HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Begini Keadaan Aleppo Sebelum dan Sesudah Konflik

10

HARIANACEH.co.id, ALEPPO – Konflik empat setengah tahun yang melanda Aleppo memasuki babak baru. Gencatan senjata terkini kembali diberlakukan. Warga yang mendukung pemberontak dan memilih menetap di Aleppo diberi waktu untuk keluar dari kota tersebut.

Namun, itu tidak mudah. Dilaporkan Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), beberapa jam setelah tenggat waktu evakuasi tidak ada seorang pun yang muncul. Hal ini tidak diperdiksi sebelumnya. Pasalnya rezim berkuasa meyakini sudah menguasai Aleppo dan memaksa pemberontak untuk menyerah.

Lagi pula kota Aleppo sudah hancur lebur tak berbentuk. Konflik tersebut menghancurkan hampir semua sudut kota Aleppo yang sudah berusia empat ribu tahun. Bom, rudal, dan tembakkan meremukkan bangunan-bangunan Aleppo yang sebagian masuk dalam situs bersejarah UNESCO.

Salah satu yang hancur adalah Masjid Umayyad. Beberapa tembok bangunan tersebut runtuh luluh lantak. Padahal, itu menjadi ikon Aleppo sebelumnya. Pun demikian dengan jalan-jalan dan bangunan-bangunan bersejarah lain. Tak sampai 10 tahun yang lalu, bangunan-bangunan itu masih kokoh berdiri dan menjadi daya tarik wisatawan. Sekarang yang ada hanya reruntuhan dan debu.

Pada awal pekan ini, pasukan pemerintahan Presiden Bashar Al Assad mulai menduduki kantong-kantong oposisi bersenjata di kawasan timur Aleppo. Tidak sekadar menyisir bekas lokasi kekuasaan musuh untuk menangkapi pemberontak, pasukan Assad juga menarget warga sipil. Siapa pun yang terlihat saat mereka melakukan razia langsung dieksekusi. Militer Syria menembak mati sedikitnya 82 warga sipil dalam kurun waktu kurang dari 72 jam.

’’Ada sebelas perempuan dan 13 anak-anak yang menjadi korban,’’ kata Jubir Komisi HAM PBB Rupert Colville kemarin (13/12). Eksekuti mati dengan tembakan itu terjadi di empat lokasi berbeda di kawasan timur Aleppo. Empat lokasi tersebut adalah Bustan Al Qasr, Al Fardous, Al Kalasah, dan Al Saliheen. Kabarnya, militan Iraq Harakat Al Nujaba juga terlibat dalam eksekusi itu.

PBB menyatakan, seluruh korban eksekusi ala militan radikal ISIS tersebut merupakan warga sipil. Sebagian di antaranya adalah penduduk yang berusaha menghindari pertempuran tanpa ujung di kota itu. ’’Kami juga mendapatkan informasi bahwa pasukan pemerintah memasuki rumah-rumah warga dan menembak mati siapa pun yang mereka jumpai di sana,’’ lanjut Colville dalam jumpa pers di Kota Jenewa, Swiss.

Kekejian pasukan Assad membuat White Helmets yang bermarkas di Aleppo cemas. Sebab, kantor pusat mereka hanya berjarak sekitar 200 meter dari pos pasukan Assad. Organisasi kemanusiaan yang melancarkan misi penyelamatan sukarela di medan perang tersebut pun hanya bisa pasrah. ’’Takdir kami sudah digariskan. Buat apa menghindar. Bersembunyi juga tak akan membantu,’’ kata Ibrahim Abu Al Laith, jubir White Helmets.

Sekitar 90 persen kawasan timur Aleppo yang menjadi area oposisi sejak 2012 itu dikuasai tentara Assad. ’’Ada puluhan mayat di jalanan kota. Warga yang selamat pun tak berani mengevakuasi mayat-mayat itu untuk dimakamkan. Sebab, serangan udara tak kunjung mereda,’’ kata Rami Abdel Rahman.

Pria yang menjabat sebagai direktur regional SOHR tersebut mengimbau masyarakat internasional segera bertindak. Seruan yang sama disampaikan Jan Egeland, pemimpin organisasi HAM PBB di Syria. Dia mengimbau Damaskus dan Moskow berhenti menghancurkan Aleppo dan merenggut nyawa warga sipil yang tak berdosa. ’’Kami butuh gencatan senjata untuk bisa mengevakuasi warga yang terluka dan terjebak di puing-puing Kota Aleppo,’’ tulis Egeland di Twitter. (AFP/Reuters/BBC)

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time