HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Puluhan tentara Myanmar Tewas Setelah Bentrok Lawan Pemberontak

Konflik Myanmar

9

HARIANACEH.co.id, Naypyidaw — Puluhan tentara Myanmar tewas dalam sejumlah bentrokan antara pemberontak etnis lawan tentara di sepanjang perbatasan Tiongkok. Media pemerintah melaporkan, pada Selasa 14 Maret, bentrokan mengancam tujuan utama pemimpin Aung San Suu Kyi mengakhiri perselisihan etnis beberapa dekade terakhir.

Lebih dari 20.000 penduduk Myanmar telah menyeberangi perbatasan Tiongkok dalam beberapa pekan terakhir, melarikan diri dari pertempuran sengit di utara. Gelombang pelarian mendorong Beijing menyerukan gencatan senjata antara milisi etnis dan pasukan keamanan Myanmar.

“Ada sedikitnya 48 kali bentrokan bersenjata dengan Aliansi Tentara Nasional Demokrat Myanmar (MNDAA), yang mengakibatkan kematian puluhan tentara,” kata harian yang dikelola pemerintah Myanmar, Global New Light of Myanmar, seperti dikutip Reuters, Selasa 14 Maret 2017.

Belum tersedia jumlah tepatnya dari tentara yang tewas dalam apa yang digambarkan sebagai operasi pembersihan daerah oleh pasukan pemerintah, yang berlangsung sejak 6-12 Maret.

Pekan lalu, pemerintah mengatakan, lima warga dan lima polisi lalu lintas tewas dan dua puluh mayat ditemukan setelah serangan awal MNDAA 6 Maret atas Laukkai, ibu kota wilayah timur laut Kokang.

“Puluhan warga” luka-luka dalam serangan, harian itu menambahkan.

Suu Kyi, yang meraih kekuasaan pada 2015, menjanjikan rekonsiliasi nasional, telah berjuang memberi dorongan terbaru bagi proses perdamaian yang tersendat, selagi wakil pihak etnis menuduh dirinya berpihak kepada militer.

Sekitar 270 staf dari sebuah hotel di Laukkai “diculik” oleh MNDAA pada 6 Maret dan dibawa ke kota Tiongkok terdekat, Nansan, lalu dipaksa menjalani pelatihan militer, kata surat kabar tersebut.

MNDAA dengan aman mengawal staf hotel culikannya ke Nansan dalam sebuah langkah yang “didukung dan diterima” oleh para pekerja (yang diculik), kata kelompok itu di situsnya.

Wilayah ini sekarang dalam “darurat perang” manakala pertempuran berkecamuk memburuk, kata kelompok itu dalam sebuah “pemberitahuan mendesak” yang diposting di website, pada Minggu 12 Maret.

MNDAA menjadi bagian dari Aliansi Utara — sebuah koalisi kelompok pemberontak terdiri dari satuan milisi Myanmar paling kuat, Angkatan Bersenjata Pembebasan Kachin (KIA), dan dua kelompok lebih kecil, yang telah berhadapan dengan militer Myanmar sejak bentrokan pecah di Kokang pada 2015.

Banyak yang mati dan puluhan ribu orang mengungsi dari daerah itu selama pertempuran, yang juga membanjiri wilayah Negeri Tirai Bambu dan mengakibatkan kematian lima orang Tiongkok, sehingga Beijing marah.

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time