HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Belum Tentu Seorang Ibu Masuk Surga, Tapi Kenapa Surga di Telapak Kakinya?

4

HARIANACEH.co.id – Orang semua tahu dengan sebuah hadits yang diriwayatkan bahwa surga berada di telapak kaki ibu. Namun, di sisi lain, ibu sendiri belum tentu masuk surga. Artinya, ada surga di telapak kakiknya, tapi dia sendiri belum tentu bisa memasukinya.

Untuk menjawab hal tersebut, pertama kita harus sadar bahwa ungkapan “surga di bawah telapak kaki ibu” itu bermakna metaforis. Di telapak kaki ibu, secara denotatif, hanya ada sandal.

Kata “kaki”, dalam banyak budaya, melambangkan sesuatu yang rendah. Akan tetapi, surga kok malah berada di kaki ibu. Ini artinya, kalau mau masuk surga kita harus merendahkan diri di hadapan ibu. Di budaya Timur, ada tradisi cium kaki: kepada raja, orang tua, atau guru. Ini adalah bentuk kerendahan hati.

Mari kita lihat bagaimana Alquran bicara. “Rendahkan kepada keduanya (orang tua) sayap khidmat (dengan penuh) kasih sayang, dan ucapkan, ‘Wahai Pemeliharaku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mengasihi aku di waktu kecil’.” (QS. al-Isra’ [17]: 24).

Allah “memaksa” kita untuk merendahkan diri kepada orang tua (terutama ibu, sesuai dengan hadis tadi) karena merekalah orang yang paling berhak menerima perlakuan seperti itu.

“Sayap khidmat” di atas adalah ungkapan metaforis yang, menurut ulama, ranah sumbernya adalah kepakan sayap anak burung ketika melihat induknya di sarang. Piyik begitu manja, penuh harap dan menunjukkan ketidakberdayaannya di hadapan sang induk.

Jika harus merendahkan diri ke atasan di tempat kerja atau ke pejabat, orang mungkin melakukannya karena motivasi takut dan perasaan inferior, di samping untuk menjilat. Namun, merendahkan diri dan hati di hadapan orang tua harus atas dasar kasih dan sayang.

Lagipula, pada ayat di atas Alquran menggunakan kata rahmah, yang seakar dengan rahim. Kata ini kemudian dipakai untuk menyebut “rahim ibu”. Jadi, dari cara pemilihan kata sekali pun, tuntunan berkasih sayang kepada orang tua begitu indah dan manis.

Ada kisah yang masyhur tentang ketaatan ini. Suatu ketika, Nabi Musa AS ingin tahu siapa dari umatnya yang bakal berdekatan dengannya di surga. Allah swt, lalu menunjukkan siapa dan di mana dia tinggal.

Penasaran, Nabi Musa As segera mencarinya. Dia kaget karena pemuda ini memelihara dua ekor babi, yang dia mandikan dengan lembut seolah lupa dengan najis. Akan tetapi, ternyata kedua babi itu adalah kedua orang tuanya yang dikutuk karena saking bejatnya. Namun, sebagai anak yang berbakti, pemuda tadi tetap memeliharanya dengan penuh kasih. Karena baktinya ini, dia mendapat tempat mulia di surga.

Maksudnya, tidak ada urusan bagaimana keadaan ibu/orang tua kita. Yang jelas, surga bisa dimasuki lewat “pintu bakti” kepada ibu/orang tua. Dalam banyak sumber disebutkan jika bagaimanapun keadaan orang tua, termasuk yang mangkir dari cahaya iman, mereka tetap harus dihormati dan dicintai.

Di kalangan sebagian sufi, hakikat “surga di bawah telapak kaki ibu” adalah mulianya kedudukan ibu-ibu mukminah ketika berada di surga. Mereka kelak di surga berada di tempat tertinggi bersama dengan Rasulullah saw, dan golongan lain berada jauh di bawah derajat tersebut. Wallahu a’lam.

loading...