HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Ini Perbedaan Suni Dan Syiah

Para peziarah Syiah berdoa di makam Imam Hussein di Karbala, Irak, pada Desember 2015. Setiap tahun, jutaan jemaah mengunjungi kota itu merayakan Arbaeen, hari terakhir dari masa berkabung 40 hari mengenang wafatnya Imam Hussein.
47

HARIANACEH.co.id – Konflik Syiah dan Suni makin mengemuka dalam beberapa tahun terakhir di kawasan Timur Tengah, setelah meletusnya perang saudara di Suriah dan Yaman, kehadiran kelompok Islamic State di Suriah dan Irak, dan terakhir eksekusi seorang ulama Syiah oleh Arab Saudi.

Puncak dari konflik ini adalah keputusan Saudi, yang mayoritas Suni, untuk memutus hubungan diplomatik dengan negara Syiah, Iran.

Iran, satu-satunya negara non-Arab di kawasan Teluk, memang acap kali dianggap sebagai musuh bersama sehingga pada 1980an ketika terjadi perang panjang Iran-Irak, banyak negara Arab yang mendukung Irak.

Namun sebetulnya komunitas Syiah tersebar di banyak negara, termasuk Irak, Lebanon, dan Arab Saudi sendiri. Dan sesungguhnya, perbedaan Syiah-Suni tersebut jika ditelusuri sudah mengemuka di abad ke-7.

Apa penyebab perpecahan?
Dua aliran tersebut muncul setelah Nabi Muhammad wafat pada 632 Masehi. Beliau wafat tanpa sempat menunjuk seorang pengganti untuk memimpin umat Muslim, dan muncul perdebatan siapa yang pantas menjadi pemimpin agama yang ketika itu masih baru dan berkembang pesat.

Sebagian meyakini bahwa pemimpin yang baru harus dipilih lewat konsensus; yang lain mengatakan hanya keturunan Nabi yang pantas menjadi khalifah. Maka ditunjuklah sahabat Nabi yang paling dipercaya, Abu Bakar, walaupun sebagian beranggapan tongkat estafet seharusnya diserahkan kepada Ali, sepupu sekaligus menantu Nabi.

Ali pada akhirnya memang menjadi khalifah setelah dua pengganti Abu Bakar meninggal karena dibunuh.

Setelah Ali juga dibunuh musuh-musuhnya, dengan sebuah pedang beracun di sebuah masjid di Kufa yang sekarang menjadi Irak, dua putranya Hasan dan Hussein menjadi khalifah. Namun Hussein dan banyak kerabatnya kemudian dibunuh di Karbala, Irak, pada 680. Wafatnya Hussein sebagai syuhada menjadi penguat bagi mereka yang meyakini bahwa Ali adalah khalifah penerus langsung Nabi. Para pengikut ini kemudiah dikenal sebagai kelompok Syiah, kependekan dari frase “Syiah Ali”, atau para pengikut Ali.

Kata Suni berasal dari frase “Ahl al-Sunna”, orang-orang yang mengikuti sunah Rasul. Kelompok Suni menganggap tiga kalifah pertama sebelum Ali sebagai penerus dan penyampai Sunah Rasul yang sesungguhnya. Para penguasa Suni juga mampu memperluas kekhalifahan hingga ke Afrika Utara dan Eropa. Kekhalifahan terakhir terhenti seiring runtuhnya Kerajaan ottoman para Perang Dunia I.

Apa perbedaan dua aliran itu?
Aliran Suni dan Syiah masing-masing memiliki spektrum yang sangat luas tentang doktrin, opini, dan ajaran. Dalam banyak aspek tentang Islam, mereka sependapat, yaitu hanya ada satu Allah, Muhammad adalah nabi terakhir dan Alquran adalah kitab suci terakhir.

Namun ada banyak hal yang membuat kedua pihak berbeda pendapat. Syiah menganggap Ali dan para pemimpin sesudahnya sebagai Imam. Sebagian besar menganggap ada 12 Imam, yang terakhir adalah seorang bocah laki-laki yang diyakini menghilang setelah ayahnya dibunuh.

Di era modern, perbedaan dua aliran itu meningkat dalam geopolitik. Sebuah survei menunjukkan bahwa 40% pengikut Suni tidak menganggap Syiah sebagai Islam.

 

Siapa yang paling dominan?
Dari sekitar 1,6 miliar umat Muslim di dunia, sekitar 85% adalah pengikut Suni. Indonesia memiliki populasi Suni terbesar di dunia, Iran dihuni kelompok Syiah terbesar di muka bumi.

Kaum Suni tersebar di dunia Arab, dan juga Turki, Pakistan, India, Bangladesh, dan Malaysia. Sementara itu selain Iran, mayoritas Syiah juga berada di Iraq dan Bahrain. Arab Saudi menguasai tempat paling suci Islam di Mekkah dan Medinah. Sedangkan tempat ziarah Syiah adalah Karbala, Kufa dan Najaf di Irak.

Di Timur Tengah, Saudi dan Iran kerap muncul sebagai pihak yang berseberangan. Di Yaman, para pemberontak Syiah atau kelompok Houthi menggulingkan pemerintahan Suni, dan memicu invasi oleh koalisi pimpinan Saudi.

Di Suriah, yang mayoritas dihuni kaum Suni, sekte Syiah Alawite yang dianut Presiden Bashar al-Assad mempertahankan kekuasaan di tengah berlangsungnya perang saudara. Iran terjun ke medan perang membantu al-Assad, sedangkan Saudi berulangkali menyerukan agar al-Assad mundur. Dan di Irak, konflik pemerintah yang beraliran Syiah melawan masyarakat yang beraliran Suni memberi peluang bagi masuknya Islamic State.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat