HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Keluarga Pengungsi Mendarat di AS Tapi Terjadi Sengketa Kebijakan Imigrasi

7

HARIANACEH.co.id – Baru seminggu yang lalu, Nadia Hanan Madalo dan keluarganya menerima kabar bahwa pengungsi seperti mereka harus menunggu izin: Mereka sudah terbang ke Amerika Serikat (AS) dari Irak. Mereka datang sebelum larangan perjalanan terbaru pemerintahan Presiden Donald Trump diberlakukan kembali.

Tapi hingga menginjakkan kaki di tanah AS, mereka belum yakin diizinkan memasuki negeri Paman Sam.

Seluruh keluarga Madalo tahu bahwa mereka tidak bisa kembali ke desa mereka. Para militan Islamic State (ISIS) telah menyerang beberapa tahun lampau, dan hanya kehancuran yang tersisa. Jalanan dipenuhi ranjau darat. Kota telah hancur. Dan rumah keluarga mereka dibakar rata dengan tanah.

“Terima kasih Tuhan kami berlari dari sana dan datang ke sini,”katanya kepada kakaknya dalam bahasa Arab, yang menerjemahkan kata-katanya ke dalam bahasa Inggris setelah Madalo, suami, dan empat anaknya tiba di bandara San Diego, Rabu 15 Maret.

Air mata mengalir di wajahnya saat mereka berpelukan. Manakala Madalo dan keluarganya terbang ke AS, hakim federal di Hawaii memblokir larangan terbaru Presiden Trump — perkembangan terakhir dalam perselisihan antara pemerintah dan pengadilan yang telah menancapkan ketidakpastian dalam hidup para pengungsi.

Badan pemukiman mengatakan, lebih dari 67.000 pengungsi berada di tahap yang disetujui dan diizinkan masuk ke AS ketika perintah Trump per Januari menghentikan perjalanan selama 90 hari dari tujuh negara mayoritas Muslim: Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman. Perintah itu juga membekukan program pengungsi selama 120 hari.

Sebuah pengadilan federal di California menahan perintah itu pada Februari, menyatakan hal itu tidak konstitusional. Ribuan migran bergegas masuk mengantisipasi perintah baru diberlakukan. Pemerintah Trump mengatakan revisi larangan itu membahas masalah hukum di urutan terakhir, dan menghapus Irak dari daftar negara terlarang.

Nadia Hanan Madalo dan keluarganya. (AP)
Nadia Hanan Madalo dan keluarganya. (AP)

Hakim Distrik AS Derrick Watson menghambat perintah tersebut, mengutip “bukti yang dipertanyakan soal mendukung motivasi keamanan nasional pemerintah.” Trump, yang mengatakan perintahnya untuk mencegah teroris masuk AS, mengkritik putusan tersebut, seraya berkata: “Bahayanya jelas. Hukumnya jelas.”

Madalo dan keluarganya memesan sebuah penerbangan khusus pengungsi untuk pergi, Rabu, setelah awalnya dijadwalkan Kamis, di hari tepatnyalarangan perjalanan itu berlaku. Perintah terbaru memungkinkan pengungsi dengan tiket yang sudah dipesan hingga Kamis boleh tetap datang ke negara itu sampai akhir bulan.

Mereka merasa beruntung, setelah menunggu selama empat tahun, buat masuk ke AS. Adik Madalo di Lebanon ada di antara mereka yang masih menunggu persetujuan.

Sebelum mengungsi, Madalo dan suaminya kembali terakhir kali ke desa mereka. Keluarga itu belum pulang kampung selama tiga tahun sejak pejuang ISIS datang. Pasukan pemerintah sudah menyingkirkan militan, tapi rumah mereka tinggal reruntuhan — kenyataan pahit bahwa mereka harus pergi.

Namun, itu adalah saat yang sulit. Suami Madalo, Salim Tobiya Kato, menangis berjam-jam ketika ia mengucapkan selamat tinggal kepada saudara-saudaranya, tidak tahu kapan ia akan melihat mereka lagi.

“Sulit untuk meninggalkan tempat kelahiran saya, di sana semua kenangan saya, dan di mana orang tua saya dimakamkan,” katanya, seperti dilansir Associated Press, Kamis 16 Maret 2017.

Tujuan akhir mereka adalah El Cajon di pinggiran San Diego, pemukiman bagi populasi terbesar kedua bangsa Kasdim, di mana kakaknya menjadi tuan rumah penyambutan dengan ibu mereka, sanak-saudara, dan para sepupu.

Tapi selagi keluarga itu merayakan reuni yang gembira, ribuan orang lainnya tetap di panti penampungan. Orang-orang seperti MidyaAlothman.

Pengungsi asal Suriah ini dan dua saudara kandungnya di Buffalo, New York, mengharapkan orang tua mereka dan para saudara yang tersisa datang pada Februari. Mereka membeli bahan-bahan untuk pesta, menyediakan kopi pahit favorit ayah mereka, dan berencana memetik bunga tulip warna favorit ibu mereka — ungu dan merah muda.

Tak disangka, 16 Februari penerbangan mereka dibatalkan tanpa penjelasan. Mereka tidak mampu untuk pesan-ulang penerbangan sebelum ditegakkannya larangan baru.

“Mungkin mereka bisa bertahan selama dua bulan, tiga bulan, dan itu baik-baik saja. OK. Apa yang akan terjadi setelah itu? Aku takut tentang hal ini. Aku takut tentang hal ini,” kata Alothman, Muslim Kurdi asal Suriah, yang bekerja 24 jam seminggu, diupah murah di sebuah klinik Katolik sebagai penerjemah dan resepsionis.

Perintah eksekutif 16-halaman menyerukan pengurangan 55 persen atas visa pengungsi keseluruhan. Alih-alih 110.000 menurut rencana yang dijadwalkan untuk tahun ini, hanya akan ada 50.000. Pekan ini, hampir 38.000 telah diterbitkan.

Madalo dan kedua adiknya memahami rasa sakitnya menunggu.

Orang tua mereka menghabiskan tiga tahun melalui proses pemeriksaan sebelum mereka dapat disetujui untuk terbang. Kemudian dibatalkan. Ada lebih banyak penundaan lantaran kesehatan ayahnya memburuk. Pada 2015, tatkala orang tuanya akhirnya pergi ke AS, ayahnya pun meninggal.

Kakaknya, Gassan Kakooz, yang datang ke AS pada 2008 sebagai pengungsi, memakamkan ayahnya di San Diego. Di apartemennya, ia menyimpan foto mendiang di dinding tinggi, seolah dia mengawasi
seantero ruangan.

Selama bertahun-tahun, Kakooz menyambut saudara-saudaranya satu per satu, membantu mereka menemukan rumah, dan mendapatkan pekerjaan. Dia,
istri, dan anak-anaknya telah menjadi warga negara AS, dan tidak mau kembali ke Irak. Sekarang adik bungsunya dan keluarganya di AS juga.

“Saya sangat senang,” katanya. “Saya tidak bisa mengatakan betapa bahagianya saya.”

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time