HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Ini Pandangan Islam Tentang Mandi dalam Keadaan Telanjang

32

HARIANACEH.co.id — Sebagian orang merasa ragu tentang hukum mandi dalam keadaan membuka seluruh aurat, apakah boleh ataukah tidak. Di antara hal yang menyebabkan keraguan ini adalah sebuah hadits dari Muawiyah bin Haidah radhiallahu anhu, dia berkata:

“Saya bertanya: “Wahai Nabi Allah, aurat kita, manakah yang harus kita tutup dan manakah yang boleh kita tampakkan?” Nabi menjawab: “Jagalah auratmu kecuali terhadap istrimu atau budak (wanita) mu.” Saya bertanya: “Wahai Rasulullah, apabila sekelompok orang sedang berkumpul bersama?”

Nabi menjawab: “Jika engkau mampu agar auratmu tidak bisa dilihat oleh seorangpun maka (usahakan) jangan sampai ada orang yang bisa melihatnya.” Saya bertanya: “Wahai Nabi Allah, apabila salah seorang dari kita sendirian?” Nabi menjawab: “Allah lebih pantas bagi dia untuk malu terhadap-Nya daripada (malu) terhadap manusia.” (HR At Tirmidzi (2794). Hadits hasan.)

Hadits di atas menerangkan bahwa jikalau kita malu untuk menampakkan aurat di hadapan orang lain, maka tentunya kita lebih patut lagi untuk malu kepada Allah jika kita membuka aurat ketika mandi.

Penjelasan yang benar dalam masalah ini, insya Allah, adalah bolehnya bagi seseorang untuk mandi dalam keadaan menyingkap seluruh aurat asalkan dilakukan di tempat yang tertutup atau jauh dari pandangan manusia agar mereka tidak dapat melihat kepada auratnya. Ada beberapa dalil yang menunjukkan bolehnya seseorang untuk mandi telanjang. Di antara dalilnya adalah:

1. Kisah Nabi Musa ‘alaihi salam dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Masyarakat Bani Israil biasa mandi bersama dalam keadaan telanjang. Mereka saling melihat kepada (aurat) yang lainnya. Sedangkan Musa mandi sendirian. Berkatalah masyarakat Bani Israil: “Demi Allah, Musa itu tidak mau mandi bersama kita pasti karena ada cacat padanya.” Pada suatu ketika, Musa pergi mandi. Dia meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Lalu batu tersebut bergerak pergi sambil membawa pakaiannya.

Musa pun mengejar batu tersebut di belakangnya sambil berkata: “Wahai batu, kembalikan bajuku!” Kaum Bani Israil melihat kepada Musa dan berkata: “Demi Allah, ternyata Musa tidak memiliki kelainan apapun.” Lalu Musa mengambil bajunya dan langsung memukul batu tersebut.” Abu Hurairah berkata: “Demi Allah, pada batu tersebut terdapat enam atau tujuh tanda bekas pukulan.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di dalam Shahihnya dan Imam Muslim di dalam Shahihnya.

2. Kisah Nabi Ayyub

“Ketika (Nabi) Ayyub sedang mandi dalam keadaan telanjang, jatuhlah belalang-belalang dari emas di dekatnya. Lalu Ayyub menciduk (belalang-belalang emas itu) ke dalam pakaiannya. Maka Rabbnya memanggilnya:

“Wahai Ayyub, bukankah Aku telah mencukupkan (rizki) bagimu dari (selain) apa yang engkau lihat?” Ayyub menjawab: “Benar (wahai Allah) demi keagungan-Mu, akan tetapi tidak cukup bagiku untuk (tidak mengambil) keberkahan-Mu.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di dalam Shahihnya. Kedua hadits di atas menerangkan bahwa Nabi Musa dan Ayyub alaihi salam mandi dalam keadaan telanjang.

Jika ada yang mengkritik bahwa ini adalah syariat umat terdahulu dan tidak lagi berlaku pada umat Muhammad, maka hal ini telah dijawab oleh Ibnu Hajar rahimahullah di dalam kitab Fathul Bari bahwa Nabi salallahu alaihi wasallam menceritakan kedua peristiwa kepada para sahabat tanpa ada catatan apapun dari beliau.

Ini menunjukkan bahwa perbuatan kedua nabi tersebut diakui di dalam syariat kita. Kalau seandainya hal ini tidak diakui oleh syariat kita, maka pastilah Nabi shalallahu alaihi wasallam telah menerangkannya kepada kita.

3. Kisah Nabi Muhammad Nabi salallahu alaihi wasallam mandi bersama Aisyah radhiallahu anha.

Rasulullah Nabi salallahu alaihi wasallam pernah mandi bersama istri beliau Aisyah di dalam satu ruangan pada waktu yang sama. Aisyah berkata: “Saya pernah mandi (janabah) bersama Nabi shalallahu alaihi wasallam dari satu bejana dan tangan kami saling bergantian (mengambil air) di dalamnya.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

4. Kisah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam mandi bersama Maimunah radhiallahu anha. Dari Abdullah ibnu Abbas radhiallahu anhu, dia berkata:

“Maimunah telah mengabarkan kepada saya bahwa dia pernah mandi bersama Nabi dari satu bejana.” (HR Muslim)

Walaupun kedua hadits di atas tidak secara jelas menyatakan bahwa Nabi mandi telanjang, akan tetapi para ulama berdalil dengan hadits ini tentang bolehnya seorang suami melihat aurat istrinya ataupun sebaliknya. Silakan melihat kalam Ibnu Hajar di Fathul Bari.

Adapun hadits-hadits yang melarang seseorang untuk melihat aurat istrinya, maka seluruhnya adalah lemah dan tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Lantas bagaimana dengan hadits Muawiyah bin Haidah radhiallahu anhu di atas yang menerangkan bahwa kita harus malu kepada Allah ta’ala jika mandi dalam keadaan telanjang?

Jawabannya adalah hadits Muawiyah bin Haidah menunjukkan bahwa mandi dalam keadaan menutup aurat adalah lebih utama dan lebih sempurna, bukan wajib. Al Munawi berkata: “Asy Syafiiyyah membawa hadits ini kepada hukum an nadb (lebih utama).”

Di antara yang mendukung pendapat mereka adalah Ibnu Jarir. Dia menafsirkan hadits ini di kitab Tahdzibul Aatsar kepada hukum nadb. Dia berkata: “Karena Allah taala tidak tersembunyi darinya segala sesuatu dari makhluk-Nya, baik telanjang ataupun tidak telanjang.” Pendapat ini juga didukung Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani di dalam kitab Fathul Bari.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa mandi dalam keadaan telanjang hukumnya adalah diperbolehkan dengan syarat auratnya tidak terlihat oleh orang lain selain istri. Akan tetapi, yang lebih utama dalam hal ini adalah mandi dengan menutup auratnya. [Ustadzah Dra.Indra Asih]

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time