HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

AJI, PWA dan PFI Tolak Kekerasan Terhadap Jurnalis

4

HARIANACEH.co.id, LHOKSEUMAWE – Sejumlah jurnalis yang tergabung Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lhokseumawe, Persatuan Wartawan Aceh (PWA) dan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Aceh menggelar aksi kasus kekerasan terhadap Jurnalis di depan Taman Riyadah, Lhokseumawe, Jumat (7/10).

Aksi tersebut menuntut oknum TNI Angkatan Darat Batalyon Infanteri 501 Rider Madium, Jawa Timur sebagai pelaku kekerasan terhadap jurnalis yang menjadi korban TNI dengan sengaja menghajar dan merusak peralatan kerja jurnalis Kontributor Net TV, Soni Misdananto yang tengah melakukan peliputan di Madiun, Minggu (2/10/2016).

Puluhan jurnalis dari berbagai media baik cetak, elektronik dan online ikut dalam aksi tersebut sekitar pukul 10.00 WIB. Dalam orasinya, para jurnalis ini mendesak agar TNI memahami tugas jurnalis Indonesia. Jurnalis, bekerja untuk publik dan dilindungi undang-undang. Selain itu, Jurnalis Pase mengajak seluruh jurnalis di Indonesia memboikot pemberitaan tentang aktivitas TNI.

Koordinator aksi Agam Khalilullah dalam orasinya menyebutkan, para jurnalis masih saja menjadi korban. “Kebebasan pers tidak akan ada dengan adanya intimidasi, kekerasan dan pelecahan terhadap insan pers,” ujar Agam.

Karenanya para jurnalis tersebut menyatakan sikap, diantaranya bahwa oknum TNI AD yang melakukan penganiayaan terhadap Jurnalis Net TV di Madium, harus diseret ke Pengadilan Militer.

“Kami memandang rangkaian kekerasan ini merupakan bukti bahwa masih ada anggota TNI yang tidak memahami kerja jurnalis. Kami juga menilai masih ada anggota TNI yang belum pernah membaca Undang-undang Pers dan masih mengandalkan sepatu besi serta otot saat menghadapi jurnalis,” jelas Agam.

Agam menambahkan pihaknya mendesak Panglima TNI agar segera melakukan reformasi birokrasi di tubuh TNI, agar tidak mengedepankan kekerasan dalam menyikapi setiap masalah.

Kami mengajak seluruh jurnalis Indonesia untuk memboikot peliputan setiap kegiatan TNI, sampai kasus tersebut dinyatakan selesai serta menolak dan melawan arogansi serta sikap represif dari anggota TNI. “Jangan sampai kasus yang sama terulang di daerah lainnya. Cukup kasus Madiun yang menimpa jurnalis NET TV yang terakhir kali,” tegas Agam.

Kekerasan terhadap jurnalis NET TV itu merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia terhadap kebebasan pers dan profesi jurnalis sebagai pemberi informasi kepada masyarakat yang dilindungi dan dijamin UU. “Dewan Pers RI harus mengawal kasus ini hingga tuntas,” sebut Agam.

Sementara Ketua AJI Lhokseumawe Masriadi Sambo mengatakan atas aksi kekerasan tersebut, AJI Lhokseumawe mendesak Panglima TNI untuk menindak tegas personelnya. Harus diusut tuntas dengan sidang terbuka pada publik. Sehingga, publik tahu bahwa pelaku telah mendapat ganjaran setimpal di negara hukum ini.

“TNI harus tahu bahwa profesi jurnalis dilindungi oleh Undang Undang Pers Nomor 40 tahun 1999. Bahwa pers nasional sebagai wahana komunikasi massa, penyebar informasi dan pembentuk opini harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak, kewajiban dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan kemerdekaan pers yang profesional, sehingga harus mendapat jaminan dan perlindungan hukum, serta bebas dari campur tangan dan kekerasan dari manapun,” kata Dimas. (HAI/Rahmat Mirza)

loading...