HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Iran Bakal Jadi Kekuatan Besar Jadi Sebuah Kekhawatiran Donald Trump

8

HARIANACEH.co.id – Calon Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik Donald Trump, menuduh rivalnya, Hillary Clinton, berupaya untuk mengubah Iran menjadi negara yang memiliki kekuatan besar.

Tuduhan ini disampaikan Trump dalam Debat Calon Presiden AS 2016 di Hofstra University, New York, Senin 26 September malam waktu setempat atau sekitar pukul 8.00 pagi Selasa 27 September.

“Kesepakatan dengan Iran adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan sebuah negara di dalam sejarah. Uang sebesar USD400 juta termasuk dalam kesepakatan itu,” ucap Trump.

“Saya bertemu dengan (PM Benjamin) ‘Bibi’ Netanyahu beberapa hari lalu. Percaya dengan saya, dia sangat marah,” tutur Trump.

Clinton pun menanggapi ucapan Trump terkait isu Iran itu. Menurut mantan Menlu AS itu, Trump tidak menjelaskan pemecahan permasalahan mengenai Iran.

“Tidak diragukan lagi kalau kita punya masalah dengan Iran dan Donald (Trump) tidak pernah mengatakan kepada Anda apa yang harus dilakukan. Apakah kita harus mengebom Iran?” tanya Clinton.

“Seharusnya dia memberikan alternatif pemecahan permasalahannya. Ini sama seperti rencananya melawan ISIS. Dia punya rencana rahasia, tetapi satu-satunya rahasia adalah, dia tidak punya rencana sama sekali,” ungkapnya.

“Apakah AS akan memimpin dunia dengan kekuatan yang sesuai dengan nilai masyarakat kita? Hal tersebut yang ingin saya lakukan. Kita tidak bisa membiarkan mereka yang mencoba membuat tidak stabil, diberikan kesempatan,” tegasnya.

Clinton usai debat Capres AS
Clinton usai debat Capres AS (Foto: AFP)

Beberapa fakta mengenai kesepakatan nuklir AS dengan Iran. Menurutnya kesepakatan itu melibatkan uang sebesar USD400 juta dan Clinton bertanggungjawab.

Menurut Guardian, Selasa 27 September, Clinton tidak memiliki peran apapun dalam kesepakatan uang USD400 juta sebagai bagian dari ganti rugi atas kesepakatan senjata antara pemerintahan Iran sebelum revolusi dengan AS di era 1970.

Kementerian Luar Negeri AS di masa John Kerry saat ini mengakui bahwa ingin menggunakan uang untuk pembebasan pelaut AS. Meskipun uang itu ditransfer melalui pengadilan internasional. Uang itu dikirim melalui mata uang asing karena hukum di AS melarang transaksi dalam dolar dan adanya sanksi yang membuat transaksi itu menjadi sulit.

Selain itu Pemerintah AS tidak menyerahkan uang mereka sendiri kepada Iran sebagai bagian kesepakatan senjata nuklir internasional, untuk mencegah pengembangan senjata. Kesepakatan itu justru mengatur untuk mencairkan kembali aset milik Iran secara bertahap, yang sebelumnya dibekukan terkait program nuklir Iran.

Kemudian, tidak ada bukti bahwa penangkapan singkat dari 10 anggota Angkatan Laut memiliki efek pada kesepakatan nuklir AS-Iran ini, karena sudah disepakati lima bulan sebelumnya. Meski hubungan kedua negara sempat terganggu, kesepuluh pelaut itu akhirnya dibebaskan.

Apa yang akan dilakukan oleh Iran berikutnya akan menjadi pertanyaan terbuka. Sementara argumen Clinton dalam debat ini memperlihatkan keyakinan bahwa Iran akan mengikuti syarat-syarat dari kesepakatan.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat