HARIANACEH.co.id — Mungkin terasa aneh ketika para bos Google, Apple, Yahoo, Hewlett-Packard dan petinggi perusahaan-perusahaan teknologi ternama dunia yang ada di Silicon Valley, Amerika Serikat, justru menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah Waldorf yang tidak menyediakan fasilitas komputer. Seperti dipaparkan laman The New York Times, alasan mereka mengirim buah hati ke sekolah ini adalah karena komputer tidak cocok untuk sekolah.
Ini tentu saja berbeda keadaannya dengan di negeri kita. Di sini orang tua menyambut baik berbagai perangkat digital seperti televisi, komputer, telepon pintar, dan komputer tablet. Gawai-gawai canggih yang mampu terhubung ke internet ini dianggap mampu menjadi alat bantu belajar yang canggih. Bahkan tidak sedikit pula orang tua yang menjadikan aneka peralatan itu sebagai mainan anak-anak mereka.

Keadaan di Korea Selatan berbeda dibandingkan di negeri kita. Negeri Ginseng yang selama dikenal memiliki perkembangan teknologi digital terpesat di dunia kini mulai mengkhawatirkan dampaknya terhadap anak-anak, generasi penerus masa depan.

Negara-negara terdepan dalam teknologi telah mengawasi dampak negatif perangkat digital terhadap anak dan mereka mulai memusatkan perhatian pada cara mendidik anak dalam lingkungan digital secara sehat dan bijaksana.

Psikolog Elisabeth Santosa yang pernah menulis buku berjudul Raising Children in Digital Era menyebutkan orang tua zaman digital seperti sekarang ini sebaiknya membatasi penggunaan gadget oleh anak-anak mereka. Orang tua tidak boleh membiarkan anak menggunakan gadget hingga berjam-jam lamanya tanpa batas waktu yang jelas.

Dr.Jesus Pujol, seorang peneliti dari Spanyol menyebutkan bahwa meskipun gim video berpengaruh baik, tetapi harus dikombinasikan dengan aktivitas fisik di luar ruang. Ia melakukan penelitian akan manfaat positif gim ini terhadap 2.442 anak berusia 7-11 tahun di Barcelona, Spanyol.

Baca Juga:  Untuk Usir Jerawat Dimuka, Produk Kosmetik Ini Gunakan Bahan Ganja

Rata-rata anak bermain gim video 4 jam seminggu. Anak laki-laki menghabiskan 1,7 jam lebih lama dalam sepekan dibanding anak perempuan.

Secara umum, anak yang hobi main gim video tidak menunjukkan masalah perilaku dibanding yang tidak main. Tetapi, makin banyak waktu yang dihabiskan di depan layar, orangtua melaporkan adanya masalah perilaku.

Anak yang bermain gim video 9 jam seminggu memiliki gangguan perilaku yang lebih terlihat dibanding yang durasi permainannya lebih singkat.

Selain itu, Elizabeth juga menyarankan orang tua agar selektif dalam memilihkan media atau tayangan yang tepat dan aman bagi anak Kehadiran multimedia di era kini seperti teknologi televisi, musik, media sosial dan internet sulit dihindari oleh anak-anak. Hal yang penting bagi orang tua adalah memilihkan mana yang sesuai dengan umur mereka.

Terkait dengan media sosial, Ainun Chomsun, seorang digital influencer, menyarankan agar orang tua menjadi teman anak di media sosial, seperti Facebook, Path atau Instagram.

“Jadilah teman anak di media sosial, jadi bisa tahu apa yang terjadi sama mereka,” ujar Ainun kepada KOMPAS.com.

Sementara itu psikolog sekaligus Pendiri Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risman, menegaskan perlunya kedekatan antara ayah dan anak, juga ibu ke anak. Kedekatan ini bukan hanya berarti melekat dari kulit ke kulit, melainkan jiwa ke jiwa. Artinya, Anda dan pasangan tak bisa hanya sering memeluk sang anak namun juga harus dekat secara emosional. “Banyak anak yang tidak dapat hal itu dari kecil sehingga jiwanya hampa,” tambah Elly.

Baca Juga:  Beberapa Cara Menginap Dengan Nyaman Di Hotel

Elly juga menekankan pentingnya pendidikan agama sejak sedini mungkin. Dalam hal ini, Elly menyebutkan, mengajarkan agama tak hanya terbatas ia bisa membaca Al-Qur’an misalnya, bisa berpuasa atau pergi ke gereja. Orangtua perlu menanamkan secara emosional agar anak menyukai aktivitas itu.

Selain semua tip di atas, orang tua juga tetap wajib menyediakan waktu yang berkualitas bersama anaknya setiap hari meskipun sudah berhubungan dengan anak-anak mereka lewat telepon, email dan media sosial.

Semua anak membutuhkan waktu berkualitas bersama orang tuanya. Seorang anak yang waktunya kurang bersama orang tua akan tumbuh dengan emosi yang tak stabil.Anda bisa menyediakan waktu dengan anak Anda pada waktu yang bisa Anda tentukan sendiri, entah itu sore hari, pagi hari, atau malam hari.

Iderus Syahril di laman Banua Sehat memaparkan bahwa waktu di sore hari adalah waktu yang baik untuk menghabiskan waktu bersama anak Anda karena di waktu sore adalah waktu yang baik untuk bermain bersama, berbicara bersama, makan malam bersama sebelum kembali tidur. Jika Anda biasa bekerja sampai malam, bisa berbagi waktu bersama anak di waktu lain.

Mendidik anak di era digital berarti mendampingi mereka agar dapat menerima manfaat berbagai peralatan canggih yang ada secara optimal. Sebenarnya tidak sedikit manfaat yang bisa didapatkan dari perkembangan teknologi yang ada yang bisa dimanfaatkan anak, misalnya dia bisa belajar lebih tentang pelajaran yang dipelajarinya di sekolah menggunakan internet. Dengan mendampinginya orang tua dapat mencegah anak untuk mengakses yang tidak diinginkan serta mencegah dari penggunaan yang berlebihan.[]

loading...