HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Ada Perbedaan Ambisi antara Pasukan Turki dan Sekutunya di Suriah

24

HARIANACEH.co.id, ERBIL – Militer Turki menyerang 18 titik pemberontak Pasukan Demokratik Suriah (Syrian Democratic Forces/SDF) sebagai target, Rabu 19 Oktober malam.

Satuan Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) melaporkan di Twitter bahwa pesawat Turki telah melakukan setidaknya 14 kali serangan udara, mengebom posisi Jaish al-Thuwar, anggota SDF, dekat perbatasan Efrin, kawasan di ujung barat Rojava, sebuah wilayah otonom Suriah utara.

Laporan itu diperkuat oleh media yang pro-Turki, pada Kamis 20 Oktober pagi. Yeni Safak melaporkan bahwa Turki telah menargetkan 18 posisi “PYD/PKK” sebagai bagian dari operasi Perisai Efrat di barat laut Suriah.

PYD merupakan singkatan Partai Uni Demokratik. Turki mengklaim PYD sejajar dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris.

Media pro-Turki melaporkan, serangan itu terjadi di Ma’arat Umm Hawsh, sebuah desa Kurdi di wilayah Aleppo utara, di mana operasi itu berlangsung.

Menurut militer Turki, insiden itu terjadi dua jam lebih antara pukul 21:11 sampai 23:59 waktu setempat. Wartawan CNN Turki melaporkan bahwa militer Turki mengklaim telah membunuh 160-200 militan dalam operasi itu seperti disitat Rudaw, Kamis (20/10/2016).

Pada Rabu malam, Observatorium HAM Suriah (SOHR) yang memantau konflik menerima pernyataan dari pasukan yang menjadi target serangan. “Turki mendukung Islamic State (ISIS) hingga menyerang daerah kami dengan artileri dalam kerja samanya dengan faksi-faksi pemberontak,” tuduh mereka.

“Kami meminta faksi-faksi pemberontak itu berhenti menyerang daerah-daerah tersebut, tetapi kami tidak menerima respons apapun. Pasukan kami sudah menahan diri tidak menargetkan apapun dari faksi-faksi ini, tetapi dalam kasus pengeboman tanpa henti dengan nama ‘al-Furat Shield’ (Perisai Efrat), pasukan kami akan membalas ke setiap sektor atau daerah militer,” tambah pernyataan itu.

Turki mendukung kelompok milisi yang berjuang di bawah bendera Tentara Pembebasan Suriah (FSA) di barat laut Suriah. Mereka meluncurkan operasi Perisai Efrat sejak 24 Agustus buat membersihkan perbatasan militan ISIS dan mencegah YPG berbaris di arah barat Sungai Efrat. Sejak itu para duta FSA telah bentrok dengan pejuang YPG yang berjuang di bawah bendera SDF.

FSA beda tujuan

Namun, secara terpisah, setelah dua bulan menyingkirkan ISIS dari kota perbatasan Suriah, para pemuda pemberontak berpatroli di jalan-jalan merayakan kemenangan yang melampaui tujuan pendukung Turki mereka: untuk mematahkan pengepungan Aleppo.

Para pejuang FSA itu, beberapa di antaranya remaja, yang bertabiat keras setelah berperang bertahun-tahun, menyapu daerah Jarablus hampir tanpa perlawanan pada Agustus.

Mereka bagian Operasi Perisai Efrat yang digalang Turki dengan maksud untuk membersihkan kelompok militan dari perbatasan dan mencegah milisi Kurdi mendapatkan basis di belakang mereka.

Tapi bagi FSA, operasi itu sekadar alat untuk mencapai tujuan, hanya awal dari sebuah perjalanan yang akhirnya akan sampai pada perang lawan musuh utama mereka — pasukan Rusia yang mendukung Presiden Bashar al-Assad — dengan bantuan ratusan ribu jejaring warga sipil yang berada di kota Aleppo timur yang diduduki oposisi.

Pasukan Suriah membersihkan ranjau
Pasukan Suriah membersihkan ranjau (Foto: AFP)

Ambisi seperti itu membuat Turki dalam posisi sulit karena harus memperbaiki hubungan dengan Moskow. Sebagai salah satu seteru sengit yang sudah lama melawan Assad, prioritas utama Turki tampaknya telah bergeser ke arah mencegah keuntungan teritorial Kurdi dan bertentangan dengan tujuan para pejuang FSA yang mereka dukung.

“Target kami yang paling penting adalah mematahkan pengepungan Aleppo. Banyak saudara kami dari FSA terjebak di sana,” kata Ismail, seorang komandan dari kelompok Sultan Murad, faksi FSA, mengatakan kepada Reuters di Jarablus, seperti dilansir Daily Mail.

“Ini adalah ide kami sendiri, tetapi dalam beberapa hari mendatang kami akan membicarakan hal ini dengan saudara-saudara kami dari Turki,” kata lelaki yang mengenakan seragam loreng ini.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat