HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Sepasang Beruang Madu Yang Terjerat Berhasil Dievakuasi

2

HARIANACEH.co.id, BANDA ACEH – Dua ekor beruang madu (Helarctos Malayanus) yang ditemukan dalam keadaan terjerat perangkap nilon yang dipasang disekitar kebun masyarakat di wilayah barat Aceh berhasil dievakuasi oleh Unit Ambulan Satwa Liar (Wildlife Ambulance) pada kamis (24/11/2016).

Unit ambulan satwa liar ini adalah fasilitas dari sebuah program kerjasama antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dengan Pusat kajian Satwa Liar (PKSL)–Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala.

Instalasi bedah Rumah Sakit Hewan Pendidikan Prof. Dr. Nurjanto – FKH Universitas Syiah Kuala saat melakukan operasi kepada seekor Beruang Madu Jantan, Rabu (24/11).
Instalasi bedah Rumah Sakit Hewan Pendidikan Prof. Dr. Nurjanto – FKH Universitas Syiah Kuala saat melakukan operasi kepada seekor Beruang Madu Jantan, Rabu (24/11). (HARIANACEH.co.id/ipuL Hayat)

Pihak BKSDA yang pertama kali menerima laporan dari masyarakat pada hari Rabu sore (23/11/2016), langsung melakukan konfirmasi ke lapangan untuk memastikan dan segera melakukan koordinasi selanjutnya dengan Pusat Kajian Satwa Liar-FKH Unsyiah yang kemudian segera menurunkan unit Wildlife Ambulance-nya ke lokasi kejadian bersama tim BKSDA, Jarak yang cukup jauh dari Banda Aceh, membuat tim gabungan tersebut baru dapat melakukan penanganan di lokasi pada pagi keesokan harinya, segera sesampainya tim di lokasi kejadian.

Salah satu beruang madu yang terjerat berjenis kelamin betina, hanya mengalami cedera ringan dan dapat dilepas liarkan ke habitat aslinya segera setelah mendapat sedikit penanganan medis di lokasi kejadian. Sementara satu ekor lainya yang berjenis kelamin jantan mengalami cedera yang cukup parah sehingga harus ditangani lebih lanjut di instalasi bedah Rumah Sakit Hewan Pendidikan Prof. Dr. Nurjanto – FKH Universitas Syiah Kuala di Darussalam-Banda Aceh.

Instalasi bedah Rumah Sakit Hewan Pendidikan Prof. Dr. Nurjanto – FKH Universitas Syiah Kuala saat melakukan operasi kepada seekor Beruang Madu Jantan, Rabu (24/11).
Instalasi bedah Rumah Sakit Hewan Pendidikan Prof. Dr. Nurjanto – FKH Universitas Syiah Kuala saat melakukan operasi kepada seekor Beruang Madu Jantan, Rabu (24/11). (HARIANACEH.co.id/ipuL Hayat)

Wartawan HARIANACEH.co.id yang berkesempatan menyaksikan proses operasi beruang madu ini melihat kondisi pergelangan kaki belakang sebelah kanan yang nyaris putus karena tercekik oleh jerat nilon yang tajam, dan jari-jari kaki depan sebelah kiri yang juga sudah terputus dan meninggalkan satu cakar yang tersisa dan tulang jari yang mencuat. Operasi terlihat berjalan lancar, dan seluruh anggota tim bedah yang dipimpin oleh Dokter Arman Sayuti terlihat sibuk melakukan tugas masing-masing dengan cekatan.

Kepala Pengendali Ekosistem dan Perlindungan Satwa BKSDA Aceh, Andi Aswinsyah atau yang lebih dikenal dengan panggilan Acep ketika ditanyai menjelaskan kepada HARIANACEH.co.id, bahwa pihak BKSDA kerap menerima laporan terkait satwa liar yang mengalami kondisi emergency seperti ini, beruang, harimau dan gajah menurut beliau adalah satwa yang paling sering terjerat dan harus ditangani untuk dilepaskan atau harus dievakuasi apabila pertimbangan medis menghendaki penanganan lebih lanjut.

Instalasi bedah Rumah Sakit Hewan Pendidikan Prof. Dr. Nurjanto – FKH Universitas Syiah Kuala saat melakukan operasi kepada seekor Beruang Madu Jantan, Rabu (24/11).
Instalasi bedah Rumah Sakit Hewan Pendidikan Prof. Dr. Nurjanto – FKH Universitas Syiah Kuala saat melakukan operasi kepada seekor Beruang Madu Jantan, Rabu (24/11). (HARIANACEH.co.id/ipuL Hayat)

“Prinsip kesegeraan, adalah sangat penting dalam penanganan satwa terjerat, karena penundaan setiap waktu dapat merubah situasi menjadi kritis bagi satwa yang terjerat,” jelas Acep.

“Tanpa menunda lebih lama, pada malam yang sama setelah melakukan persiapan pada pukul 22:00 Wib kami baru dapat berlepas dari Banda Aceh menuju lokasi kejadian, dan sampai di lokasi kejadian pada pukul 6:00 Wib pagi keesokan harinya dan pada pukul 8:00 Wib kami telah dapat melakukan evakuasi kedua beruang madu tersebut dengan lokasi jeratan yang terpisah lebih kurang 1 kilometer antara satu beruang dan lainya,” tambahnya.

Saat ditanyakan HARIANACEH.co.id tentang status konservasi satwa beruang madu, Ketua Pusat Kajian Satwa Liar (PKSL)-FKH Unsyiah, drh. Wahdi Azmi mejelaskan bahwa beruang madu termasuk dalam daftar mamalia yang dilindungi sesuai dengan lampiran dari PP. no. 7 tahun 1999, ancaman kehilangan dan penurunan kualitas habitat serta perburuan untuk dambil kantung empedu untuk pengobatan tradisional serta bagian tubuh lainya, menjadi ancaman utama bagi kelestarian spesies ini di alam liar.

Ia menambahkan bahwa sesungguhnya perangkat hukum di Negara Indonesia mengancam hukuman kurungan 5 tahun penjara dan denda Rp 100.000.000,- bagi siapa yang sengaja menangkap, melukai dan membunuh hewan yang dilindungi UU, termasuk beruang madu.

“Dengan cedera yang dialaminya, meskipun pulih akan sulit untuk bisa berkompetisi di alam liar. Beruang dengan kondisi seperti ini masih dapat diberdayakan fungsi konservasinya di lembaga penangkaran atau lembaga konservasi ek-situ untuk mendukung program pendidikan bagi masyarakat,” jelasnya.[]

Editor: ipuL Hayat

loading...