HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Kasus Laut China Selatan Kembali Dibicarakan Tiongkok-Filipina

7

HARIANACEH.co.id, BEIJING – Sebagai dua negara yang saling mengklaim atas wilayah Laut China Selatan, Filipina dan Tiongkok selalu berseberangan. Tetapi kini kedua negara sepakat untuk memulai kembali dialog membahas sengketa wilayah laut itu.

Kesepakatan diraih saat Presiden Filipina Rodrigo Duterte melakukan kunjungan ke Beijing dan melakukan pertemuan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Seorang diplomat Tiongkok mengumbar kesepakatan tersebut, usai pembicaraan yang berlangsung antara kedua negara.

Pertemuan diadakan setelah beberapa bulan lalu Permanent Court of Arbitration (PCA) menyatakan Tiongkok tidak memiliki hak atas Laut China Selatan. Namun pertemuan yang dilakukan dinilai sebagai kemenangan diplomatik bagi Tiongkok.

Presiden Xi Jinping menerima Presiden Rodrigo Duterte
Presiden Xi Jinping menerima Presiden Rodrigo Duterte (Foto: AFP)

Presiden Duterte mengunjungi Tiongkok sebagai upaya untuk meraih dukungan kesepakatan perdagangan dari raksasa Asia itu. Duterte pun menyebutkan hubungan Filipina dan Tiongkok saat sangat hangat.

“Tiongkok adalah teman dari Filipina dan akar dari ikatan kami sangat dalam serta sulit untuk dirusak,” ujar Duterte kepada Xi dalam pidatonya, seperti dikutip Reuters, Kamis (20/10/2016).

“Bahkan saat tiba di Beijing di waktu musim dingin, tetap menjadi musim semi bagi hubungan kedua negara,” tambahnya.

Lain halnya diucapkan oleh Presiden Xi, yang menyebutkan pertemuan itu adalah sebuah batu loncatan yang signifikan. Menyangkut Laut China Selatan, Xi menambahkan, “Meskipun ada sedikit badai, dasar dari hubungan dan keinginan untuk bekerja sama tidak akan berubah”.

Tetapi Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok Liu Zhenmin mengatakan bahwa kedua pemimpin hanya sedikit menyentuh topik Laut China Selatan. “Kedua belah pihak sepakat bahwa isu Laut China Selatan bukan isu utama dalam hubungan bilateral kedua negara,” tegas Liu.

Liu menambahkan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk kembali menggunakan pendekatan yang dilakukan lima tahun lalu. Yakni, menggunakan pendekatan dialog bilateral.

Dialog bilateral terhenti setelah Tiongkok mengambil alih kendali di Dangkalan Scarborough dan Filipina pun membawa isu ini ke PCA. Filipina juga mendesak bahwa putusan PCA menjadi dasar negosiasi, sementara Tiongkok berkata lain.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat