HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Polisi Perancis Berdemo Tuntut Penguatan Institusi

4

HARIANACEH.co.id, PARIS – Ratusan polisi masih berkumpul di jalan-jalan utama di kota Paris hingga malam ketiga. Para anggota kepolisian itu membuat barikade bukan karena sedang mengamankan sebuah aksi demonstrasi, melainkan para aparat negara itu kali ini sedang berdemo menuntut penguatan institusi mereka, serta penetapan sanksi/hukuman yang lebih berat menyusul beberapa insiden penyerangan terhadap sejumlah perwira polisi.

Aksi protes polisi juga terjadi di kota-kota lain di Perancis pada hari Kamis (20/10) malam meskipun pemerintah telah berusaha mengakomodir kemarahan para anggota kepolisian itu pada saat isu mengenahi keselamatan perwira penegak hukum muncul menjelang pemilu presiden pada bulan April tahun depan.

Sekitar 500an perwira polisi yang sebagian besar berpakaian sipil dan beberapa di antaranya terlihat mengenakan “cadar” berdemo di dekat menara Eiffel. Meskipun “cadar” telah dilarang di ruang-ruang publik di Perancis, sebagian besar perwira penegak hukum itu secara demonstratif “melanggar hukum” dengan memakai penutup wajah tanpa ada tindakan hukum dari negara.

“Perwira-perwira polisi perlu pengakuan,” kata Perdana Menteri Manuel Valls pada hari Kamis. “Mereka dicintai rakyat Perancis, bukan hanya sejak insiden Charlie,” katanya lagi merujuk pada respon yang mengalir pasca serangan Charlie Hebdo yang juga menewaskan seorang polisi. Cara pembunuhan model eksekusi terhadap seorang perwira polisi oleh dua penyerang Jihadis itu sangat berkesan dan menjadi sebuah pelajaran mahal bagi bangsa Perancis, karena merupakan kejadian pertama kali di mana sebuah aksi untuk menghukum para penghina Nabi Muhammad SAW oleh aktor non-negara betul-betul membuat Perancis terguncang.

Valls berupaya menghibur dengan mengatakan, “Saya minta mereka tenang dan melakukan aksi secara damai, dan saya katakan kepada perwira-perwira polisi itu bahwa mereka boleh menaruh harapan pada dukungan dan solidaritas saya, pemahaman saya, dan komitmen saya”. Dengan tingkat keamanan pada level tinggi, para officer sudah dipersenjatai untuk mengantisipasi serangan ketika mereka sedang melakukan patroli di pinggiran kota, termasuk pada saat menghadapi para demonstran.

Pada tanggal 8 Oktober, seorang perwira polisi berusia 28 tahun mengalami luka bakar serius setelah ia diserang dengan menggunakan bom bensin/molotov di pinggiran ibukota. Hingga saat ini ia masih dalam keadaan koma. Serikat Kepolisian Perancis yang sudah melakukan pertemuan dengan Menteri Dalam Negeri Bernard Cazeneuve, meminta bertemu dengan Presiden Francois Hollande, serta menuntut ditetapkannya batas minimal hukuman bagi para pelaku serangan terhadap polisi. Sementara Hollande sendiri menjanjikan akan menemui sejumlah pimpinan kepolisian mulai minggu depan.

Menurut undang-undang Perancis, polisi boleh berdemo hanya pada saat mereka sedang tidak bertugas, tidak mengenakan seragam dinas, tidak membawa senjata, termasuk kendaraan dinas. Di negara sekuler seperti Perancis, aksi penghinaan terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW dianggap tidak melanggar hukum dan merupakan bagian dari kebebasan berekspresi, sehingga negara – dalam hal ini aparat penegak hukum – tidak hadir menindak para penghujat tersebut. Di saat negara “abai” dan menganggap “bukan urusan saya”, tampil 2 eksekutor Kouachi bersaudara yang bukan hanya menewaskan para pelaku penghina Nabi, tetapi juga seorang polisi yang membela para penghina Nabi tersebut. Setahun lebih telah berlalu, polisi-polisi itu masih tertekan dan berdemo menuntut penguatan institusinya.[]

loading...