HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Bunyi yang Sama Banyak Digunakan Bahasa di Dunia untuk Arti Serupa

8

HARIANACEH.co.id – Dunia memiliki hampir 7.000 bahasa. Bunyi atau suara yang sama kerap dikeluarkan dalam kata-kata.

Menurut sebuah studi dalam catatan National Academy of Sciences, banyak lidah di dunia menggunakan suara atau bunyi yang sama dalam kata-kata mereka terhadap hal-hal yang bermakna sama.

Dalam penelitian untuk Scientific American, Anne Pycha mencatat beberapa contoh utama: bunyi R sering muncul dalam kata-kata untuk merah. Seperti rojo di Spanyol, rot di Jerman, piros di Hungaria, kirmizi di Turki, kura di Maori, dan rouge di Perancis.

Demikian pula, orang di seluruh dunia menggunakan bunyi sengau n yang berarti schnoz atau hidung seseorang. Seperti nose dalam bahasa Inggris, burun (Turki), dan hana (Jepang).

Selama lebih dari satu abad, para ahli bahasa telah mengatakan bahwa hubungan antara bunyi kata-kata dengan maknanya, sama sekali bukan berdasarkan akal sehat. Tapi studi yang dipimpin oleh linguis Damián Blasi dari University of Zurich, menunjukkan bahwa ada lebih banyak hal yang terjadi.

Blasi dan timnya membandingkan daftar kata-kata umum dari 4.298 bahasa di seluruh dunia. Mereka menggali kesamaan dalam cara membunyikan suara dalam berbagai kelas yang berbeda dari pelbagai rumpun bahasa. Mulai dari kata-kata tentang bagian-bagian tubuh untuk kata sifat, ke kata ganti untuk kata kerja tentang objek di alam.

“Analisis menunjukkan bagaimana bunyi-bunyi tertentu yang disukai atau dihindari dalam sebagian besar kata di seluruh benua dan rumpun bahasa oleh orang-orang dari konteks budaya, sejarah, dan geografis yang sangat berbeda,” kata Blasi seperti dikutip New York Magazine.

Analisis itu tampak seperti contoh lain dari “efek kiki/bouba”: Jika Anda menunjukkan gambar di bawah ini untuk anak-anak atau orang dewasa, mereka akan menyebut bahwa gambar berbentuk runcing di sebelah kiri dengan “kiki” dan yang bulat di sebelah kanan sebagai “bouba.”

Sudut runcing dari bentuk kiki sesuai dengan penyebutan “tajam”, dan kurva dari bouba cocok dengan pengucapan kata “bujur”.

Dalam studi linguistik kuantitatif terpisah yang muncul tahun ini, para peneliti menemukan bahwa di AS, nama laki-laki cenderung “disuarakan” lebih keras (seperti Adam atau Ian) sedangkan nama perempuan cenderung lebih lembut dan “tak bersuara” (seperti Hope dan Tina).

Terlihat seperti ada sesuatu dari efek yang sama terjadi di sini. Bunyi “T” sering digunakan dalam kata-kata untuk batu atau stone, menurut temuan tim Blasi, dan suara S sering digunakan dalam kata-kata untuk pasir (sand). Karena batu yang pipih dan sulit untuk disentuh, bunyi T membuatnya intuitif, terasa sinestetik (menimbulkan sensasi); sama dengan S untuk sifat licin, gembur, dan lincir dari pasir.

Walaupun riset Blasi tidak menyeluruh, namun cukup memberi kesan bahwa pelbagai budaya di seluruh dunia ternyata memiliki kesamaan dalam menarik beberapa kesimpulan fonetik yang sama.

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time