HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Soal Rohingya, Malaysia Minta Myanmar Transparan

Menlu Malaysia Anifah Aman (ujung kiri) dalam ASEAN Retreat di Yangon, Myanmar, 19 Desember 2016. (Kemenlu RI)
24

HARIANACEH.co.id — Malaysia pernah menuduh Myanmar melakukan pembersihan etnis dan genosida terkait sejumlah laporan aksi kekerasan terhadap etnis Rohingya di Rakhine.

Myanmar membantah keras tuduhan tersebut, dan balik menudin Malaysia, terutama Perdana Menteri Najib Razak, hanya ingin mencari popularitas.

“Kami yakin untuk menghilangkan tuduhan pembersihan etnik atau genosida, maka pemerintah (Myanmar) harus transparan dan memberikan informasi akurat serta akses ke daerah terdampak,” ujar Menteri Luar Negeri Malaysia Dato Sri Anifah Aman dalam keterangan tertulisnya di ASEAN Retreat di Yangon, Myanmar, Senin (19/12/2016).

Sebelumnya, Menlu Aman pernah meminta bertemu langsung pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi. Namun permohonan ini ditolak mentah-mentah Suu Kyi ketika itu, yang tidak menerima tuduhan dari Malaysia.

“Saat saya meminta bertemu, saya memintanya dengan niat murni untuk membantu Myanmar menghadapi tantangan terkait isu ini,” ungkap Menlu Aman.

Menlu Indonesia Retno Marsudi melayangkan permohonan serupa, dan diterima dengan baik oleh Suu Kyi. Menlu Retno mengungkapkan kekhawatiran Indonesia mengenai Rakhine dan meminta dibukanya akses bantuan. Suu Kyi menyanggupi.

Dalam ASEAN Retreat, Suu Kyi mengatakan akses bagi media termasuk media asing mulai dibuka, dan akses bantuan kemanusiaan juga telah diberikan lebih besar, termasuk untuk bantuan kemanusiaan dari PBB mulai tanggal 19 Desember. Akses kemanusiaan kepada PBB telah dikonfirmasi wakil PBB di Myanmar dalam Pertemuan dengan Menlu Retno di Yangon tanggal 18 Desember.

Suu Kyi juga menyampaikan mengenai kompleksitas permasalahan dan perkembangan terakhir di Rakhine State. Situasi di Rakhine State merupakan masalah kompleks yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Para Menlu ASEAN menyambut baik usulan Menlu Retno agar dilakukannya briefing secara regular terkait perkembangan di Rakhine State. Langkah ini dipandang akan dapat membantu memberikan gambaran situasi sebenarnya, sehingga ASEAN dapat memberikan bantuan yang tepat untuk mendukung langkah afirmatif di Rakhine State.

Selain itu, para Menlu juga sepakat agar bantuan kemanusiaan dan pembangunan negara-negara ASEAN dapat disalurkan bersama secara inklusif, termasuk melalui mekasnisme ASEAN seperti AHA Center.

Operasi militer Myanmar di Rakhine dilakukan setelah terjadinya serangan terhadap pos penjaga perbatasan pada 9 Oktober. Serangan yang menewaskan sembilan polisi itu dituduh Myanmar dilakukan militan dari Rohingya.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat