HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Task Force PPHLH Bedah Kasus Perambahan Rawa Singkil

Tim task force PPLH dan Walhi Aceh mendiskusikan persoalan kasus rawa Singkil.[Foto: Dok Walhi Aceh]
17

HARIANACEH.CO.ID, Banda AcehTask Force Pencegahan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup (PPHLH) Terpadu di Aceh kembali membedah kasus lingkungan hidup. Kali ini, task force mengulik persolan perambahan kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil.

Kasus perambahan kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil merupakan kasus ketiga yang dibedah dalam skema task force. Sebelumnya task force juga telah membedah kasus pencemaran limbah CPO PKS di Birem Bayeun, Aceh Timur. Taks force juga telah menurunkan tim untuk meninjau langsung ke lokasi pencemaran limbah yang dilaporkan warga. Hasilnya adanya perbaikan tatakelola limbah melalui komitmen bersama yang disepakati lintas lembaga dan melibatkan warga.

Menurut Direktur Walhi Aceh, Muhammad Nur, untuk kasus perambahan kawasan Suaka Margasatwa (SM) Rawa Singkil dilaporkan oleh Yayasan Gampong Hutan Lestari (YGHL) di Aceh Selatan. Sebelumnya, kata dia, di tahun 2015 lalu YGHL melakukan investigasi dan menemukan sekitar 50 hektar SM Rawa Singkil telah di rambah, temuan itu dilaporkan kepada BKSDA untuk ditindaklanjuti.

“Pada bulan september 2016, YGHL kembali melakukan investigasi menemukan perambahan dalam kawasan SM Rawa Singkil. SM Rawa Singkil luasnya 81.836 hektare tersebar di tiga kabupaten/kota, Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Kota Subulussalam,” ujar Muhammad Nur lewat siaran pers yang diterima HARIANACEH.co.id, Jumat (7/10/2016).

Baca Juga

Darurat Populasi Gajah

Hanya Tersisa 500 Ekor Saja Populasi Gajah Sumatera Kini di Aceh

Liputan Eksklusif

Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) Dijarah, Siapa Rugi?

Dikatakannya, SM rawa singkil bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang merupakan salah satu kawasan rawa terbesar di Provinsi Aceh. Kawasan ini berfungsi sebagai tempat hidupnya berbagai jenis flora dan fauna, dan harapan belasan ribu masyarakat yang tinggal di sekelilingnya. Kawasan tersebut juga berfungsi bagi kehidupan petani, pencari madu, pencari rotan, dan ikan air tawar.

“Rawa Singkil memiliki fungsi penting sebagai dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Alas menunjang ketersediaan air bagi kehidupan manusia di sana,” katanya.

Karena itu, kata dia, task force langsung melakukan bedah kasus untuk mendalami dan mencari fakta-fakta baru terkait kasus tersebut. Kegiatan bedah kasus dilaksanakan di sekretariat Walhi Aceh, yang juga dihadiri oleh BKSDA Aceh. YGHL mempresentasikan sejumlah temuan hasil investigasi sebagai bukti perambahan, baik dalam bentuk foto, video, maupun titik koordinat. Perambahan SM Rawa Singkil diduga keterlibatan oknum pemerintah kabupaten Aceh Selatan.

Berdasarkan fakta awal, task force menyimpulkan adanya pelanggaran hukum dalam kasus tersebut. Berdasarkan rekomendasi hasil bedah kasus, task force dalam waktu dekat ini akan melakukan beberapa upaya termasuk melaporkan kasus secara resmi kepada Polda Aceh maupun ke Mabes Polri.[]

Komentar
Sedang Loading...
Memuat