HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Hingga Penghujung 2016, Aksi Teror Masih Terus Mengancam

10

HARIANACEH.co.id – Medio 2016 masih diwarnai serangkaian aksi teror berupa penembakan dan pengeboman di berbagai penjuru dunia.

Berikut daftar aksi teror yang memiliki dampak signifikan dalam hal skala serta jumlah korban periode Juli-Desember 2016:

Juli 2016
Pengeboman di Karrada, Irak

Pada 3 Juli, serangan bom di Baghdad berujung pada tewasnya lebih dari 300 orang dan sekitar 100 lainnya terluka. Beberapa menit setelah tengah malam, sebuah truk bom menyasar distrik Karrada yang sebagian besar dihuni Muslim Syiah.

Bom kedua diledakkan di Sha’ab dan menewaskan sedikitnya lima orang.

Kelompok militan Islamic State (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan dan menyebut pelaku di Karrada bernama Abu Maha al-Iraqi. Terdapat beberapa laporan sumber ledakan adalah mobil van yang diisi bahan peledak. Ledakan menimbulkan kebakaran besar di jalan utama. Beberapa bangunan, termasuk Hadi Center, rusak parah.

Pengeboman ini merupakan serangan bunuh diri terparah kedua di Irak dalam jumlah korban tewas setelah pengeboman terhadap komunitas Yazidi pada 2007, dan juga serangan teroris paling mematikan di Irak yang dilakukan satu orang pelaku.

Pengeboman di Ansbach, Jerman

Sebanyak 15 orang terluka, empat cukup parah, akibat bom bunuh diri di luar sebuah bar di Ansbach, Jerman. Pelaku bernama Mohammad Daleel, adalah seorang pengungsi 27 tahun asal Suriah yang sudah mendeklarasikan kesetiaan kepada pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi. Daleel adalah satu-satunya orang yang tewas dalam kejadian.

Menurut keterangan otoritas Jerman, Daleel telah berhubungan dengan ISIS dan merencanakan beberapa serangan sebelum bom di ranselnya meledak secara tak disengaja.

Insiden ini terjadi setelah tiga serangan lainnya di Jerman dalam sepekan terakhir, termasuk penusukan yang menewaskan wanita hamil di Reutilngen, penembakan massal di Munich dan serangan di kereta api di Wurzburg.

Kasus di Ansbach adalah bom bunuh diri pertama dalam sejarah Jerman. Sementara Cuneyt Ciftci, pelaku bom bunuh diri di Afghanistan pada 2008, yang sebelumnya tinggal di Ansbach, adalah bomber pertama yang lahir dan dibesarkan di Jerman.

Penusukan di Gereja Katolik Normandy

Dua ekstremis beraksi dalam sebuah misa di gereja Katolik di Saint-Etienne-du-Rouvray, Normandy, Prancis Utara. Memegang pisau dan memakai sabuk bahan peledak palsu, kedua pria menyandera enam orang dan membunuh salah satunya, pastor Jacques Hamel, dengan cara menggorok leher. Kedua pria juga melukai seorang pria berusia 86.

Kedua teroris ditembak mati kepolisian setempat saat hendak meninggalkan gereja.

Mereka teridentifikasi sebagai Adel Kermiche dan Abdel Malik Petitjean. Keduanya telah mendeklarasikan kesetiaan kepada ISIS, yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan.

Agustus 2016
Serangan di RS Quetta

Kelompok teroris menyerang Rumah Sakit Pemerintah Quetta di Pakistan dengan bom bunuh diri dan penembakan. Mereka membunuh 70 orang dan melukai lebih dari 130 lainnya.

Sebagian besar korban tewas adalah pengacara yang berkumpul di Pakistan untuk melihat jasad Bilal Anwar Kasi, seorang advokat ternama. Bilal adalah presiden dari Asosiasi Bar Balochistan, yang tewas ditembak seorang pria tak dikenal.

Serangan di Quetta diklaim dua grup ekstremis berbeda, yakni Jamaat-ul-Ahrar dan ISIS. Korban tewas berjumlah antara 70 dan 94 orang, di mana 54 di antaranya adalah pengacara.

Pada 6 Desember, otak di balik serangan di Quetta, Jehangir Badini, tewas dalam operasi pasukan keamanan di Pishin.

Pembantaian di Beni, Kongo

Sejumlah pria bersenjata menyerbu distrik Rwangoma di kota Beni, Republik Kongo. Sedikitnya 64 orang tewas dalam penyerbuan ini, setelah 64 jenazah ditemukan. Otoritas setempat memperkirakan total kematian mungkin antara 75 hingga 101.

Grup pemberontak Uganda, Allied Democratic Forces (ADF), diduga sebagai otak di balik pembantaian, meski Boko Haram juga dikenal pernah melakukan aksi serupa.

Kejadian ini merupakan bagian dari serangkaian pembantaian di Beni yang menewaskan lebih dari 700 orang sejak Oktober 2014.

Bom Pesta Pernikahan di Gaziantep, Turki

Seorang pelaku bom bunuh diri beraksi di sebuah pesta pernikahan di Gaziantep, Turki. Lebih dari 200 orang hadir dalam pesta tersebut. Total 57 orang tewas dan 66 lainnya terluka.

Sebagian besar korban tewas adalah anak-anak, dengan 34 di antaranya berusia di bawah 18. Sebanyak 13 korban tewas adalah wanita.

Menurut berbagai laporan, pelaku serangan ini adalah seorang bocah berusia antara 12 hingga 14 tahun. Kelompok militan Islamic State (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan.

Serangan di American University of Afghanistan

Kelompok bersenjata yang diduga Taliban menyerbu American University of Afghanistan di Kabul dengan menggunakan bom mobil dan senjata otomatis. Sebanyak 16 atau 17 orang tewas, termasuk delapan mahasiswa, tiga polisi, tiga satpam dan dua profesor.

Sebanyak 53 orang terluka, beberapa kritis. Tiga pelaku ditembak mati Pasukan Khusus Afghanistan.

Ini merupakan serangan langsung pertama Taliban ke sebuah universitas di Afghanistan, meski di masa lalu serangan terkait menewaskan 21 orang.

September 2016
Pengeboman di Kota Davao, Filipina

Pengeboman di sebuah pasar malam terjadi di Kota Davao, Filipina Selatan, 2 September. Serangan menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai 70 lainnya. Pada 13 September, satu korban luka yang merupakan seorang wanita hamil, meninggal dunia sehingga jumlah korban tewas menjadi 15.

Kelompok militan Abu Sayyaf dilaporkan mengklaim bertanggung jawab atas pengeboman, namun membantah di kemudian hari. Abu Sayyaf menegaskan bahwa sekutu mereka, Daulat Ul-Islamiya, adalah yang bertanggung jawab atas pengeboman.

Pada 2 Oktober, tiga dari sepuluh tersangka ditahan otoritas Filipina. Mereka yang ditangkap terkait dengan Maute Group yang juga memiliki hubungan dengan Abu Sayyaf.

Ledakan di Dekat Kemenhan Afghanistan

Bom bunuh diri ganda di dekat Kementerian Pertahanan Afghanistan menewaskan lebih dari 41 orang dan melukai 103 lainnya pada 5 September. Beberapa jam setelahnya, ledakan besar kembali terdengar.

Taliban mengklaim serangan pertama, dan mengatakan pejuang mereka telah membunuh 58 orang. Dilaporkan seorang jenderal dan satu kepala kepolisian tewas dalam ledakan.

Serangan berlangsung hingga malam hari yang diwarnai aksi penyanderaan. Sedikitnya satu orang tewas dan enam terluka dalam sebuah serangan lain di gedung CARE International di Share Naw. Serangan ini juga diklaim Taliban, di mana tiga anggotanya tewas dan 42 sandera berhasil dibebaskan.

Bom di New York dan New Jersey

Pada 17 September, sekitar pukul 09.30 waktu setempat, sebuah bom pipa meledak di tempat sampah di sepanjang rute acara lari Korps Marinir AS di Seaside Park. Tidak ada yang terluka.

Masih di hari sama, sekitar 20.30 malam, bom panci meledak di Jalan West 23rd di permukiman Chelsea, Manhattan. Sebanyak 31 orang terluka dalam ledakan, 24 dari mereka dilarikan ke rumah sakit.

Bom panci kedua dengan sejumlah kabel dan telepon genggam, ditemukan petugas di Jalan West 27th, empat blok dari bom pertama. Pada 18 September, sejumlah bom ditemukan dalam paket mencurigakan di stasiun kereta api Elizabeth. Salah satu bom itu diledakkan dalam operasi kepolisian. Tidak ada yang terluka.

Satu hari setelahnya, Biro Investigasi Federal (FBI) mengidentifikasi Ahmad Khan Rahimi sebagai tersangka dari semua insiden. Dia ditangkap beberapa jam setelah penembakan di Linden, New Jersey. Penembakan membuat Rahimi dan tiga polisi terluka. Rahimi dirawat dirumah sakit dan dijerat pasal kriminal oleh dua pengadilan.

Menurut otoritas, Rahimi bukan bagian dari sel teroris, namun termotivasi dan terinspirasi ideologi ekstremis dari pendiri al-Qaeda Osama bin Laden dan kepala propagandanya, Anwar al-Awlaki.

Oktober 2016
Serangan di Tiga Pos Polisi Rakhine

Sembilan polisi tewas dalam serangan oleh pria tak dikenal di tiga pos polisi di Rakhine, Myanmar, 9 Oktober. Penyerangan ini merupakan pemicu operasi besar-besaran pemerintah Myanmar di Rakhine, yang berimbas pada kehidupan etnis minoritas Rohingya.

Muncul berbagai laporan adanya aksi kekerasan militer Myanmar terhadap Rohingya selama operasi berlangsung. Pemerintah Myanmar membantah ada “pemusnahan etnis” dalam operasi tersebut.

Empat Serangan Beruntun di Baghdad, Irak

Pada 15 Oktober, empat serangan di dan sekitar Baghdad, menewaskan sedikitnya 60 orang dan tujuh pelaku. Sebanyak 80 orang terluka dalam empat serangan. ISIS diyakini sebagai otak di balik keempat serangan.

Serangan pertama terjadi dalam sebuah upacara pemakaman di distrik al-Shaab. Seorang pelaku meledakkan diri di tengah upacara, menewaskan 44 orang dan melukai 57 lainnya. ISIS mengklaim serangan.

Aksi kedua terjadi di Mutaibija, Tikrit. Kelompok bersenjata menembaki polisi, membunuh delapan dan melukai sebelas. Tiga pelaku juga tewas ditembak.

Rumah kepala milisi Ishaqi Mobilization, Numan al-Mujamaie, menjadi sasaran serangan ketiga. Militan membunuh istri serta tiga anaknya. Mujamaie tidak ada di rumah saat serangan terjadi. Para pelaku meledakkan diri setelah dikejar-kejar polisi.

Bom bunuh diri dalam serangan keempat menewaskan empat orang dan melukai 12 lainnya di sebuah tenda saat Muslim Syiah mengantarkan makanan.

Gelombang serangan terjadi dalam persiapan pasukan Irak merebut kembali Mosul, kota kedua terbesar di Irak, dari tangan ISIS.

Serangan Teroris di Pusat Pelatihan Polisi Quetta

Tiga teroris bersenjata lengkap menyerang pusat pelatihan polisi Balochistan di Quetta, Pakistan. Serangan menewaskan 61 taruna polisi dan melukai 165 lainnya.

ISIS – Khorasan Province mengklaim bertanggung jawab atas serangan. Grup ekstremis Lashkar-e-Jhangvi mengklaim telah berkolaborasi dengan kedua grup dalam melancarkan serangan.

Menurut otoritas Pakistan, para pelaku datang dari Afghanistan dan mengkontak koordinator mereka di negara tetangga sembari melancarkan serangan.

Ketiga pelaku memasuki pusat pelatihan saat para taruna tertidur. Dua pelaku meledakkan diri dan yang ketiga ditembak polisi. Banyak korban meninggal dunia saat para pelaku meledakkan diri.

November 2016
Bom Molotov di Gereja Samarinda

Seorang pria melemparkan bom molotov ke arah Gereja Oikumene di Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo, Sengkotek, Loa Jahan, Samarinda, 13 November. Pada saat itu, kebaktian baru saja usai dan para jemaat hendak keluar dari gereja.

Pelaku bernama Muhammad Juhanda melemparkan bom molotov dari luar pagar. Molotov mengenai anak-anak yang sedang bermain di depan gereja dan meledak. ledakan memicu api besar yang merusak beberapa sepeda motor yang terparkir.

Empat anak-anak terluka dalam ledakan. Juhanda melarikan diri, namun berhasil ditangkap warga dan polisi setelah dirinya jatuh ke Sungai Mahakam.

Korban luka langsung dilarikan ke Rumah Sakit I.A Moeis Samarinda. Petugas pemadam, Polri dan unit penjinak bom dikerahkan ke gereja usai kejadian.

Dua anak-anak terluka parah dalam insiden. Pada 14 November, bocah dua tahun bernama Olivia Intan Marbun Banjarnahor meninggal dunia akibat luka bakar parah. Ia adalah satu-satu korban tewas dalam serangan teror.

Sementara Juhanda diketahui sebagai resividis percobaan aksi teror di Gereja Katedral Jakarta dan juga teror bom buku. Keduanya terjadi pada 2011.

Serangan di Ohio State University

Pada 28 November, serangan dengan menabrakkan mobil dan penusukan massal terjadi di Aula Watt di Ohio State University, Ohio. Pelaku bernama Abdul Razak Ali Artan ditembak mati petugas keamanan, sedangkan 13 orang dirawat atas luka-luka.

Otoritas Ohio mulai menyelidiki kemungkinan serangan terkait dengan terorisme. Satu hari setelahnya, aparat keamanan menyatakan bahwa Artan telah terinspirasi propaganda teroris dari ISIS dan ulama radikal Anwar al-Awlaki.

ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Ohio, meski tidak ada bukti hubungan langsung antara grup dengan Artan.

Total 13 orang terluka dalam serangan. Sebelas dari mereka terluka akibat diserang pelaku; sebagian besar terkena hantaman kendaraannya, dua ditusuk senjata tajam dan satu mengalami keretakan di bagian tulang tengkorak.

Desember 2016
Bom di Gereja Mesir

Pada 11 Desember, pelaku bom bunuh diri menewaskan 27 orang dan melukai 47 lainnya di Gereja St. Peter dan St. Paul (biasa dikenal dengan nama Gereja El-Botroseya) di distrik Abbasia, Kairo, Mesir.

Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengidentifikasi pelaku sebagai Mahmoud Shafiq Mohammed Mustafa, yang diketahui memakai sabuk berisi bahan peledak.

Tiga pria dan satu wanita ditangkap terkait dengan serangan. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan. Ini pertama kalinya sebuah gereja pernah dibom di Mesir.

Pembunuhan Dubes Rusia di Turki

Duta Besar Rusia untuk Turki Andrey Karlov ditembak mati seorang polisi yang sedang tidak bertugas, Mevlut Mert Altintas, pada 19 Desember dalam sebuah acara pameran di Ankara.

Pembunuhan terjadi beberapa hari setelah adanya gelombang unjuk rasa di Turki atas keterlibatan Rusia dalam perang di Suriah, termasuk di kota Aleppo.

Pelaku meneriakkan “jangan lupakan Aleppo, jangan lupakan Suriah” usap menembak Karlov. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendeklarasikan penembakan telah didesain untuk mengganggu hubungan bilateral dengan Rusia. Presiden Rusia Vladimir PUtin juga mengungkapkan hal serupa.

Putin menyampaikan penghormatan terakhirnya kepada Dubes Karlov. Puluhan kolega dan kerabat menghadiri memorial untuk Karlov.

Ia meletakkan bunga mawar merah di dekat peti mati Karlov, berbicara sebentar dengan beberapa orang dan pergi tanpa memberikan pernyataan.

Kasus pembunuhan Dubes Karlov semakin memperkuat hubungan kedua negara yang sebelumnya sempat bersitegang akibat insiden penembakan jet tempur. Rusia dan Turki pun sepakat menggelar investigasi gabungan atas kematian Dubes Karlov.

Usai penembakan, Putin dan Menlu Rusia Sergey Lavrov menegaskan kematian Dubes Karlov tidak akan menghentikan upaya Rusia memerangi terorisme global.

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan mengenai siapa dalang pembunuhan ini sebenarnya.

Serangan Teroris di Berlin, Jerman

Sebuah truk melaju kencang dan menabrak kerumunan orang di sebuah pasar Natal dekat Gereja Memorial Kaiser Wilhelm di Breitscheidplatz di Berlin, 19 Desember. Aksi teror ini menewaskan 12 orang dan melukai 56 lainnya.

Salah satu korban adalah sopir asli tersebut, Lukasz Urban, yang ditemukan tewas ditembak di kursi penumpang. Seorang tersangka ditangkap dan kemudian dibebaskan karena kurangnya bukti.

Satu pria lainnya bernama Anis Amri, diduga sebagai pelaku sesungguhnya, tewas empat hari kemudian dalam baku tembak dengan polisi dekat Milan, Italia.

ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan. ISIS mengatakan pelaku telah menjawab seruannya untuk menyerang warga sipil di negara-negara yang berani melawan grup ekstremis tersebut.

Pada 23 Desember, ISIS merilis sebuah video tersangka yang telah menyatakan kesetiaannya kepada kepala ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi.(MTVN)

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time