HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Bersiap Mendengar ‘Patologis’ Berbicara

Ilustrasi Kepala Daerah. (Google Images)
26

Oleh: Roiyan Watson[1. Penulis merupakan salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi (Konsentrasi Jurnalistik) Universitas Mallikussaleh yang saat ini masih berada di semester 5]

Roiyan Watson
Roiyan Watson

HARIANACEH.co.id, BANDA ACEH — Belakangan ini, tanah air tengah di selimuti euphoria pesta demokrasi, pilkada yang dilakukan serentak pada awal tahun 2017 mendatang. Meskipun masih terbilang lama, suasana hangatnya persaingan bakal calon gubernur sudah sangat terasa hampir di semua daerah yang akan melakukan pesta demokrasi.

Dengan ditandai oleh peresmian pembukaan tahapan pilkada oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang sudah di mulai pada tanggal 3 agustus lalu, di mana merupakan penyerahan syarat dukungan perseorangan. Untuk pendaftaran bakal calon gubernur dan wakil gubernur, KPU menjadwalkan masa pendaftaran pada 19-21 September 2016, baik untuk calon perseorangan maupun dari parpol.

Di daerah Aceh tersendiri tidak lepas dari persaingan atar bakal calon gubernur sudah sangat terasa. Setelah Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh mengumumkan tanda dimulainya tahapan pilkada di Aceh. Nama-nama terkemuka mulai mendatangi kantor Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh untuk mendaftar dalam pertarungan demokrasi, baik itu bakal calon gubernur yang malalui jalur independen maupun malalui partai politik.

Pilkada untuk di daerah Aceh kali ini akan terasa berbeda, pasalnya kandidat yang maju notaben nya adalah pentolan dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM), seperti Muzakir Manaf, yang mana seorang panglima GAM di masa konflik dulu, begitu juga dengan Irwandi Yusuf, dan Zakaria Saman.

Di sisi lain, seiring dengan makin mendekatnya proses tahapan pilkada ke depan, aura dinamika politik di antara para kandidat juga mulai terasa. Perbedaan dalam sudut pandang yang diperlihatkan bakal calon gubernur nantinya apakah akan dilihat dari sudut pandang negatif atau positif, ini telah menjadi suatu dinamika politik yang seiring berjalannya waktu semakin menumbuhkan semangat kepemimpinannya serta proses kedewasaan dalam berpolitik.

Baca Juga

Warisan

Legenda Buaya Mati jadi…

Timor Leste: Hikayat Negara Demokrasi Terbaru di Dunia

Tetapi, terlepas dari semua hal tersebut, apakah kita masih di hantui oleh pertanyaan seperti €œApakah calon yang sudah berhasil terpilih menepati semua janjinya yang telah disampaikan dalam kampanyenya?€. Pertanyaan ini sendiri muncul dari pengalaman yang sudah dirasakan, kekecewaan para pemilih, baik itu dari para pendukung setia sang gubernur maupun yang bukan. Munculnya kritikan-kritikan mengenai kinerja seorang gubernur sampai pada penagihan janji-janji yang telah dikampanyekan. 

Patologis Berbicara

Pada 26 oktober 2016 sampai 11 Februari 2017 nantik, merupakan masa kampanye bakal calon gubernur yang disisipi sedikit propaganda, masyarakat luas secara langsung akan disuguhkan dengan berbagai macam visi dan misi para kandidat yang akan bertarung pada pesta demokrasi.

Versi sebuah kampanye yang akan dilakukan tentunya dengan tujuan untuk menarik perhatian para pemilih. Dengan menunjukan visi dan misi setiap para kandidat, yang berisi ajakan, mengumbar janji dan perubahan untuk masa depan yang lebih baik, dan tentunya ada sebuah propaganda kecil-kecilan yang berisi dengan nilai (value-laden) sudah bisa diprediksi akan dilakukan. Tentunya akan menghipnotis setiap pendukungnya.

Patologis sendiri ialah sebuah sebutan dalam ilmu psikologi, yang merupakan tindakan dengan cara menipu dan manipulatif, tanpa memperhatikan hak-hak dan perasaan orang lain. Mungkin istilah ini dapat dikaitkan sedikit ke setiap calon yang akan ambil alih di pesta demokrasi tersebut. Pasalnya sebutan ini sendiri terdengar mirip dengan apa yang telah dipraktekan oleh kandidat itu sendiri dan dirasakan pula oleh masyarakat, yang banyak mengkiritik kinerja seorang calon terpilih.

Kemudian adanya juga transaksi politik yang juga sudah pasti mewarnai setiap Pemilukada. Transaksi politik bukan hanya terjadi di kalangan para elit, tetapi para timses juga ikut ambil bagian, mulai dari menjanjikan proposal ternak sampai mengundang sebuah investor asing. Dari sinilah penulis melihat individu seorang patologis.

Kemudian, adanya peran timses juga tidak dapat di pisahkan dari kemenangan calon gubernur ke depan. Timses setiap kandidat akan berpartisipasi mulai dari penaikan spanduk hingga menjadi saksi di tempat pemungutan suara. Tentu pekerjaan yang diemban oleh para Timses ini tidaklah mudah, apalagi di lihat dari pengalaman pilkada tahun 2012 silam, dimana banyak terjadinya penyiksaan, teror dan bahkan ancaman di tengah- tengah masyarakat sampai- sampai nyawa ikut melayang.

Terlepas dari semua itu, penulis tidak menunjuk pihak-pihak tertentu atau menjelek-jelekkan pihak tertentu. Kita semua tentunya berharap nilai-nilai demokrasi di pilkada yang akan berjalan nantinya bisa diterapkan oleh semua kandidat sebagai mana mestinya, termasuk oleh para timsesnya masing-masing. Masyarakat tentunya memiliki antusias yang mendalam melihat setiap kandidat yang maju, mereka tentunya akan memilih kandidat yang menurut mereka layak untuk memimpin daerahnya masing-masing. Semoga dengan terlibatnya €œcivil society€ menjadi awal yang baru bagi tatanan demokrasi di tanah air, yaitu demokrasi yang santun, aman, dan damai. Mari kita sukseskan pilkada yang akan diselenggarakan pada tahun 2017 mendatang.[]

Komentar
Sedang Loading...
Memuat