HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Dialog Fraksi Pilkada Aceh

Radikalisme Masih Berpotensi Terjadi di Aceh

Para narasumber pada dialog publik "Potensi Radikalisme Pasca Pilkada di Aceh dan Upaya Penanggulangannya" di Caffe 3in1, Kamis kemarin 9 Maret 2017, (HARIANACEH.co.id/M. Jais Rambong)
26

HARIANACEH.co.id, BANDA ACEH – Pasca pilkada Aceh 2017, radikalisasi masih berpotensi terjadi di Aceh, hal ini dikatakan para narasumber pada dialog publik “Potensi Radikalisme Pasca Pilkada di Aceh dan Upaya Penanggulangannya” di Caffe 3in1, Kamis kemarin 9 Maret 2017.

Seperti dikatakan akademisi Unimal, Taufik Abdullah, radikalisme masih berpotensi terjadi di Aceh dikarenakan rentetan kejadian pada pilkada 2017 yang disebabkan imbas dari pilkada 2012. “Aceh akan kuat ke depan, potensi radikalisasi bisa di tekan bila hubungan Aceh dan Jakarta berjalan lancar, juga demokrasi mesti dijalankan sebaik mungkin,” katanya.

Taufik menambahkan, ada sebuah harapan baru untuk mewujudkan demokrasi yang baik di Aceh, dikarenakan selama ini melihat demokrasi, perdamaian dan pembangunan tidak seperti di harapkan. “Secara fluktural, demokrasi belum clear. Kita tidur waktu pembangunan dan kita ribut waktu memilih pemimpin, inilah fenomena di Aceh dan ini memicu timbulnya radikalisasi di Aceh,” jelas mantan aktivis Aceh.

Hal yang sama juga dikatakan Ketua Gerakan Bela Negara (GBN), Miswar Sulaiman, Aceh masih berpotensi radikalisasi, ini disebabkan masih adanya kelompok-kelompok yang belum menerima hasil dari pesta demokrasi, yaitu pilkada 2017. “Pilkada berlangsung aman dan damai, dan rakyat sudah cerdas menetukan pilihan, biarpun ada beberapa orang yang mencoba lakukan intimidasi, namun pihak keamanan sigap dalam meresponnya dan radikalisasi tercegahkan ,” ujarnya.

Lain halnya di katakan AKBP Alfian yang mewakili Polda Aceh, Khusus pilkada Aceh 2017 tidak adanya radikalisme, semua menganggap Aceh aman dan damai. Biar pun adanya sedikit gesekan dan itu bisa di kendalikan oleh pihak polisi dan TNI dan itu tidak bias lagi. “Kita harapakan kedepan tidak akan terjadi lagi kejadian-kejadian yang tidak kita inginkan. Seluruh pemangku yang punya wewenang dalam pilkada bila adanya ancaman dan intimidasi, silahkan lapor ke kepolisian,” pintanya.

Terkait radikalisme, AKBP Alfian menambahkan, perlu adanya kerja sama antara kepolisian, TNI, Pemerintah dan masyarakat untuk meredam potensi munculnya radikalisme. “Jangan ada lagi gara-gara memperebutkan kekuasaan, rakyat yang jadi korban dan kami harapkan tidak terjadi hal demikian. Silahkan nelapor dan memberi informasi jika melihat adanya gelagat-gelagat yang berpotensi timbulnya radikalisasi ke kepolisian dan jangan takut memberikan informasi kepada kami dan siap mengayomi rakyat,” kata Alfian.

Mantan Rektot UIN Raniry, Prof Yusni Saby, berpendapat Polri dan TNI lebih siap dalam meredam radikalisme dan kejadian-kejadian lainnya yang terjadi di Aceh. “Pilkada Aceh 2017 lebih tertib dari pilkada sebelumnya. Kejadian-kejadian yang terjadi baik sebelum dan sesudah pilkada erat dikaitkan dengan politik, padahal itu tidak selamanya benar, bisa jadi dikarenakan faktor lain. Siapapun yang salah tetap dihukum, tegakkkan hukum kepada siapapun,” ujar Guru Besar UIN Ar Raniry seraya mengingatkan kalau tujuan politik adalah sarana mendidik rakyat menggunakan seluruh potensinya untuk kemaslahatan rakyat.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat