HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Seberang Permukiman Lama Yang Berselendang Halimun

6

HARIANACEH.co.id – Harapan membuncah di hulu dan muara sebuah sungai di Aceh Timur. “Di situlah dulunya kampung kami berada,” kata Hasbi seraya menunjuk sebuah delta sungai yang terhampar di seberang kami berdiri. Kami memandanginya beberapa saat. Hanya tampak kayu dan kerikil-kerikil yang terhanyut derasnya arus sungai. “Jangankan pohon kelapa, rumah-rumah panggung kami pun habis tak tersisa dihantam banjir.”

Hasbi merupakan seorang imam kampung, sebuah jabatan turun-temurun dari moyangnya. Sehari-hari dia bekerja menjala ikan. Kadang, kala sungai tak bersahabat, dia memilih untuk merenda jaring di rumah kayunya yang luasnya tak lebih dari lapangan bulu tangkis.

Tampurpaloh, sebuah gugusan desa titisan suku Gayo di Aceh Timur, berada di tepian pertemuan arus hulu Sungai Tamiang dan hulu Sungai Tampurbor. Namun, petaka banjir yang melibas pada akhir 2006, telah menghanyutkan permukiman dan segala harapan Hasbi dan warganya. Sebuah bencana yang kedatangannya tak pernah diramalkan oleh para leluhur mereka yang menghuni tepian sungai ini sejak berabad silam. Saat itu banyak desa yang terdampak banjir karena meluapnya Sungai Tamiang, namun Tampurpaloh telah ditakdirkan menjadi desa yang terparah. “Orang-orang mengungsi ke bukit,” ujar Hasbi. “Syukurlah tak ada korban jiwa, semua selamat.”

Kini, mereka menghuni tanah baru di pinggang bukit, seberang permukiman lama yang berselendang halimun. Bencana banjir telah berlalu hampir sepuluh tahun, namun Hasbi dan warganya tak seberuntung desa-desa lainnya dalam Kecamatan Simpangjernih.

Dari delapan desa di kecamatan tadi, hanya Tampurpaloh yang tidak memiliki sumber air bersih. Dari seratusan rumah di desa itu, tak lebih dari dua lusin rumah yang memiliki jamban. Satu-satunya desa yang masih menggunakan listrik dari mesin diesel yang haus solar. Tampurpaloh juga solah tak tersentuh peradaban informasi karena sinyal selular pun tak sampai ke desa ini.

Tanah baru tampaknya sedikit demi sedikit telah menjanjikan harapan baru pula. Sebuah sekolah berdinding kayu dan berlantai tanah dibangun atas dasar kebutuhan warga. Bersama sukarelawan yang merintis upaya pendidikan, kini mereka memiliki sekolah menengah pertama yang menjadi bangunan sekolah kedua setelah Sekolah Dasar Negeri Tampurpaloh.

loading...