HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Ini Filosofi Kupiah Meukutop

9

HARIANACEH.co.di – Kupiah meukeutop menjadi atribut ‘wajib’ dalam ritual adat Aceh.

Kupiah atau yang dalam bahasa Indonesia bermakna kopiah ini merupakan warisan raja diraja Aceh.

Pada masa Kerajaan Aceh abad ke-17 lampau, kupiah meukeutop dipakai Sultan Iskandar Muda dalam kesehariannya.

Kini, penggunaan kupiah meukeutop bergeser mengisi ritual adat misalnya perkawinan, sunatan, dan acara kebudayaan lainnya.

Kupiah ini dikenakan kaum laki-laki tanpa pandang umur.

Adalah warga Desa Masjid Tungkop, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie, Aceh yang masih setia melestarikan warisan sang raja.

Baca Juga

Saban harinya, para perajin merajut kain empat warna yang melambangkan keagungan Kerajaan Aceh.

Setiap warna memiliki makna tersendiri dan mewakili status sosial pemakainya.

Sebut saja warna kuning untuk kalangan raja dan warna hijau yang dikenal sebagai warna kalangan ulama.

Untuk menyelesaikan satu kupiah meukeutop, perajin membutuhkan waktu hingga 15 hari.

Hasil karya mereka ini dijual dengan harga Rp 200 ribu-Rp 400 ribu per buah.

Nah, bagi kamu yang traveling ke Pidie, wajib membawa kupiah meukeutop sebagai oleh-oleh untuk orang di rumah.

Nggak perlu jauh ke ‘dapur produksi’, kamu bisa datang ke sentra souvenir di Jalan Sri Ratu Safiatuddin, Desa Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh.[]

loading...