Harian Aceh Indonesia
HARIANACEH.co.id

John McLaughlin: Korut Lakukan Langkah Strategis terkait Pembunuhan Kim Jong-Nam

HARIANACEH.co.id, WASHINGTON – Motif yang jelas dalam pembunuhan kakak tiri pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un sebagai upaya buat mencegah setiap percobaan dari luar untuk menempatkan pengganti bagi pemimpin saat ini. Mantan direktur agensi intelijen Amerika Serikat (CIA) mengatakan hal itu, Rabu 1 Maret.
Kim Jong-Nam, 45, meninggal 13 Februari setelah diduga diracuni oleh dua wanita di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia. Pelaku mengoleskan zat saraf VX di wajah Kim, menurut polisi Malaysia.
VX merupakan zat yang terdaftar sebagai senjata kimia yang dilarang di bawah Konvensi Senjata Kimia 1993.
Polisi Kuala Lumpur telah menangkap kedua wanita dan satu pria berkebangsaan Korut. Mereka juga sedang mencari tujuh warga Korut lainnya, termasuk seorang diplomat yang berbasis di Kuala Lumpur, untuk ditanyai. Sementara polisi belum menentukan apakah Pyongyang berada di balik pembunuhan itu, Seoul menuduh pemimpin Korut memerintahkan pembunuhan saudara tirinya.
Dalam sebuah wawancara dengan VOA, John McLaughlin mengatakan, agen-agen Korut kemungkinan menjadi pelaku kematian Kim Jong Nam, mengingat racun yang dipakai membunuh dia.
“Sangat sulit bagi seseorang untuk tidak terkait dengan sebuah entitas negara demi mendapatkan jenis racun yang tampaknya digunakan,” kata mantan direktur Central Intelligence Agency dari Juli hingga September 2004 dan wakil direktur CIA 2000-2004 di bawah Presiden George W. Bush.

Potensi Ancaman Kekuasaan

Dulu pernah dianggap pewaris mendiang ayahnya, Kim Jong Il, yang memerintah negara itu 1994-2011. Tapi Kim Jong Nam lantas hidup dalam pengasingan de facto setelah disingkirkan.
Ketika ditanya apa yang mungkin telah memotivasi rezim melakukan pembunuhan, McLaughlin berkata: “Kepemimpinan Korut ingin memastikan tidak ada alternatif yang tersedia untuk mengganti Kim Jong-Un.”
“Mereka sangat ingin memastikan bahwa Tiongkok tidak memiliki seseorang yang siap dipakai kalau bisa menyusun taktik agar Kim Jong-Un dijatuhkan dari kekuasaan,” kata McLaughlin, yang kini bekerja di Johns Hopkins School of Advanced International Studies.
Meskipun insiden itu telah memicu spekulasi luas soal stabilitas rezim Korut, McLaughlin memperingatkan pertentangan mengenai kesimpulan yang ditarik. Namun, ia katakan, rangkaian eksekusi yang dilakukan oleh Kim Jong-Un bisa menunjukkan kekuasaannya mungkin tidak aman.
“Pola pembersihan mendalam ini untuk menunjukkan bahwa ia masih belum benar-benar aman dalam kekuasaan,” katanya, seperti dilansir VOA, Rabu 1 Maret 2017.

Kejadian Mengkhawatirkan

Pembunuhan itu menarik perhatian dunia karena berlangsung di salah satu bandara tersibuk di Asia, mendorong sejumlah media berspekulasi tentang mengapa sebuah tempat umum yang dipilih sebagai tempat kejadian.
McLaughlin, veteran yang 30 tahun mengabdi di CIA, menyebutkan, pelaku mungkin berpikir bandara adalah tempat di mana korban berada “dalam kondisi paling rentan.”
“Itu mungkin terlihat sebagai tempat di mana apa yang mereka lakukan akan tidak mudah diperhatikan kecuali sekadar insiden biasa di bandara,” katanya.
Menurut McLaughlin, insiden di Malaysia adalah “peristiwa mengkhawatirkan” karena bahan kimia yang dilarang bisa digunakan di tempat umum untuk membunuh seseorang.
“Berarti rezim yang sangat tidak stabil ini memiliki senjata yang sangat kuat dan cukup nekat buat memakainya di keramaian,” katanya.

Kemungkinan Dampak

Tiongkok secara luas diyakini menyukai Kim Jong Nam mengambil tampuk kepemimpinan di Pyongyang. Pembunuhan itu menempatkan Beijing dalam posisi yang sulit, kata McLaughlin.
“Saya pikir Tiongkok menghadapi sedikit dilema di sini,” katanya. “Mereka tidak ingin perubahan besar di semenanjung Korea, tetapi mereka juga mengakui Kim Jong Un membawa tingkat ketidakpastian yang bisa mengarah pada kesulitan untuk mereka tangani,” ungkapnya.
McLaughlin katakan, AS harus kembali mendaftarkan Korut sebagai negara sponsor terorisme jika negara komunis itu terbukti bertanggung jawab atas pembunuhan.
AS memasukkan Korut sebagai negara sponsor terorisme setelah negara itu mengebom sebuah pesawat Korea Selatan pada 1987, menewaskan 115 penumpang dan awak kapal. Pada 2008, AS menghapus Korut dari daftar itu sebagai bagian dari kesepakatan nuklir, di mana Pyongyang setuju menonaktifkan pengembangbiakan plutonium dan mengizinkan beberapa penyelidikan.
Setelah kematian Kim di Kuala Lumpur, beberapa anggota parlemen AS menyerukan pemerintahan Trump supaya mencabut keputusan terakhir.[]

Beri Komentar
Loading...

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. TerimaSelengkapnya