HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Tiongkok Khawatir Setelah Menlu AS Tegaskan Kebijakan Keras ke Korut

6

HARIANACEH.co.id, BEIJING – Menteri Luar Negeri Rex Tillerson akan menekankan kebijakan baru Amerika Serikat (AS) yang lebih keras atas Korea Utara (Korut) selama pembicaraan di Tiongkok, pada Sabtu 18 Maret. Dua kekuatan adidaya dunia itu terpecah soal bagaimana mengendalikan Pyongyang yang bersenjata nuklir.

Pemerintah Trump memanfaatkan tur Asia Tillerson guna memecah kebuntuan dengan bertahun-tahun kesabaran strategis terhadap Korut. Itu semua, dikatakan Menlu AS selama kunjungannya di Tokyo, telah “gagal.”

Di Seoul, Jumat 17 Maret, Tillerson katakan, aksi militer AS ke Korut telah “siap saji” jika ancaman dari rezim nakal di Utara meningkat.

Sejumlah besar perubahan dalam kebijakan AS menyusul dua tes nuklir Korut tahun lalu dan peluncuran peluru kendali, termasuk salvo, awal bulan ini. Pyongyang digambarkan sebagai sebuah bor yang hendak membobol pangkalan militer AS di Jepang.

Tiongkok, di sisi lain, sangat mewaspadai taktik baru AS terhadap negeri tetangganya yang banyak ulah. Menurut seruan pekan lalu kepada Korut, AS dan sekutunya Korea Selatan (Korsel) akan mengambil sejumlah langkah demi meredakan ketegangan.

Mereka berharap memulai kembali upaya-upaya diplomatik agar bisa membongkar program nuklir dan rudal Pyongyang. Diplomasi setahun penuh gagal mencegah Korut mempersenjatai diri dan Washington sudah menolak proposal Tiongkok.

Meningkatkan tekanan

Tillerson, mantan eksekutif perusahaan minyak Exxon, bertemu Menteri Luar Negeri Wang Yi pada pukul 14:30 Sabtu dan kemudian berjumpa pejabat puncak kebijakan luar negeri Tiongkok, Yang Jiechi.

Rencananya Tillerson juga akan bertemu, Minggu 19 Maret, dengan Presiden Xi Jinping di saat Beijing dan Washington merundingkan kemungkinan pertemuan puncak pertama antara Xi dan Trump pada April mendatang di AS.

Tiongkok menjadi negara terakhir dengan pengaruh yang signifikan atas rezim terisolasi Korut yang dipimpin oleh Kim Jong-Un, dan Tillerson diharapkan menekan Tiongkok agar menggunakan pengaruhnya.

Pada Jumat, Presiden Donald Trump menuduh Tiongkok terseret arus dalam sebuah postingan Twitter. “Korea Utara berperilaku sangat buruk. Mereka telah ‘mempermainkan’ Amerika Serikat selama bertahun-tahun. Tiongkok telah berbuat banyak untuk membantu!” dia berkata, seperti disitir AFP, Sabtu 18 Maret 2017.

Beijing prihatin dengan kekhawatiran AS atas nuklirisasi Pyongyang. Tetapi juga merasa waswas untuk mencubit tetangganya yang terbelakang itu secara ekonomi terlalu keras. Jangan sampai memicu runtuhnya rezim Jong-Un, hingga jadi berantakan semua.

Kim Jong-Un dianggap menjadi ancaman
Kim Jong-Un dianggap menjadi ancaman (Foto: AFP)

Tiongkok bersikeras, Kamis 16 Maret, memberi usulan terbaru — Korut menghentikan kegiatan nuklir dan rudal dengan imbalan AS dan Korsel menyetop latihan militer yang menggusarkan Pyongyang — memandang “hanya itu rencana yang layak.”

“Jika AS atau negara lain memiliki rencana yang lebih baik, proposal yang lebih bagus, mereka dapat membawanya kemari,” kata seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Tirai Bambu.

Pada konferensi pers bersama, Jumat, dengan mitranya dari Korsel Yun Byung-Se, Tillerson berkata: “Kita menjelajahi berbagai langkah-langkah diplomatik, keamanan, ekonomi baru”.

Di bawah pemerintahan Obama, AS mengesampingkan keterlibatan diplomatik sampai Pyongyang membuat komitmen nyata untuk melucuti senjata nuklir, seraya berharap tekanan internal di negara yang terisolasi itu akan membawa perubahan.

Korut berkeras mengatakan mereka butuh nuklir demi mempertahankan diri, dan melakukan uji coba bom atom pertama di bawah tanah pada 2006 meskipun ada penentangan global. Empat ledakan tes lainnya sudah menyusul.

PBB telah memberlakukan sejumlah sanksi, tetapi Tiongkok dituduh tidak sepenuhnya menerapkan aturan tersebut. Beijing dan Washington juga berselisih atas penyebaran sistem anti-rudal AS ke Korsel.

Washington dan Seoul bersikeras, itu bertujuan murni defensif. Namun Beijing mengatakan, penyebaran tersebut merongrong keamanannya sendiri dan sudah bereaksi dengan marah, memaksakan serangkaian langkah yang terlihat di Korsel sebagai pembalasan ekonomi.

loading...