Harian Aceh Indonesia
HARIANACEH.co.id

Mambruk, Burung Endemik Asal Papua

HARIANACEH.co.id —Cuaca tampak cerah saat saya bersama beberapa warga lokal memasuki kawasan hutan di Biak. Baru saja masuk sekitar 200 meter ke dalam hutan, suara burung bersahutan. Siulan burung siang atau teriakan burung nuri pun terdengar ramai. “Seperti berada di taman burung saja,” pikir saya.
Konon, jumlah ini sudah jauh berkurang dari beberapa dasawarsa lalu.
“Ini sudah kurang. Dulu sebelum ada perusahaan kayu masuk, tebang pohon besar. Lebih ramai lagi,” kata Sefnat Rejauw warga lokal yang menemani saya.
Secara umum luas kawasan hutan di Biak Numfor mencapai 206.000 hektar, dimana 58 persen adalah kawasan hutan lindung dan 42 persen hutan produksi. Vegetasi hutannya cukup beragam. Dan salah satu satwa yang menjadi ikon Biak adalah burung mambruk.
Mambruk adalah burung besar dengan warna yang tak begitu mencolok. didominasi warna abu-abu dengan kaki bersisik seperti ayam. Burung ini hanya memiliki tiga ruas jari kaki. Suaranya pun seperti tertahan di dalam tenggorokan; bruk bruk bruk… dengan nada panjang.
Mohammad Irham peneliti burung dari Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) dalam korespondensi emailnya menjelaskan jika mambruk (Goura sp.) merupakan anggota dari familiy Columbidae atau kelompok merpati-merpatian. Secara umum sebarannya berada di seluruh pulau Papua (Indonesia dan Papua New Guinea), tidak termasuk pulau-pulau kecil. Kecuali di Kepulauan Raja Ampat, Yapen dan Biak.
Mambruk juga merupakan satu-satunya jenis merpati yang berukuran besar (58-79 cm). Burung ini sangat cantik dengan hiasan mahkotanya, mata merah dengan ‘topeng’ hitam serta bulunya yang berwarna abu-abu dan maron pada sayap. Dan secara ekologi, jenis ini hanya mendiami wilayah Papua (Indonesia dan PNG).
Mambruk berkembang biak dengan cara bertelur. Setiap betina akan menghasilkan satu telur. Pada masa lalu, mambruk di Biak diburu warga untuk dijadikan makanan. Atau ditangkap untuk dipelihara.
Menurut Sefnat, daging mambruk seperti merpati dan empuk. “Di makan enak juga. Tapi, orang-orang sudah larang tangkap, jadi kita tidak tangkap lagi,” katanya.

Mambruk, burung yang hanya di Papua dan beberapa pulau di sekitarnya. Foto: Eko Rusdianto
Mambruk, burung yang hanya di Papua dan beberapa pulau di sekitarnya. Foto: Eko Rusdianto

Di Biak, sebelum ada pembatasan dan larangan menangkap burung tertentu warga mencari sarang mambruk di dalam hutan. Jika menemukan anakannya, maka akan lebih mudah dipelihara.
“Seperti ayam itu kalau jinak. Jadi bisa di lepas di pekarangan saja. Terbang juga tidak kuat,” kata Yosep warga Biak lainnya.
Di Indonesia, ada tiga jenis mambruk, pertama mambruk ubiaat (Goura cristata), mambruk victoria (Goura victoria) dan mambruk selatan (Goura scheepmakeri). Saya pun sempat melihat langsung dua jenis ini di taman burung Biak, masing-masing victoria dan ubiaat.
Sementara untuk membedakan kelamin masing-masing individu, agak sulit jika hanya melihat penampakan morfologi luar. Melainkan harus dengan DNA sexing atau dibedah.
Mambruk ubiaat tak begitu besar. Mahkota di kepalanya berwarna abu-abu dan tak memiliki variasi lain. Sementara mambruk victoria, pada ujung mahkota seperti kipas dan memiliki ornamen.  Sementara untuk rentang usia setiap individu mambruk di alam hingga kini belum ada data.
Namun, Menurut Mohammad Ihram, mambruk yang hidup dalam fasilitas buatan, seperti kebun binatang dapat mencapai 35 tahun atau lebih. Sebagai contoh, untuk jenis mambruk victoria di Rotterdam Zoo tercatat sampai usia 35 tahun. Beberapa pemelihara di Indonesia melaporkan memiliki burung ini lebih dari 40 tahun.
Tingginya permintaan di pasar dan pesatnya pembukaan habitat untuk pembangunan kegiatan logging dan perburuan, membuat keberadaan keberadaan mambruk di alam cenderung menurun setiap tahun. Sayangnya, data perkiraan jumlah populasi mambruk saat ini belum tersedia jelas Mohammad Ihram dalam lajutan emailnya.
Alam Papua memang luar biasa. Selama memasuki hutan Biak selama empat hari, rasanya sulit menulis semua kekaguman itu. Namun jika hutan habis maka kekayaan alam termasuk burung-burung yang ada akan hanya tinggal cerita saja. Semoga lestari.[]

Beri Komentar
Loading...

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. TerimaSelengkapnya