HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Inilah Penyebab Mantan Narapidana Terorisme Kembali Jalankan Aksi Teror

Diskusi Publik Laboratorium Ilmu Politik Fisip Unsyiah yang berlangsung pada Jumat (23/12/2016). (Dok. FISIP Unsyiah)
9

HARIANACEH.co.id, BANDA ACEH – Penangkapan yang dilakukan oleh tim detasmen khusus 88 Polri terhadap pihak terduga teroris jaringan Bahrun Naim yang diketahui merupakan resedivis pelaku teror, dalam berapa hari belakang ini menunjukkan bahwa pembinaan dan pengawasan narapidana terorisme yang dilakukan saat ini  belumlah efektif dan terintegrasi dengan sepenuhnya, mantan narapidana tindak pidana terorisme yang telah bebas kembali menjadi teroris bahkan dengan kualifikasi yang lebih tinggi, mereka umumnya masih bersedia membantu di belakang layar dalam menjalankan aksi terorisme.

Hal tersebut terungkap dalam diskusi publik “Efektivitas Pemutusan Mata Rantai Terorisme di Indonesia: Paradoks Pengawasan dan Pembinaan Mantan Narapidana Terorisme” yang gelar oleh Laboratorium Ilmu Politik Fisip Universitas Syiah Kuala di aula Fisip pada hari Jumat (23/12).

Kepala Balai Pemasyarakatan Kelas II Banda Aceh Jumadi SH yang hadir sebagai nara sumber  pada diskusi itu mengatakan balai pemasyarakat (bapas) di Indonesia seharusnya berjumlah 500, namun untuk saat ini Bapas yang tersedia diseluruh Indonesia hanya 77 dan 2 dari Bapas itu berada di Aceh.

“Jumlah orang yang ditangani oleh bapas mencapai 2000 orang tentulah hal itu tidak sesuai dengan rasio jumlah Bapas yang ada di Aceh, hal ini yang membuat kita kewalahan dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap mantan narapinda terorisme,” ungkapnya.

Ia juga menyebutkan pihak Bapas telah melakukan upaya-upaya untuk mengoptimalkan  deradikalisasi mantan narapidana terorisme agar tidak mengulang lagi perbuatannya meskipun dana yang tersedia sangat terbatas.

“Anggaran yang disediakan saat ini masih terbatas, terlebih lagi  undang-undang kita saat ini mengamanatkan masalah hukum terhadap anak-anak juga di tangani oleh bapas,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Rutan Kelas II Sabang Tri Budi Haryoko Amd Ip, SH, MH yang turut hadir menjadi narasumber menyampaikan bahwa ideologi atau pemahaman radikal pelaku terorisme mengalahkan rasa takut mereka terhadap hukum yang berlaku.

“Para pelaku aksi terorisme tidak gentar dengan hukuman pidana yang diancam kepada mereka, bahkan ada sebagian dari mereka yang tidak kooperatif dan tidak mau bekerja sama dengan petugas untuk mengungkap mata rantai terorisme,” tandasnya.

Sosiolog Unsyiah Bukhari, SE, MHSC yang mengkaji gejala kembalinya mantan teroris dari aspek sosiologi menjelaskan bahwa penerimaan masyarakat luas dalam lingkungan sosial terhadap mantan pelaku terorisme agar kembali bisa hidup normal merupakan hal utama yang harus dilakukan agar para mantan teroris tidak kembali pada perbuatnya. “Seharusnya kita jangan menjudge dan menjauhi mantan teroris yang telah bebas, mereka harus kita rangkul dan dibina,” ujarnya.

Kurniawan, S.H., LLM narasumber yang mewakili FKPT Aceh menyebutkan salah satu yang menyebabkan mantan narapidan terorisme mengulang aksi terornya kembali dikarenakan untuk balas dendam atas perlakuan kekerasan terhadap mereka di masa pemerikasaan dan penahanan oleh petugas.

”Ada beberapa aksi yang dilakukan oleh pelaku teror itu untuk melakukan balas dendam baik itu dedamnya sendiri ataupun dendam teman sekelompoknya,” pungkasnya.

Disamping itu narasumber lainnya Yarmen Dinamika mengungkapkan bahwa dari rentetan fenomena terorisme yang terjadi di Aceh menunjukkan bahwa orang Aceh berpeluang tertarik bergabung dengan kelompok radikal dan terorisme justru di saat berada di luar Aceh.

”Dari beberapa pengusutan kasus teroris asal Aceh terungkap ternyataorang Aceh itu masuk ke kelompok radikal dan menjadi teroris itu diluar Aceh.”

Ia juga mengajak masyarakat Aceh untuk tetap waspada, karena ketika gerakan radikalisme dan terorisme dibombardir dan dipersempit ruang geraknya di Syiria dan Irak, maka sangat mungkin mereka menyebar teror ke Eropa, termasuk ke Asia, khususnya Indonesia, untuk menunjukkan bahwa ideologi dan jaringan terorisme sebetulnya masih eksis, dan belum tamat.

“Perlu dicatat bahwa nama Bahrain Naim tidak termasuk dalam daftar alumni eks Jalin, ini mengidentifikasikan selain kelompok Jalin ada sel teroris lain yang berhasil membujuk putra Aceh untuk bergabung menjadi teroris,”  tutupnya.[*]

Komentar
Sedang Loading...
Memuat