HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Mapesa Temukan Dua Komplek Makam Abad ke-15 di Gampong Pande

8

HARIANACEH.co.id, BANDA ACEH – Komunitas Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) menemukan dua komplek pemakaman kuno saat rutinitas bersih-bersih makam di Gampong Pande, Kota Banda Aceh, pada 12 Maret 2017. Mereka menemukan tujuh nisan peninggalan zaman.

Kegiatan rutin Mapesa yang dilaksanakan setiap Minggu dengan menggali sejarah Aceh ternyata membuahkan hasil.

Ketua Mapesa Mizuar mengatakan mereka menemukan dua komplek pemakaman baru bekas peninggalan sejarah. Sebelumnya kondisi nisan-nisan tersebut rebah dan tertimbun oleh lumpur.

“Nisan tersebut belum kita identifikasi, karena bagian inskripsinya yang memuat nama masih lengket tiram, kemudian kondisinya masih basah, jadi untuk mengetahui nama tersebut secara jelas, kita harus bersihkan dulu, setelah itu dikeringkan dan diberi kapur agar inskripsi yang terpahat pada nisan tersebut muncul, setelah itu baru dilakukan proses pembacaan,” ujarnya.

Ia melanjutkan, setelah dilihat dari bentuk nisannya, dapat dipastikan nisan tersebut berasal dari tahun 1530-1540-an.

“Komplek yang kita temukan ini masih dalam zaman Kerajaan Aceh Darussalam, pemerintahan antara Sultan Ali Mughayatsyah hingga anaknya Sultan Salahuddin dan Sultan Alaidin Ali Riayat Syah,” jelas Mizuar.

Ia menambahkan, biasanya tiap-tiap nisan itu memuat kalimat tauhid, ayat-ayat Al-Quran, syair, kemudian juga pada kaki nisannya hanya tokoh-tokoh pilihan yang dimuat namanya. Nanti di inskripsinya disebutkan gelar tokoh tersebut seperti menteri, ulama atau seorang khaldi maupun seorang pengasuh sultan. Selanjutnya juga memuat angka tahun wafat si pemilik makam.

“Harapan kita pada pemerintah agar segera mungkin situs-situs sejarah yang sudah ditemukan ini segera didaftarkan, dilindungi dan dilakukan kajian arkeologi disini, karena kalau terus-menerus dibiarkan seperti ini, makin hari nisan-nisan ini akan hancur”.

“Kemudian yang sangat kita takutkan akan ada pengembangan-pengembangan seperti pembangunan jalan, gedung dan segala macam lainnya sehingga nisan ini bakalan dihilangkan. Jika dihilangkan, berarti kita kehilangan data sejarah tentang kehidupan pada masa dimana bangsa-bangsa dunia mencatat bahwasanya Aceh pernah menjadi salah satu kerajaan Islam terkuat dalam abad ke 16 hingga 17,” tutup Mizuar. []

 

 

 

loading...