HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Penguatan Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak

1

Oleh: Zakia Tutdin S.Sos[1]

Zakia Tutdin S.Sos
Zakia Tutdin S.Sos

HARIANACEH.co.id, BANDA ACEH – Keluarga adalah sebuah hubungan yang memiliki ikatan darah dan ikatan batin seperti ayah, ibu dan anak.  Keluarga merupakan sosialisasi primer bagi anak dan seluruh anggota keluarga karena setiap hari terjadi interaksi antara ayah, ibu, dan anak aktifitas atau interaksi itu berlangsung secara terus menerus, dengan demikian maka terbentuklah tatanan nilai yang di bentuk oleh keluarga. Nilai-nilai inilah yang akan mengubah organisme biologis menjadi manusia. Pada dasarnya orang tua mengajarkan nilai-nilai kebaikan pada anak dan anggota keluarga lainnya, sehingga anak bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat dan mampu menyesuaikan diri dengan norma-norma yang ada dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.

Dalam kehidupan masyarakat ada tiga (3) bentuk keluarga yaitu Pertama, keluarga inti atau keluarga yang terdiri dari seorang ayah , ibu dan anak yang belum kawin.  Didalam keluarga inti pengaruh interaksi sosial masih sangat kental karena belum ada pembagian kasih sayang atau afeksi, baik dari suami terhadap istri maupun orang tua terhadap anak. Kedua, keluarga besar yaitu terdiri dari kakek, nenek, ipar, paman, anak cucu dan sebagainya.  Didalam keluarga ini pembagian kasih sayang akan bertambah dan pemberian orang tua terhadap anak akan berkurang. Ketiga keluarga poligamus yaitu terdiri dari beberapa keluarga inti yang dipimpin oleh seorang kepala keluarga, didalam keluarga ini pengaruh interaksi sudah memudar dilihat dari pembagian kasih sayang sudah meluas karena didalam hal ini seorang ayah akan memberi kasih sayangnya terhadap beberapa istri dan beberapa anak dari beberapa istri yang dinikahinya. Sehingga akan menimbulkan kecemburuan dikarenakan pembagian kasih sayang suami terhadap istri maupun ayah terhadap anak. Biasanya dalam keluarga ini akan mudah terjadi konflik karena faktor kecemburuan, apalagi seorang suami atau ayah yang tidak adil dalam memberi kasih sayang.

Peran adalah aspek dinamis dari kedudukan, yaitu seorang yang melaksanakan hak-hak dan kewajibannya. Peran kepala keluarga adalah menafkahi dan mendidik keluarganya, sedangkan peran ibu rumah tangga adalah mengurus dan mengatur segala keperluan anak dan suami, adapun peran orang tua yaitu menjaga, menyayangi dan mendidik anak, sedangkan peran anak adalah menghormati orang tua dan menuruti perintah orang tua.

Fungsi keluarga adalah sebagai pemuas kebutuhan individu, reproduksi, pemeliharaan, penempatan anak dalam masyarakat, pengaturan seksual, kontrol sosial, sosilisasi.  Fungsi sosialisasi yang dimaksud adalah tugas setiap seorang ayah dan ibu untuk membimbing serta memperkenalkan norma-norma kehidupan kepada sang anak. Seorang istri atau seorang ibu yang berkarier, biasanya sulit untuk berkumpul bersama suami dan anaknya, karena sang suami lelah bekerja, dan sang istri juga demikian, jadi sang anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tua yang sama-sama sibuk, akibatnya sang anak membangkang, dan suka acu tak acuh.  Akibat kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya kebiasaanya sang anak mencari perhatian di dalam lingkungannya, kemudian di sekolah, kenapa banyak anak yang nakal di sekolah hal itu juga ada hubungannya dengan keperdulian orang tua terhadap anak, si anak mencari perhatian lewat guru di sekolah atau dengan cara perhatian lewat media sosial.

Beberapa konflik yang sering terjadi dalam keluarga  pertama Perbedaan prinsip hidup antara orang tua dan remaja, sehingga sering sekali terjadi pertentangan yang sulit untuk diselesaikan.  Kedua Perbedaan pemikiran antara orang tua dan remaja, kebanyakan orang tua masih tetap mempertahankan tradisinya, sedangkan remaja lebih memilih pemikiran modern, yang membuat orang tua cemas sehingga menimbulkan konflik antara kedua belah pihak. Ketiga sulitnya penyesuaian antara orang tua dan remaja, karena perbedaan nilai, pilihan/ keinginan, dan perilaku.

Berikut ini beberapa penggolongan atau kategori kesulitan dalam hubungan orang tua denga remaja mereka yaitu Kategori sangat sulit:

  1. Masalah Seksual
  2. Penyalahgunaan narkoba
  3. Kebiasaan minuman keras
  4. Penyelewengan

Kategori sulit:

Baca Juga
  1. Memilih jenis Pendidikan (Sekolah)
  2. Penggunaan uang
  3. Pemakaian kendaraan bermotor
  4. Rekreasi
  5. Penggunaan waktu luang
  6. Pemilihan hobi yang bermanfaat
  7. Tanggung jawab mengurus milik sendiri
  8. Tata cara berpakaian
  9. Hubungan dengan kerabat.

Kategori agak sulit:

  1. Kebiasaan makan bersama-sama dan sopan santun
  2. Masalah politik
  3. Privacy

Dalam upaya menilai permasalahan di atas hendaknya orang tua tidak hanya menggunakan tolak ukur orang tua, tetapi mereka harus diberi tahu dan diajak untuk memahami hal-hal yang mungkin tidak terpuji. Hindari memberi bimbingan dalam bentuk perintah atau larangan belaka, sebab mungkin mereka akan bimbang. Agar tidak terjurus kearah negatif remaja memerlukan bimbingan yang dilakukan secara persuasif, bukan indoktrinnasi. Tanpa bimbingan yang tepat dan benar, akan terjadi kesulitan pada hubungan dengan orang tua, kerabat, tetangga dan para guru. Para remaja lebih menginginkan bimbingan yang datang dari orang tuanya sendiri, yang diharapkan menjadi tokoh panutan dan ideal baginya.

Orang tua dan remaja berada pada tahap yang berbeda dari siklus kehidupan masing-masing, karena itu tentu saja akan ada jarak waktu antara keduanya. Dikombinasikan dengan masa waktu hidup mereka yang berbeda, dengan nilai-nilai yang berubah, akan menguatkan perbedaan yang ada diantara mereka, secara fisik kemampuan mereka juga berbeda disebabkan karena umur. Stimulus yang datang baik perubahan sosial, nilai, dan lain ditanggapi secara berbeda oleh orang tua dan remaja. Orang tua yang mengalami perlambatan sosialisasi, cenderung selektif dalam memberi respon terhadap stimulus, sedangkan remaja karena energi yang dimiliki makin berlimpah, cenderung dapat lebih banyak merespon perubahan yang terjadi dalam masyarakat.  Dalam merespon perubahan sosial serta nilai-nilai baru tersebut remaja mungkin menyerap hampir semua nilai-nilai baru, termasuk mungkin nilai yang bertolak belakang dengan nilai yang dianut oleh generasi tua. Hal ini dimungkinkan karena generasi muda belum lagi mantap dengan proses internalisasi nilai atau norma-norma masyarakat karena mereka belum lama hidup, dibandingkan dengan generasi lebih tua, yang sepanjang hidupnya terus menerus diekspose pada nilai-nilai atau norma masayarakat.

Proses internalisasi nilai atau norma adalah proses penyerapan nilai atau norma itu secara mendarah daging yang berlangsung sepanjang siklus kehidupan dalam masayarakat. Kondisi inilah yang menjadi potensi terjadinya kesenjagan antara orang tua dan remaja.  Begitu juga dalam pemilihan penentuan pendidikan anak orang tua harus memberi dukungan sesuai keinginan anak  yang paling penting dalam memdidik anak bagaimana orang tua berdiskusi dan melakukan semacam bimbingan  persuasif yang membuat anak termotivasi dengan pendidikan yang akan digelut. Berikan si anak dukungan penuh dalam sebuah pendidikan di sekolah dan pendidikan agama atau moral tidak juga dengan pendidikan itu saja tapi orang tua juga harus mendukung anak dalam bidang hobi seperti kegiatan Ekstrakulikuler, tanyakan kepada anak apa yang dia sukai apakah dibidang seniman, olah raga atau traveling dan sebagainya berikan dia waktu atau kebebasan untuk menuangkan bakat atau hobinya mungkin suatu saat akan bermanfaat baginya untuk berkarir, nah dalam hal begitu tentunya orang tua perlu adanya pengawasan terhadap anak. Pengawasan dengan siapa dia berteman dan apa yang baik dilakukan dan tidak harus ada keseriusan dalam mencegah hal-hal yang negatif. Seberapa besar pengawasan yang harus di kontrol oleh orang tua, nah ini perlu digaris bawahi. Berikan si anak kebebesan tapi awasi teman-temannya artinya orang tua berhak  mengetahui dengan siapa anak bergaul kemudian semua fasilitas anak perlu kiranya di penuhi termasuk uang saku juga perlu di kontrol, dan yang paling penting adalah mengatur waktu anak kapan dia bisa bermain beristirahat dan belajar kiranya perlu diberi batasan waktu yang tegas agar anak punya tanggung jawab dalam mengelola waktu dan juga uang sakunya. Pada intinya kita sebagai orang tua utamakan keselamatan anak dan juga pendidikan anak agar kita memiliki generasi baru yang siap pakai dan bertanggung jawab untuk bangsa dan negara.

Id, ego, dan superego sebuah teori yang di cetus oleh sigmund Freud. Sigmund Freud ahli ilmu syaraf keturunan yahudi dan pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi. Menurut teori psikoanalitik Sigmund Freud, kepribadianterdiri dari tiga elemen. Tiga unsur kepribadian itu dikenal sebagai id, ego, dan superego yang bekerja sama unutk menciptakan perilaku manusia yang kompleks.

Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluri dan primitif.  Id adalah sumber segala enegri psikis sehingga komponen utama kepribadian. Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas langsung, hasilnya adalah kecemasan negara ketegangan.

Ego adalah komponen kepribadian yang bertangung jawab unutk menanggani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Fungsi ego, baik di pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang dapat berusaha unutk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan sosial yang sesuai.  Prinsip realitas beratnya biaya dan manfaat dari suatu tindakan sebelum memutuskan untuk bertindak atas atau meninggakan implus. Dalam banyak kasus, implus id itu dapat dipenuhi melalui proses menunda kepuasan ego pada akhirnya akan memungkinkan perilaku, tetapi hanya dalam waktu yang tepat dan tempat. Superego komponen terakhir unutk mengembangkan kepribadian adalah superego, superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat yang merasa benar atau salah. Superego memberikan pedoman unutk membuat penilaian.

Dalam hal ini penulis mengidentifikasi masalah pendidikan melalui teori id,ego, dan super ego. Pendidikan yang lengkap bukan hanya masalah pendidikan secara Formal tetapi juga pendidikan secara Informal dan yang paling utama adalah pendidikan moral, karena pendidikan moral dapat membentuk anak didik atau generasi muda menjadi generasi yang memiliki asusila yang tinggi dan membentuk sebuah  karakter begitu juga kepribadian dilihat dari tingkat pencapaian super ego yang dimiliki oleh seorang anak, Super Ego ini akan terbentuk dengan Pendidikan Agama atau Moral, baik itu di bentuk dalam Internal (Keluarga) maupun Eksternal (Lingkungan/tempat ngaji).[]


CATATAN KAKI:
  1. Penulis adalah kandidat Mahasiswa Pasca Sarjana Sosial Politik Universitas Syiah Kuala
loading...