HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Ketika Mengalami Serangan Jantung Koroner Lakukanlah 2 Hal Ini

4

HARIANACEH.co.id – Survei yang digelar Sample Registration System (SRS) pada 2014 menunjukkan, penyakit jantung koroner menduduki peringkat kedua (12,9 persen) sebagai penyebab kematian tertinggi setelah stroke (21,1 persen).

Jantung koroner terjadi karena adanya penyempitan pembuluh darah koroner yang mengeras (ateroklerosis). Hal ini disebabkan berbagai faktor risiko, seperti tekanan darah dan kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, penyakit kencing manis, serta keturunan.

Dr dr. Ismoyo Sunu, SpJP(K), FIHA, FasCC (Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia-PERKI) menjelaskan, serangan jantung ditandai gejala yang sering diabaikan  penderitanya, bahkan tidak diduga sebagai penyakit jantung sama sekali.

“Keluhan biasanya seperti rasa tidak nyaman di dada selama lebih dari 20 menit, itu sering keliru dikira masuk angin biasa,” ujarnya, memberi contoh dalam diskusi bertajuk ‘Kenali Faktor Risiko Penyakit Jantung & Pencegahannya,’ di Jakarta, Kamis (22/9/2016).

Kondisi tak nyaman tersebut biasanya terasa ‘tajam’ pada bagian belakang tulang dada (bisa di kiri atau kanan). Selain itu, ada gejala lain seperti keringat dingin, ketakutan, atau pingsan. Rasa sakit bisa menjalar ke lengan, leher, hingga penderita merasa seperti tercekik, dengan berbagai titik nyeri di tubuh.

Munculnya serangan jantung juga bisa menyerang bagian pencernaan, dengan gejala sakit perut layaknya maag.

Bila Anda mengalami ciri seperti di atas, Anda perlu melakukan beberapa langkah ini sembari menunggu bantuan medis datang.

1. Tetap tenang dan jangan gelisah. Kemudian posisikan tubuh setengah duduk. Jangan makan atau minum apa pun karena minum atau makan dalam posisi tersebut dapat mengalirkan darah berlebih ke arah paru-paru.

Normalnya, darah akan naik ke jantung pada saat seseorang makan atau minum. Namun, saat terjadi serangan jantung, darah tertahan di paru-paru.

2. Segala bentuk aktivitas harus dihentikan saat merasakan serangan. Sebab, saat serangan tubuh dalam kondisi kekurangan oksigen, sementara bergerak membutuhkan oksigen.

Bila ingin mendeteksi apakah tanda tersebut merupakan serangan jantung atau bukan, Ismoyo menyarankan untuk mengeceknya melalui pola pernapasan. “Bila Anda bernapas dalam-dalam dan terjadi perubahan, itu bukan serangan jantung karena penyakit ini tidak memengaruhi paru-paru,” kata dia.

loading...