja terjadi karena faktor genetik. Dalam ilmu kedokteran, keturunan sangat dipengaruhi oleh faktor gen. Faktor itu bisa hadir dari ibu, bapak, kakek, nenek, baik dari pihak lelaki maupun dari perempuan.

Persoalan faktor genetik pun sudah terjadi sejak dahulu kala. Karena Mario pemeluk Islam, maka rujukannya adalah AlQur’an dan Alhadits.

Dalam Hadits Bukhari No.4893 secara lengkap disebutkan, “Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Quza’ah] , Telah menceritakan kepada kami [Malik] dari [Ibnu Abbas] dari [Sa’id bin Al Musayyab] dari [Abu Hurairah] bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, isteriku telah melahirkan anak yang berkulit hitam.”

Beliau bertanya: “Apakah kamu memiliki beberapa ekor Unta?” laki-laki itu menjawab, “Ya.” Beliau melanjutkan bertanya: “Lalu apa saja warna kulitnya?” Ia menjawab, “Merah.” Beliau bertanya lagi: “Apakah di antara Unta itu ada yang berkulit keabu-abuan?” laki-laki itu menjawab, “Ya.” Beliau bertanya: “Kenapa bisa seperti itu?” laki-laki itu menjawab, “Mungkin itu berasal karena faktor keturunan.” Beliau bersabda: “Mungkin juga anakmu seperti itu (karena factor keturunan).”

Rujukan hadits itu pada prinsifnya sudah menjawab tudingan Mario terhadap anak dan istrinya (mantan), soal perbedaan bentuk rambut. Bukan tidak mustahil, tudingan itu hanya selimut yang menutupi aibnya sendiri. Khususnya di saat hadirnya pihak ketiga di hati Mario.

Rasulullsh SAW bersabda:”…, pria adalah pemimpin di dalam keluarganya, dia akan ditanya tentang kepemimpinannya.. (HR Bukhari Muslim).

Sebagai kepala keluarga, tampak jelas bahwa Mario bukanlah cermin seorang pemimpin keluarga. Ia lebih mengedepankan ego sentrisnya, ketimbang posisinya sebagai pimpinan keluarga.

Sebagai mahluk ber-Tuhan, Mario juga telah menentang firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” [QS At Tahrîm: 6] .

Dalam hal ini, masih layakkah seorang Mario disebut sebagai seorang yang beriman? Karena dia tidak lagi memelihara dirinya dan keluarganya dari ‘neraka’ kehidupan keluarganya. Neraka itu sudah dialaminya saat ini.

Artinya, apa yang telah terjadi dalam kehidupan Mario Teguh, sang motivator kenamaan itu, ternyata berupa cermin buruk bagi masyarakat. Tak layak lagi bagi kita terpana dengan kata-kata yang dirangkainya. Semua rangkaian kata yang Super Sekali itu hanya patamorgana.

loading...