Masjid al-Aqsa di kompleks kota tua Yerusalem. (Foto: AFP)
Masjid al-Aqsa di kompleks kota tua Yerusalem. (Foto: AFP)

HARIANACEH.co.id, PARIS — Badan kebudayaan PBB atau UNESCO mengadopsi resolusi yang disponsori Arab Saudi untuk mengutuk tindakan Israel di sebuah tempat suci bersejarah di Yerusalem Timur. Resolusi membuat Israel murka.

Resolusi mengenai “wilayah Palestina yang diduduki” disahkan dewan eksekutif UNESCO di kantor pusatnya di Paris, Prancis, setelah disetujui pada tahap komite pekan lalu.

Mengacu secara menyeluruh pada “kekuatan pendudukan,” UNESCO mengutuk Israel karena membatasi akses Muslim ke kompleks Masjid Al-Aqsa — tempat suci ketiga bagi umat Islam — dan mengkritik kerusakan terhadap dan galian di dekatnya oleh pasukan keamanan.

Resolusi ini menjadi episode terbaru dalam serangkaian urusan di UNESCO, yang bertanggung jawab melindungi situs-situs bersejarah. Badan dunia ini merupakan satu dari beberapa organisasi internasional yang mengakui Palestina sebagai negara anggota.

Israel menangguhkan kerja sama dengan UNESCO pekan lalu sebagai tanggapan terhadap rancangan resolusi. Duta besar Israel Carmel Shama HaCohen, menuduh Palestina bermain “api”. Israel sangat marah sebab resolusi itu mengacu pada situs Kota Tua di Jerusalem dengan nama Muslim, Al-Aqsa atau Al-Haram al-Sharif.

Baca Juga:  Usai Serangan Bom di Gaziantep, Turki Gempur Posisi ISIS

Situs tersebut dianggap suci oleh umat Islam, Nasrani, dan Yahudi. Para pengikut Yahudi menyebutnya sebagai Kuil Bukit.

Meskipun mengakui pentingnya Kota Tua dalam “tiga agama monoteistik” — Islam, Yahudi, dan Nasrani — resolusi terfokus pada pembatasan Israel terhadap umat Islam dalam mengakses masjid.

Resolusi juga meliputi kecaman terhadap blokade Israel atas Gaza dan “agresi konstan oleh pemukim Israel” di Tepi Barat.

Wakil Duta Besar Palestina untuk UNESCO, Mounir Anastas, menyambut baik keputusan ini.

Kompleks kota tua Yerusalem. (Foto: AFP)
Kompleks kota tua Yerusalem. (Foto: AFP)

“Resolusi ini mengingatkan Israel bahwa mereka adalah penguasa yang menduduki Yerusalem timur, dan meminta mereka untuk menghentikan semua pelanggaran mereka, terutama di bidang kompetensi UNESCO, seperti penggalian,” katanya kepada wartawan seperti dilansir Gulf Times dari laporan AFP, Selasa (18/10/2016).

Sejak 2011, ketika Palestina diakui UNESCO, badan itu telah menjadi tempat pertengkaran diplomatik akibat munculnya resolusi mengutuk Israel. Pertengkaran diplomatik terjadi belum lama ini pada April dan Oktober tahun lalu.

Baca Juga:  Propaganda: Serangan Rusia Diakui NATO Efektif di Suriah

Situs di Yerusalem Timur berupa lapangan terbuka seluas 14 hektare berbentuk persegi panjang di sudut tenggara dari Kota Lama. Tempat itu diduduki Israel selama perang 1967 dan kemudian dengan ilegal dianeksasi dalam sebuah langkah yang tidak pernah diakui secara internasional. Palestina menginginkan sektor timur sebagai ibukota negara masa depan mereka.

“Atmosfer sebelum pemungutan suara sempat memburuk, berlanjut oleh ancaman yang diterima melalui telepon dan media sosial, pekan lalu, setelah pemungutan suara pada rancangan resolusi,” kata seorang pejabat UNESCO.

Isi resolusi menciptakan kegelisahan di kalangan petinggi organisasi. Michael Worbs, yang memimpin dewan eksekutif UNESCO, mengaku membutuhkan lebih banyak waktu untuk menciptakan semacam kompromi.

Pemungutan suara resolusi dilakukan pada Kamis 13 Oktober. Sebanyak 24 suara mendukung resolusi, enam menentang, dan 26 abstain.[]

loading...