HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Inilah Ongkos Mahalnya Pemeriksaan Polisi

9

HARIANACEH.co.id, JAKARTA – Inisial DI disebut-sebiut dalam kasus penangkapan AKBP Brotoseno dan Kompol DSY pekan lalu karena dua perwira menengah polisi itu diduga menerima suap dari Harris Arthur Haedar pengacara DI.

Polisi tidak menjelaskan identitas DI, tapi dari penetapan tersangka terhadap mantan ketua Tim Kerja Kementerian BUMN, Upik Rosalina Wasrin yang diduga terlibat kasus dugaan korupsi cetak sawah di Ketapang, Kalimantan Barat, inisial DI merujuk kepada Dahlan Islan, bekas atasan Upik di Kementerian BUMN. Apalagi Dahlan pernah beberapa kali diperiksa dalam kasus yang sama.

Karopenmas Polri, Kombes Rikwanto menjelaskan, Harris memberikan uang kepada Kompol DSY dan LMB untuk diserahkan ke Brotoseno. Tujuannya untuk memudahkan pemeriksaan Dahlan. “Jadi diminta jangan terlalu cepat periksa, agak perlambat,” jelas Rikwanto.

Benarkah Harris pengacara DI?

Dikutip dari Tempo.co, Jumat 18 November 2016, Dahlan menegaskan tidak ada naman HR dalam daftar pengacaranya. Pernyataan itu dilontarkan Dahlan sebelum masuk ruang penyidik Subdirektorat III Direktorat Tindak Pidana Korupsi Kepolisian Daerah Jawa Timur.

Dalam situs Jawa Pos Group, nama Harris tercantum sebagai Corporate Lawyer Jawa Pos Group. Di Jawa Pos Group, Dahlan pernah menjabat sebagai CEO.

Kuasa Hukum
Kuasa Hukum

Menurut Rikwanto, polisi menyita uang hampir Rp 3 miliar dari Brotoseno dan DSY. Uang itu diberikan Harris lewat LMB (pelaku lain yang juga ikut ditangkap) dalam dua tahap. Pertama awal Oktober dan sisanya awal November.

Lewat keterangan tertulisnya, Kadiv Propam Mabes Polri, Irjen Idham Aziz merinci, uang suap yang diterima empat orang tersangka itu. Dari tangan Brotoseno, polisi menyita Rp1,7 miliar, dari DSY disita Rp 150 juta, sedangkan dari LMB polisi menyita Rp 1,1 miliar.

Brotoseno adalah eks penyidik di KPK, dan kasus yang menimpanya menunjukkan mahalnya ongkos penegakan hukum di negeri ini. Kasus Brotoseno juga  memperpanjang daftar polisi yang menerima suap. Tahun lalu, Kepala Sub Direktorat III/Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat, AKBP Murjoko Budoyono juga menerima suap.

Dia menjadi terdakwa karena telah menerima uang dari Tommy Paulus Hermawan alias Apau Rp 5 miliar dan dari Cornelis Nicodemus Patty sebanyak US$ 168 ribu. Murjoko divonis empat tahun tujuh bulan penjara.

Setahun sebelumnya, Kasat Reserse Narkoba Polres Melawi, Iptu Gunawan Manurung dipecat dari Polri dan diproses hukum karena menerima suap dari istri pelaku narkoba senilai Rp 50 juta.

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time