HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Keuchik di Aceh Timur Ditembak Mati Polisi, YARA: Istri Korban Buat Laporan ke Polda

11

HARIANACEH.co.id, BANDA ACEH  — Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) menggelar konferensi pers tentang penembakan yang dilakukan oleh oknum polisi terhadap kepala desa (keuchik) Blang Rambong, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur atas tuduhan sebagai bandar narkoba di Kantor YARA, Rabu (8/2/2017) di Banda Aceh.

Dalam kasus ini Tim YARA bersama kuasa hukum korban memfasilitasi serta mendampingi keluarga korban penembakan untuk menempuh jalur hukum terhadap kasus penembakan yang dilakukan oleh oknum polisi.

“Kita mendampingi istri dari almarhum dan sudah kita lakukan pelaporan pada tanggal 6 dan 7 maret 2017 ke Polda Aceh. Namun kronologis kejadiannya yaitu pada tanggal 24 Februari 2017 telah terjadi penembakan terhadap kepala desa atas nama Mukhlis Adi di Blang Rambong, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur. Dia merupakan kepala desa yang aktif menjabat selama 3 tahun yang dituduh sebagai  bandar narkoba,” jelas Basri selaku Perwakilan YARA Aceh Timur kepada awak media.

Basri mengungkapkan bahwa kejadian tersebut dilakukan oleh 4 orang oknum polisi yang datang ke warung kopi setempat.

“Ketika itu ada 2  sampai 4 orang polisi berpakaian preman yang datang ke warung kopi setempat. Mereka langsung menuduh korban sebagai bandar narkoba. Ketika kepala desa menghampiri mereka dan sempat menanyakan, lalu polisi tersebut langsung mengacungkan senjata api kearahnya”.

“Kepala desa coba menghindar dari sergapan polisi dan mengatakan apa salah saya, setelah itu disuruh tiarap, kepala desa terus menghindar maka langsung ditembak di bahu sebelah kiri, setelah tertembak kepala desa sempat melarikan diri. Ketika jatuh disawah, maka polisi menginjak dan memukul korban kemudian ditembak lagi, menurut saksi mata di lapangan,” ujar Basri saat menceritakan kronologis didepan awak media.

Disamping itu, Fakhrurrazi selaku Sekretaris Yayasan Advokasi Rakyat Aceh mengatakan bahwa pihaknya tidak setuju dengan tindakan oknum polisi yang melakukan penembakan.

“Sebenarnya kita juga tidak mentolerir bandar narkoba dan anti dengan tindakan narkoba. Tapi disaat polisi menggunakan tindakan-tindakan seperti itu, kenapa harus dengan menggunakan kekerasan. Dan kita akan coba telusuri serta buktikan bahwa pak keuchik ini bukanlah seorang bandar,” ujar skretaris YARA Aceh.

“Dari hal itu nanti kita coba buktikan, jika benar beliau bukan seorang bandar, maka kita akan menempuh jalur perdatanya dan menggugat Polda Aceh nanti supaya bertanggung jawab atas hal ini. Karena hal-hal dan kekerasan seperti ini sudah sangat sering terjadi,” tambahnya.

Sementara itu kuasa hukum korban penembakan, M Zubir menjelaskan bahwa melakukan penangkapan harus dengan syarat yang telah diatur oleh Pasal 17 KUHAP.

“Di syarat penangkapan itu bisa kita lihat pada Pasal 17 KUHAP yang mengatur item-item apa saja yang harus dilakukan oleh pihak kepolisian, dan disini polisi tidak boleh serta-merta melakukan penembakan. Pada poin pertama, penangkapan wajib berdasarkan bukti permulaan yang kuat, kalau tidak ada bukti maka sesuai hukum ini sudah batal. Yang kedua, tidak boleh melakukan tindakan yang sewenang-wenang dan ketiga harus berpijak kepada landasan hukum serta tidak melakukan kekerasan,”jelasnya.

Ia juga menyesalkan dengan sifat humanisme yang diagung-agungkan pihak kepolisian dalam menghadapi masyarakat.

“Seperti kata Kapolda bahwa polisi itu bersifat humanisme namun hal itu tidak kita temukan di lapangan, apalagi dalam perkara ini kita melihat polisi arogan. Kita melihat kondisi korban dengan tidak membawa apa-apa dalam keadaan tangan kosong, kenapa terjadi penembakan dan itu sangat kita sayangkan. Maka dimana sisi humanisme itu yang diagung-agungkan oleh kepolisian,” ujarnya.

“Jadi harapan kita kedepan bahwa kepolisian harus lebih professional dan humanisme, artinya penegakan hukum harus ada landasan hukum. Jadi tidak boleh melakukan seenaknya saja, karena harus berlandaskan hukum. Apapun itu yang dilakukan pihak kepolisian harus berlandaskan hukum.

Kuasa hukum yang lain, Rusdi ikut menjelaskan bahwa pada kejadian tersebut sudah banyak kejanggalan-kejanggalan yang terjadi.

“Kami mendapatkan kejanggalan bahwa kejadian ini sangat tragis, pertama dapat menghilangkan nyawa orang lain, tapi proses yang dilakukan oleh kepolisian tidak melakukan operasi atau penggerebekan di rumah dan langsung menuduh bahwa pak keuchik sebagai Bandar narkoba. Yang kedua, korban tidak melarikan diri tapi langsung ditembak hingga merenggut nyawa,” paparnya.

“Ketika ditangkap seharusnya dibuktikan bahwa ada barang bukti atau sampel  yang harus sanggup dibuktikan, kalau  sudah dibuktikan maka itu sudah ada sinkronisasi. Maka disini kami menganggap bahwa polisi sudah brutal. Memang kami adalah partner dan mitra kerja dengan polisi tapi kita semua berkeinginan dengan tujuan yang baik,” tutupnya. []

 

Editor: Eko Densa

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time