HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Wali Kota Banda Aceh Jadi Panelis Indonesia-Australia Bussiness Week 2017

ali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menjadi salah satu panelis pada forum Indonesia-Australia Bussiness Week 2017 yang berlangsung di The Ritz-Carlton Jakarta, Selasa (7/3/2017). Foto: Istimewa
21

HARIANACEH.co.id, JAKARTA – Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menjadi salah satu panelis pada forum Indonesia-Australia Bussiness Week 2017 yang berlangsung di The Ritz-Carlton Jakarta, Selasa (7/3/2017).

Illiza tampil dalam sesi diskusi panel bertema “Building An Indonesia-Australia Resilient City Network” bersama Wali Kota Bogor Bima Arya, Director Adelaide Design Link Phil Donaldson, Director Strategic Outcome and Development City of Parramatta Sue Weatherley, dan Kepala Badan Lingkungan Hidup Balikpapan Suryanto.

Sebelumnya, sambutan pembuka disampaikan oleh Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Australia Steven Ciobo. Acara tersebut turut dihadiri oleh perwakilan dari Pemko Tangerang Selatan, Pemko Tanjung Pinang, dan sejumlah pengusaha/investor dari Australia.

Mengawali presentasinya berjudul “Building Innovative and Climate Smart City”, Illiza menyatakan merasa terhormat dapat menghadiri forum ini untuk berbagi pemikiran dan pengalamannya selama memimpin Banda Aceh dengan para pemimpin kota dan organisasi di dunia, khususnya dari Indonesia dan Australia.

Menurut Illiza, presentasi yang disampaikannya merupakan manifestasi dari tekad yang kuat dan komitmen Kota Banda Aceh terhadap isu global tentang pembangunan berkesinambungan yang diimplementasikan pada level lokal, baik pada level masyarakat maupun pada level kota.

“Dengan kata lain, Banda Aceh menerapkan prinsip ‘berfikir global dan bertindak lokal’. Kami berkeyakinan bahwa pemikiran dan pengalaman kami akan ada manfaatnya bagi forum ini,” sebut Illiza seraya memaparkan berdasarkan letak geografis Banda Aceh berada di daerah rawan bencana.

“Kota kami adalah kota yang cukup parah merasakan dampak gempa dan tsunami sekitar satu dekade yang lalu. Kami pernah mengalami bencana banjir yang cukup parah, merasakan buruknya bencana badai tropis dan kebakaran. Kami belajar dari bencana yang kami derita, menganalisis biaya bencana dan membangun upaya terbaik kami untuk berinteraksi dengan bencana,” sebutnya.

Ia menambahkan, curah hujan yang tinggi juga mengakibatkan tingginya ancaman bencana banjir di Banda Aceh dan pihaknya bekerja sangat keras untuk mengatasi masalah banjir. “Untuk itu ami merencanakan sistem pengendalian banjir dan kota kami adalah salah satu kota di Indonesia yang tidak terdampak banjir bulan Januari yang lalu,” sebutnya lagi.

Masih menurut Illiza, pengalaman tsunami 2004 meningkatkan kesadaran pemerintah dan masyarakat Kota Banda Aceh tentang arti pentingnya mitigasi bencana sebagai bagian intergral dari perencanaan pembangunan.

“Tujuan utamanya adala untuk beradaptasi dengan kondisi rawan bencana dengan cara mengimplementasikan strategi kota tahan bencana. Strategi ini terdiri atas aspek fisik dan non fisik.”

Mengingat Banda Aceh kota yang rawan bencana, sambung Illiza, pihaknya terus melakukan pelatihan penangulangan bencana, sosialisasi, simulasi dan pelatihan tentang kebencanaan secara rutin bagi masyarakat.

“Upaya ini sangat membantu masyarakat agar tanggap terhadap bencana.”

Mengakhiri presentasinya, Illiza menyampaikan dirinya percaya bahwa seluruh agama mengajarkan manusia untuk hidup harmonis dan berdampingan dengan lingkungan.

“Seluruh musibah perubahan iklim yang kita alami saat ini merupakan dampak dari gaya hidup dan ulah tangan manusia. Untuk itu, kami mengajak kita semua untuk memulai dari diri sendiri dan mengajak orang lain untuk mencegah meluasnya kerusakan lingkungan. Mari kita pelihara lingkungan kita,” pungkas Illiza. (**)

Komentar
Sedang Loading...
Memuat