HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Resiko Buruk Mencukur Bulu Kemaluan

7

HARIANAACEH.co.id – Bagi kebanyakan perempuan dan sebagian pria mencukur bulu di sekitar kemaluan adalah hal biasa. Baik merapikan, mencabut, atau mencukurnya habis.

Kebiasaan mencukur bulu kemaluan terlihat lewat hasil sebuah studi di Amerika Serikat. Terbukti bahwa 62 persen perempuan di negeri Paman Sam, menghilangkan seluruh bulu kemaluan. Sementara 84 persen lain mencukurnya. Mereka beralasan, aktivitas menghilangkan bulu kemaluan meningkatkan higienitas. Padahal, tidak demikian menurut dokter.

Kini, sebuah penelitian dari University of California, San Francisco, AS menunjukkan efek buruk dari mencukur bulu kemaluan. Penelitian tersebut mengamati 7.580 orang dewasa dan kebiasaan mereka mencukur bulu kemaluan.

Dalam riset yang dipublikasikan jurnal Sexually Transmitted Infections, periset mencari tahu kemungkinan adanya hubungan antara praktik cukur bulu, aktivitas seksual, dan sejarah STI (penyakit menular seksual). “Hipotesis kami adalah, mencukur bulu kemaluan berhubungan secara positif dengan penyakit menular seksual,” tulis periset.

Mereka tak menyatakan bahwa bercukur langsung menyebabkan infeksi. Namun, baik perempuan maupun lelaki yang menghilangkan bulu kemaluan mereka cenderung mengarah pada meningkatnya risiko penyakit menular seksual daripada mereka yang tidak mencukur bulu kemaluan.

Lebih detailnya, periset membagi subjek dalam empat kategori. Pencukur ekstrem, menghilangkan bulu kemaluan lebih dari 11 kali per tahun. Pencukur frekuensi tinggi, mencukurnya setiap hari atau setiap pekan. Pencukur nonekstrem, menghilangkan seluruh atau sebagian bulu kemaluan sesekali. Pencukur frekuensi rendah, membiarkan bulu kemaluan apa adanya.

Saat keempat kategori tersebut disandingkan dengan aktivitas seksual dan tingkat kemungkinan terjangkit penyakit menular seksual, periset menemukan mencukur bulu kemaluan meningkatkan risikonya. Mereka yang mencukur bulu kemaluan cenderung lebih tinggi kemungkinannya melaporkan sejarah menderita herpes, HPV dan sifilis.

Mereka berhipotesis risiko itu meningkat karena robekan halus pada kulit akibat cukur atau merapikan bulu kemaluan dapat berujung infeksi. Seperti dinyatakan dalam penelitian lain sebelum ini.

Pun demikian TIME mencatat, hasil riset ini tidak menyatakan mencukur bulu kemaluan meningkatkan kemungkinan seseorang terjangkit penyakit menular seksual. Sulit menentukan penyebab dan efek, bahkan menentukan mana yang lebih dulu, proses mencukurnya, atau infeksi.

Menurut penulis utama riset, Dr Charles Osterberg, bisa juga diartikan, mencukur bulu kemaluan adalah tanda seseorang punya kecenderungan melakukan seks berisiko. Jika itu benar, kata Osterberg, maka dokter perlu menanyakan praktik seks yang aman menurut pasien, atau sejarah seksualnya ketika melihat pasien yang bulu kemaluannya dicukur.

Tubuh manusia sudah dirancang sedemikian rupa. Hampir seluruh bagian tubuh memiliki fungsi masing-masing. Jika kita membiarkan dan menjaga apa adanya, hasilnya pun niscaya baik. Bahkan bagian yang Anda pikir mungkin tak berguna–seperti bulu kemaluan. Karenanya tak perlu heran jika usaha mengubahnya dapat menyebabkan efek yang tak diinginkan.

Akan tetapi tak bisa juga dipungkiri, bagi sebagian orang mencukur bulu kemaluan sudah jadi kebiasaan. Untuk melindungi diri dari peningkatan risiko, tip yang dilansir Huffington Post berikut dapat Anda praktikkan.[]

loading...