HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Peringatan Hari Kesiapsiagaan Tsunami Dunia 3-5 November 2016

1

HARIANACEH.co.id, BANDA ACEH — Gempa dan tsunami pernah melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Bencana ini menelan lebih dari 160.000 penduduk Aceh dan menyebabkan penderitaan luar biasa. Beberapa studi dan laporan jurnalistik di masa lalu telah menyebutkan bahwa banyaknya korban jiwa terutama disebabkan pengetahuan dan kesiapsiagaan menghadapi tsunami tahun 2004 belum dimiliki masyarakat Aceh. Masyarakat Aceh saat itu belum mengetahui bahwa daerah pesisir rentan tsunami.

Hampir 12 tahun setelah tsunami, Aceh sekarang sudah kembali pulih dari segi infrastrukur dan ekonomi. Sekalipun masih menimbulkan trauma bagi sebagian korban, namun upaya pemulihan terus dilakukan. Jumlah penduduk Aceh juga terus tumbuh. Apalagi, tsunami tahun 2004 juga membawa perdamaian di Aceh.

Namun demikian, gempa dan tsunami merupakan siklus berulang, sehingga kita perlu menyiapkan diri sejak sekarang. Sebagaimana diamanatkan dalam Kerangka Kerja Sendai 2015-2030, dimana Indonesia menjadi salah satu negara yang ikut meratifikasinya, pembangunan kesiapsiagaan merupakan bagian penting dari agenda pembangunan berkelanjutan.

Terkait dengan kesiapsiagaan itu, atas inisiatif Jepang dan didukung oleh lebih dari 140 negara, Sidang Umum Komite Kedua Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal 5 November sebagai Hari Kesiapsiagaan Tsunami Dunia. Tanggal ini dipilih berdasarkan aksi heorik warga desa di Kota Hirogawa, Prefektur Wakayama —sekitar 400 km sebelah barat Tokyo—, bernama Goryo Hamaguchi saat tsunami melanda desanya pada 5 November 1854.

Ketika gempa terjadi pada hari itu, Goryo Hamaguchi yang berada di atas bukit menyadari bahwa tsunami akan segera tiba dan membawa bencana besar terhadap desanya yang terletak di pesisir. Dia kemudian membakar gudang-gudang penyimpanan beras di atas bukit sehingga menarik perhatian warga lari ke atas bukit untuk memadamkan api. Tidak beberapa lama kemudian gelombang tsunami meluluhlantakkan desa, namun sebagian besar warga bisa selamat.

Kisah yang dikenal sebagai ‘Inamura no hi’ inilah yang kemudian dijadikan teladan untuk membangun kesiapsiagaan terhadap bencana tsunami di seluruh Jepang dan diharapkan dapat menjadi teladan dalam membangun kewaspadaan di tingkat global. Indonesia bisa juga belajar dari kisah heroik masyarakat Simelue yang selamat dari tsunami 2004 karena memilik pengetahuan lokal “smong”.

Terkait hal ini, Japan International Corporation Agency (JICA) bersama Pemerintah Aceh dan Museum Tsunami Aceh akan menyelenggaran serangkaian acara, termasuk seminar, bersamaan dengan peringatan Hari Kesiapsiagaan Tsunami Dunia yang akan diselengarakan di Museum Tsunami Aceh di Banda Aceh pada tanggal 3 November – 5 November. Tujuan utama kami adalah mendorong terjadinya peningkatkan perhatian masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, tentang pengurangan risiko bencana.

Sebagaimana diketahui, Aceh merupakan kawasan rentan bencana gempa dan tsunami. Aceh juga telah memiliki sejumlah program untk kesiapsiaagan, misalnya “sekolah aman bencana”, namun sosialisasinya perlu ditingkatkan. Dalam acara ini kami bermaksud menggelar sejumlah acara. Salah satunya adalah seminar yang mendiskusikan pengalaman tsunami Aceh dan Jepang guna mencari model pendidikan kesiapsiagaan bencana yang sesuai untuk anak-anak di sekolah.

Berikutnya, lomba menggambar diharapkan memberikan kesempatan para murid untuk memikirkan tentang pengurangan risiko bencana versi mereka. Sedangkan latihan evakuasi tsunami, akan membiasakan dan meningkatkan kesiapsiagaan. Selain itu, kegiatan workshop kamishibai diharapkan memberi inspirasi para guru untuk melakukan pendidikan bencana melalui kegiatan seni dan budaya.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, kami juga akan mengajak warga dan perwakilan anak-anak dari Jepang memasangan plakat berisi informasi tanda ketinggian tsunami tahun 2004. Dengan mengetahui ketinggian tsunami saat itu, generasi saat ini, yang sebagian di antaranya tidak mengalami sendiri kejadian itu, tetap waspada.

Oleh karena itu, kami bermaksud mengundang para pekerja media di Aceh untuk bisa menghadiri dan turut menyebarkan informasi tentang kegiatan ini. Diharapkan, hal ini bisa menularkan semangat peningkatan kesiapsiagaan terhadap bencana tsunami bagi generasi yang akan datang.

Untuk detil acara bisa dilihat di table berikut ini:

DATE (DAYS) EVENTS TIME REMARKS
 

3rd November 2016 (Thursday)

 

­  Kamishibai Story (Smong)

­  Tsunami Experience Story

­  Kamishibai Workshop

 

 

 

Outdoor Activity:

­  Installing the sign board upper limit of tsunami 2004 water marks at public places

 

 

 

 

 

 

09.00 – 10.00

10.15 – 11.30

11.30 – 12.30

 

 

 

 

09.00 – 15.00

 

 

Venue ATM

Speakers:

* Ms. Yoko Takafuji & Mr. Agus (Smog & Workshop)

* Ms. Murakami (Tsunami Experience Story)

 

Location: in 7 villages

 

4th November 2016 (Friday)

 

Tsunami Drill

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Students Activities:

1.  Drawing Competition for Elementary School Students

2.Drawing Competition for Junior High School Students

3.Drawing Competition for Senior High School Students

 

09.00 – 10.30

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

14.00 – 17.00

 

14.00 – 17.00

 

14.00 – 17.00

 

 

Venue:

1.              Escape Building at Ule Lhee, Meraxa sub district

2.              Tsunami Aceh Museum

3.              The hills as a tsunami evacuation at Aceh Besar, with elementary students Lambaru, or at Tsunami Evacuation Building of BPBD (Steal Construction).

 

 

 

Venue: Aceh Tsunami Museum

 

5th November 2016 (Saturday)

 

The Sequence of events

­  Quran Recitation

­  Welcome from Governor

­  Welcome from Banda Aceh Mayor

­  Welcome from Japan Embassy

­  Video showing activities on the 3rd and 4th November 2016

­  Kamishibai

­  DRM Poster awards for Drawing Competition winner for Elementary, Junior High and Senior High School

­  Group Photo

 

Break

 

­  Tsunami Experience Story (Aceh)

­  Tsunami Experience Story (Japan)

­  Report:

ü  Result of Tsunami Drill

ü  Disaster Education

 

­  Closing

­  Praying

­  Lunch

­  Museum Tour

 

 

 

08.00 – 08.05

08.05 – 08.20

08.20 – 08.35

08.35 – 08.50

08.50 – 09.05

 

09.05 – 09.25

09.25 – 09.40

 

 

09.40 – 09.50

 

09.50 – 10.00

 

10.00 – 10.30

10.30 – 11.00

 

11.00 – 11.20

11.20 – 11.40

 

11.40

11.40 – 12.20

12.20 – 13.00

13.00 – 14.00

 

Venue: Aceh Tsunami Museum

 

 

 

 

JICA RR

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

by Ms. Murakami

 

 

loading...