HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Peutjut yang Sunyi, Perang Aceh yang Terlupakan oleh Orang Aceh

23

HARIANACEH.co.id, BANDA ACEH –Jika berwisata ke Aceh, sempatkan mengunjungi Kerkhop Peucut — pemakaman serdadu Hindia-Belanda yang tewas dalam Perang Aceh.

Peutjut, begitu orang Belanda, menyebutnya sedemikian sunyi. Seolah tidak ada yang menyambangi tempat ini. Anton Stolwijk, dalam tulisan berjudul De vergeten Atjeh-oorlog di situs javapost.nl, mengutarkan kegundahan akan semakin dilupa arti Kerkhof Peucut dan Perang Aceh.

Pemakaman kuburan serdadu Belanda itu terletak di tengah kota, diapit Museum Tsunami dan sekolah. Namun kerumunan wisatawan Indonesia, yang datang dari berbagai kota di Pulau Jawa, lebih suka hanya mengunjungi Museum Tsunami dan mengabaikan Peucut.

Peucut bukan sekadar pemakaman serdadu Belanda, tapi saksi bisu kehebatan rakyat Aceh melawan serdadu Belanda. Ribuan serdadu Belanda dimakamkan di sini, dan nama-nama mereka tertera di gerbang Peucut.

Sejenak membaca nama-nama di gerbang itu, pengunjung akan tahu betapa serdadu Hindia-Belanda yang bertempur di Aceh terdiri dari berbagai suku; Jawa, Ambon, dan lainnya.

Wisman yang datang ke Peucut mengisi daftar tamu dan menuliskan komentarnya. Wisatawan lokal tidak. Wisman datang untuk mendengarkan kisah Perang Aceh dari pemandu wisata, wisatawan lokal hanya berselfie dan ha…ha…ha.

Peucut tidak hanya penting bagi rakyat Aceh, tapi juga bagi Indonesia dan Belanda. Serdadu yang dimakamkan di sini adalah mereka yang terlibat dalam salah satu dari seratus perang besar dalam sejarah umat manusia, yaitu Perang Aceh 1873-1914.

Dua tahun lalu Belanda memperingati seratus tahun berakhirnya Perang Aceh. Ada diskusi dan upacara kecil untuk mengenang mereka yang tewas. Sekitar 100 ribu, kebanyakan rakyat Aceh, tewas dalam perang itu.

Tentang aksi pilisional telah banyak ditulis. Pemerintah Belanda juga beberapa kali mengadili serdadu yang terlibat kejahatan perang selama operasi militer di Aceh. Namun, Perang Aceh adalah lonceng besar yang akan terus berbunyik dan memekakan telinga.

“Hampir tidak ada generasi Belanda saat ini yang mengidentifikasi diri dengan Perang Aceh,” kata Prof Henk Schulte Nord Holt dari Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV). “Orang Belanda lebih sibuk dengan isu perbudakan di masa lalu, karena banyak keturunan budak yang tinggal di Belanda. Perang Aceh hanya dilihat sebagai tindakan tidak benar secara politik.”

Ekspedisi yang Memalukan

Algemeen Handelsblad, dalam kolom Metje, menulis tentang hari pertama invasi Hindia-Belanda ke Atjeh. “Interior Atjeh benar-benar tidak diketahui. Orang Belanda hanya sedikit tahun tentang Aceh,” demikian tulisan dalam kolom itu.

“Orang Aceh adalah Muslim nominal, tak bermoral, angkuh, dan dikenal tidak jujur,” lanjut si penulis kolom.

Kolom itu muncul pada 6 April 1873, atau saat pasuka Hindia-Belanda memulai invasi ke Aceh. Saat itu, Aceh adalah negara merdeka, dengan wilayah mencakup seluruh bagian utara Pulau Sumatera.

Serbuah ke Aceh adalah upaya Hindia-Belanda memperluas kekuasaan di Sumatera. Aceh saat itu, terhitung sejak pembukaan Terusan Suez 1869, adalah produsen lada paling utama di dunia.

Belanda tergiur menguasai Aceh, setelah sukses mencaplok Kesultanan Jambi, Siak, Deli, dan beberapa kesultanan lagi. Upaya dimulai dengan berbagai intrik diplomatik dan provokasi.

Aceh menjadi target logis untuk dikuasai secara militer, setelah upaya diplomatik gagal dan Hindia-Belanda harus menguasai pasokan produksi lada dari Aceh. Orang Aceh tahu Belanda akan mencaplok wilayah mereka, dan mejadikannya negeri jajahan.

Mereka mempersiapkan diri bagi kemungkinan serangan Hindia-Belanda. Mereka mejalin hubungan diplomatik dengan Inggris, Prancis, AS, dan meminta perlindungan ke Kekaisaran Ottoman.

Ketika kapal-kapal Belanda mendarat di pantai Aceh, Sultan Aceh menulis surat bernada putus asa kepada gubernur jenderal Inggris di Singapura. “Kami mengandalkan bantuan Anda. Hubungan Aceh dan Inggris selalu baik.”

Upaya diplomatik lainnya adalah meminta bantuan ke Istanbul, karena keduanya terikat perjanjian selama sekian ratus tahun. Banyak pakar menginterpretasikan perjanjian itu menempatkan Kekaisaran Ottoman sebagai pelindung Aceh dengan mayoritas Muslim di Asia Tenggara.

Salah satu pasal perjanjian Aceh-Ottoman menyebutkan salah satu terancam lainnya harus membantu. Namun saat Aceh terancam, Ottoman bukan lagi kekaisaran kuat dan tidak punya kemampuan mengirim pasukan ke negeri yang jauh.

Situasi ini membuat Aceh sendirian, tanpa teman dekat dan jauh. Aceh harus mempertahankan diri sendiri, dengan segala keterbatasannya.

Invasi berlangsung. Belanda menyerang Koetaradja, ibu kota Kesultanan Aceh yang kini bernama Banda Aceh, dengan keunggulan senjata dan pasukan terlatih.

Namun, dalam salah satu catatan pribadinya, seorang perwira Belanda menulis; “Ketahanan Aceh sangat di luar dugaan. Lawan kami memiliki pasukan yang besar.”

Ekspedisi 1873 gagal total, dengan seperempat serdadu Hindia-Belanda tewas dan terluka. Sayangnya tidak ada penjelasan tentang jumlah pasukan Hindia-Belanda saat itu.

“Kami kehilangan seperempat dari jumlah pasukan. Aceh mungkin lebih banyak lagi,” tulis sang perwira. “Orang-orang Aceh berpakaian putih-putih. Mereka melakukan segala cara dan memaksa pasukan kami bertempur dengan kelewang atau pedang.”

Di akhir catatannya, perwira itu menulis; “Kami harus mundur dengan rasa malu.”

Lokasi pendaratan pasukan Hindia-Belanda masih ada, yaitu Pante Ceureumen atau Pantai Cermin — di sebelah timur Ulee Lheue. Kini pantai itu menjadi lokasi kencan muda-mudi Aceh.

Tidak ada lagi tugu peringatan pendaratan pertama pasukan Hindia-Belanda di pantai ini. Tsunami menghancurkan segalanya, dan belum ada upaya membangunnya lagi.[]

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time