HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Menyusuri Keindahan Pemukiman Kuno Krueng Raya

4

HARIANACEH.co.id — Krueng Raya, sebuah distrik atau mukim yang terletak nun jauh dari sebuah cerita kesuksesan pariwisata di provinsi terbarat Indonesia, Aceh. Dahulu menurut cerita yang saya dengar, Mukim ini pernah berjaya kala Portugis berusaha mati-matian ingin menguasai selat Melaka. Krueng Raya juga pernah jaya dalam kancah sejarah kala Lamuri, sebuah kerajaan hindu tua di Aceh yang hilang kembali ditemukan. Di Mukim terujung Aceh Besar sebelah timur ini juga pernah berjaya dengan pelabuhan penyeberangan Banda Aceh – Pulau Weh. Jauh, sebelum Ulee Lheue kembali mengambil peran lamanya. Lalu, apa jadinya Krueng Raya hari ini? Percayalah, tak lebih dari sebuah distrik mati nan sepi.

Beberapa waktu lalu, rasa penasaran saya berhasil menuntun saya untuk menyambangi Pemukiman sunyi ini. Mirip seperti kota mati. Tak banyak penduduk yang berlalu-lalang. Beberapa kantor administrasi pemerintahan ataupun lembaga terkesan sepi dan tak ada aktifitas. Jalanan yang lengang, sesekali hanya sapi dan kambing yang melintas.

Pantai Ujung Batee Puteh Krueng Raya (yudi)
Pantai Ujung Batee Puteh Krueng Raya (yudi)

Menyusuri Jejak Laksamana Perempuan Pertama Di Dunia

Mobil yang saya tumpangi terus melaju melewati Pelabuhan Barang Keumalahayati. Jalanan yang rata berubah menjadi berbukit-bukit. Mobil mini bus putih ini terus menanjak naik sampai akhir  berhenti tepat di atas sebuah tanjakan, lalu mengambil haluan ke kiri.

“Turun dulu Bang, kita akan lihat pemandangan Teluk Krueng Raya secara utuh dari atas sini” ujar bang Faisal yang langsung sigap dengan mematikan mesin mobil lalu mempersilahkan saya turun dan merekam sebuah pemadangan yang luar biasa tersaji.

Beberapa kapal nelayan, terlihat berwarna-warni dan seperti  disusun secara beraturan dan berjejer. Tak bergerak. Ada dua buah kapal besar yang sedang melakukan bongkar buat. Selebihnya, beberapa boat nelayan hilir mudik mencari ikan di sekitar teluk. Di ujung mata memandang, bukit hijau berdiri tegak. Seolah menghalau awan dan angin yang hendak menciptakan gelombang laut. Saya terdiam seketika. Menikmati sebuah pemandangan bak sebuah lukisan tangan seorang pelukis handal, tapi, ini nyata. Bukan lukisan.

Belum lama mobil menempuh jalanan yang terjal, Bang Faisal dengan sigap mengambil haluan ke kiri. Ternyata kami dibawa ke benteng Inong Balee (wanita Janda). Benteng Inong Balee adalah sebuah benteng peninggalan Laksamana Keumalahayati. Benteng ini di bangun sebagai benteng pertahanan dan pusat logistik kapal perang Aceh di jaman kesultanan Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1589-1604 M).

Disebut sebagai Inong Balee atau wanita janda, karena kala itu, Sang Laksamana mengumpulkan para janda yang suaminya telah menjadi korban perang melawan Penjajah Portugis. Lalu, sejarah mencatat bagaimana kemasyhuran sepak terjangnya. Ia, berhasil mengumpulkan 2000 orang wanita yang kesemuanya adalah wanita janda perang. Tembok kokoh berdiri.  Di pesisir pantai krueng raya berjejer kapal perang yang gagah pada masanya berderet rapi. Bersiap untuk menggerayangi setiap jengkal kapal penjajah yang nakal memasuki perairan Aceh.

Pernah terjadi pertempuran besar di mana pasukan Portugis dipimpin Cornelis de Houtman menggempur pertahanan pasukan Kerajaan Aceh di Benteng Inoeng Balee. Namun serangan itu berhasil dipatahkan, dan bahkan Cornelis de Houtman harus kehilangan nyawanya ditangan sang laksamana. Saya seolah terbawa ke masa keemasan Sang Laksamana Keumalahayati kala itu.

Di hadapan saya, hamparan pepohonan yang hijau berdiri mengikat batu belikat yang membentuk dinding tua. Tapi, itulah dia, sisa dari benteng hebat sang Laksamana Keumalahayati-arti dari namanya adalah cahaya hatiku-yang pernah menjadi cahaya bagi seluruh kaum wanita Aceh sampai hari ini. Cut nyak dhien, pun terkesima dibuat olehnya. Langkah Cut Nyak Dhien menjadi seorang pemimpin perang tak luput dari inspirasi sang Laksamana.

Dinding itu masih cukup kokoh, walaupun benteng tak berbentuk lagi. Beberapa pengunjung dari Jakarta, terlihat sibuk menyusuri setiap inci dari sisa-sisa benteng kuno itu. Di sisi lain dari benteng tersebut, ada sebuah makam tua dengan nisan yang mirip dengan nisan lamuri. Istri saya mencoba membaca tulisan arab yang terpatri di nisan tersebut. 1206 M “Selebihnya adek nggak tahu bang” jawabnya kala saya meminta menerjemahkan yang lainnya.

Bukit Ujung Batee Puteh

Angin Timur mulai berhembus kencang, saya, istri dan bang Faisal sedikit meragu ketika melanjutkan trip sehari menyusuri Mukim Kuno ini. Bukan apa-apa, Banda Aceh dan sekitarnya masih musim hujan. Kami ingin menaiki sebuah bukit yang katanya ada pemandangan seperti di Irlandia. Bukit ini, berada tak jauh dari benteng Inong Balee. Dari Benteng, kira-kira 15 menit berkendara ke arah timur. Jauh terus memasuki ke daerah perbukitan mukim Krueng raya.

Suara hiruk pikuk pelabuhan kini berganti dengan ciutan burung perkutut dan burung hutan. Sesekali, terlihat sapi merumput di punuk bukit yang hijau. Sejauh mata memandang, hanya hamparan hijau yang menenangkan mata terlihat. Sampai –lagi-lagi- bang Faisal berbelok ke arah kiri.  Tak jauh dari jalan aspal berbukit, saya disuguhkan sebuah pemandangan yang unik.

Jalanan berbatu ini berakhir pada pasir hitam halus yang berwarna legam, seolah menjadi kontras kala berpadu dengan tebing putih yang gagah. Tebing Putih terjal tinggi menjulang. Beberapa pohon tumbuh di sisi tebing kapur yang putih beradu hijau ini, menjadikannya sebagai hal yang indah dan unik. Pesona pantai yang terletak di Kilometer 47 dari Banda Aceh menuju ke kreung raya ini, akan semakin indah ketika saya berada di puncak bukitnya.

Lelah, penat, dan peluh bercampur menjadi satu. Saya hanya bisa terduduk lemas sesampai di puncak bukit Batee Puteh (Batu Putih) ini. Pandangan saya lemparkan ke hamparan laut yang biru muda dan hijau toska. Sesekali terlihat elang elang putih terbang tinggi mengangkasa lalu menukik tajam di punggung laut. Di sisi selatan bukit, terlihat tebing yang curam sembilan puluh derajat. Berdiri kokoh berwarna putih. Menjadikan pemandangan di sini seperti layaknya di negeri subtropics. Seketika lelah, dan penat saya hilang. Hanya rasa tenang, nyaman, dan bahagia yang saya rasakan. Dari atas bukit batu putih ini pula, kesan kota mati ataupun kota para janda menghilang. Semuanya tersaji indah di hadapan saya.

Di sebelah utara, dari atas bukit, terlihat sebuah pantai dengan pasir berwarna putih bersih. Debur ombak yang mengalun lembut, pepohonan yang tumbuh rapat-rapat nan hijau. Berbanding terbalik dengan sisi selatan bukit. Dan, inilah uniknya. Bukan hanya tebing bukit kapur berwarna putih, melainkan saya langsung diperlihatkan dua pemandangan unik sekaligus.

Makam Laksamana Keumalahayati

Mobil putih yang sudah tak karuan warnanya ini karena berkalang lumpur kembali ke jalanan aspal. Memacu sedikit kencang lalu berbelok ke kiri lagi. Tepat di depan pelabuhan Keumalahayati. Ternyata, Bang Faisal ingin menuntaskan seluruh rangkaian cerita dari Mukim Kuno Krueng Raya hari ini. Ia memutuskan mengajak saya dan istri mengunjungi makam sang pencetus emansipasi wanita pertama kalinya dalam dunia kemiliteran dunia. Dialah, Laksamana Keumalahati.

Setelah wafat dalam pertempuran di teluk Krueng Raya, beliau disemayamkan tak jauh dari benteng Inong Balee. Di sebuah bukit kecil yang berpagar beton putih tersusun mengular mengelilingi bukit. Letaknya tak jauh dari pelabuhan Krueng Raya. Pepohonan besar menjulang tinggi. Memayungi areal makam dari panasnya sinar mentari siang itu. Saya dan istri menapaki anak tangga yang terus naik sampai ke puncak bukit.

Ada tiga makam yang dinaungi cungkup. Di sana, terbaring jasad Laksanama Keumalahayati, suaminya dan anaknya. Dipusara Nisan yang berbentuk caping itu, saya duduk terdiam dan termenung. Merenungi semua kisah hebatnya berjuang demi tanah negeri tercintanya dari tangan-tangan penjajah.

Perjalanan singkat hari itu, menyusuri sebuah pemukiman kuno yang berdasarkan beberapa literature sejarah telah berdiri sejak abad ke 11 Masehi, berhasil membuka pandangan mata saya. Sebuah tempat yang sunyi, dan indentik sebagai sebuah kota mati, ternyata menyimpan begitu banyak cerita. Terlebih lagi, di Mukim Kuno itu pula terbaring seorang wanita hebat, yang menjadi pelopor emansipasi dalam dunia kemiliteran dunia. Dari bukit yang terkesan ditinggalkan ini, saya belajar banyak hal. Paling tidak, saya belajar mencintai Aceh dengan semua kisah klasiknya.

loading...