HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

FOKUS

Membaca Figur Penting Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Muzadi

Tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Muzadi. (CNN Indonesia)
569

HARIANACEH.co.id, JAKARTA – Ketika seorang ulama meninggal dunia, maka satu ilmu pula yang turut berpulang bersamanya. Begitu, saripati dari salah satu hadis yang diriwayatkan At-Thabrani.

Ilmu, secara sederhana bisa dimaknakan teladan. Sebuah laku yang bisa dibaca dari sepanjang hidup empunya. Nilai positif yang mesti dijaga dan diwariskan kepada generasi penerusnya.

Pun hari ini, rasa duka mengiringi kepergian KH Hasyim Muzadi. Dari salah satu figur penting Nahdlatul Ulama (NU) ini, beberapa kalangan menilai bahwa dalam diri Kiai Hasyim terdapat kekhasan yang penting dijadikan teladan. Terutama, peran sosok kelahiran Tuban, Jawa Timur pada 8 Agustus 1944 ini sebagai tokoh paling gencar mempromosikan wajah Islam moderat. Ciri berislam masyarakat muslim di Indonesia.

“Beliau tak hanya menjelaskan kesejatian ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, tapi juga mempromosikan Indonesia sebagai contoh keharmonisan agama-budaya-sosial,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin seperti dilansir mtvn, Kamis, 16 Maret 2017.

Mencari titik temu

Menggantikan Abdurrahman ‘Gus Dur’ Wahid sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bukan perkara mudah. Namun di sisi lain, dari sinilah nama seorang Hasyim Muzadi makin dikenal banyak kalangan.

Kemunculan nama Hasyim memang disundul Gus Dur. Tepatnya ketika NU menggelar Muktamar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur pada 1999. Hasyim, oleh Gus Dur dikenalkan sebagai sosok yang mumpuni menjadi nahkoda organisasi Islam terkemuka itu. Muktamirin pun tak banyak cakap. Lantaran memang rekam jejak adik kandung kiai khos Muchit Muzadi itu tak diragukan lagi.

Lantaran masih setali tiga uang dengan Gus Dur, kata orang. Tak pelak, Hasyim pun dipercaya memimpin PBNU hingga dua periode, yakni 1999-2004 dan 2004-2009.

Setelah Gus Dur menawarkan beberapa penyegaran di tubuh NU, Hasyimlah yang bertugas melanjutkan. Di antaranya, tentu, agenda mengawal gagasan Islam sebagai rahmatan lilalamin. Islam yang mengedepankan rasio perdamaian.

“Dalam dialog lintas agama misalnya, Kiai Hasyim lebih mencari titik temu dibanding pertentangannya,” kata Menag.

Atas dalih melanjutkan semangat Gus Dur itulah, lantas Hasyim mendirikan lembaga bernama International Conference of Islamic Scholars (ICIS) di tengah ia menjabat sebagai Ketua Umum PBNU periode kedua. ICIS bukan sekadar rumah bagi ulama moderat, tetapi juga menjadi rujukan akademisi, peneliti dan cendekiawan untuk menguatkan kajian tentang perdamaian dunia.

“Kalau karena perbedaan pendapat, berlainan keyakinan, dan bertentangan budaya, serta etnis kemudian menyebabkan munculnya kekerasan, maka perlu kita bertanya apa benar kita sudah menjadi rahmatan lil alamin?,” tulis Hasyim dalam Refleksi Tiga Kiai (2004), sebuah bunga rampai bersama Didin Hafidhuddin dan Ahmad Syafi’i Maarif.

Pelanjut Kiai Hasyim di tampuk PBNU, KH Said Aqil Siroj tak memungkiri peran Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur itu dalam gagasan moderasi Islam. Ia, kata Said, tidak hanya menorehkan jejak perubahan di NU, melainkan juga bagi Indonesia dan dunia.

“Di masa Kiai Hasyim, NU makin melebarkan pengaruh dan jaringan ke luar negeri. Terutama negara-negara Timur Tengah. Kiai Hasyim memiliki sumbangsih besar dalam mempromosikan Islam Indonesia yang moderat di mata dunia,” kata Said.

Ijtihad politik

Bukan sekadar ulama. Kiai Hasyim juga tampil sebagai sosok yang tidak membelakangi pentingnya turut terlibat dalam pergulatan politik demokrasi.

Mengenang Kiai Hasyim dan politik, akan muncul bayangan Pemilihan Presiden 2004. Hasyim dipinang Megawati Soekarnoputri untuk maju ke gelanggang meski akhirnya tumbang di putaran kedua melawan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – Jusuf Kalla (JK).

Bergeser dari potret peristiwanya, yang menarik adalah keberanian Kiai Hasyim tampil dalam pentas politik praktis di saat mengemban amanah sebagai sopir kaum nahdliyin. Tentu, hal ini mengundang pro-kontra yang tidak sederhana, terlebih, ia diposisikan sebagai calon wakil presiden mendampingi kepemimpinan seorang perempuan yang juga dianggap masih berada di wilayah abu-abu dalam pergulatan hukum Islam.

Kiai Hasyim rupanya siap sesegala dalam mengambil keputusan itu. Dalam Nasionalisme Kiai: Konstruksi Sosial Berbasis Agama (2007), Ali Maschan Moesa merekam alasan Ketum PBNU itu dalam menjawab ragam serangan.

Pertama, pada dasarnya perempuan boleh menjadi presiden karena tidak ada dalil tegas yang melarangnya, baik di Alquran maupun hadis. Kedua, Kesediaannya mendampingi Megawati adalah upaya mempertahankan misi kebangsaan yang telah ditetapkan para kiai NU,” tulis Ali.

Pada episode selanjutnya, nama Hasyim sebagai keterwakilan NU memang lekat dengan geliat perpolitikan Indonesia. Termasuk, terlibat dalam pemenangan Joko Widodo dalam Pemilihan Presiden 2014 lalu.

Tetapi, memang, sosok sekhas Hasyim Muzadi selalu asyik untuk dibaca. Terutama soal keyakinannya dalam memperbolehkan menggeluti dunia siasat asal tetap dibarengi prinsip moral kebangsaan.

“Terpisahnya moral kebangsaan dan politik itulah yang menyebabkan politik bergeser fungsi dari menegakkan keadilan menjadi tindakan korupsi dan keserakahan,” ucap Hasyim, sebagai mana dikutip Hilman Latief dalam Islam dan Urusan Kemanusiaan (2015).

Komentar
Sedang Loading...
Memuat