HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Pilpres Timor Leste

Tantangan Presiden Baru Timor Leste Adalah Edukasi dan Gizi

Warga Timor Leste memberikan suara dalam pemilu presiden di era kemerdekaan. (AFP)
75

HARIANACEH.co.id – Rakyat Timor Leste memberikan suara mereka pada pemilihan presiden baru, Senin 20 Maret, dalam pemilu yang menjadi upaya serius bagi negeri terbaru dan termiskin di Asia.

Salvador Pereira da Costa, seorang profesor sosiologi, mengatakan rendahnya kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan menjadi beberapa kekhawatiran yang harus diperhatikan presiden baru Timor Leste.

“Timor Leste memiliki jumlah sekolah yang memadai, tetapi kualitas pendidikan tetap buruk,” katanya, seperti disitat Vatican Radio, Senin 20 Maret 2017.

Gizi kurang pada anak-anak juga sebagai masalah serius, terutama di daerah terpencil, karena kemiskinan dan juga pemahaman buruk di antara orang tua tentang gizi.

“Presiden berikutnya harus menggunakan dana negara demi memenuhi kebutuhan rakyat, bahkan penduduk di daerah terpencil,” kata da Costa.

Di bawah sistem pemerintahan Republik Semi-Presidensial, sebanyak delapan kandidat bersaing merebut suara 744.613 pemilih yang terdaftar menurut electionguide.org.

Warga mengantre untuk memberikan suara
Warga mengantre untuk memberikan suara (Foto: AFP)

Tiga calon independen: Amorim Vieira, Jose Antonio de Jesus das Silva, dan Luis Alves Tilman mengikuti pilpres, kali ini. Lima kandidat lainnya berasal dari partai politik, masing-masing, Francisco ‘Lu Olo’ Guterres asal Revolutionary Front for an Independent East Timor (FRETILIN), Antono Maher Lopes dari Socialist Party of Timor. Maria Angela Freitas da Silva dari Labor Party (PTT), Antonio Luis Guterres asal Democratic Party, dan Jose Luis Guterres dari Front for the National Reconstruction of Timor-Leste (FM).

Kendati lebih dikenal sebagai jabatan seremonial, Presiden Timor Leste dapat bertindak sebagai penengah bagi resolusi konflik. Dia juga bisa menggunakan hak untuk memveto undang-undang yang diajukan oleh pemerintah dan disetujui Parlemen Nasional.

Dilansir situs web resmi Pemerintah Timor Leste, presiden terpilih akan dilantik pada 20 Mei. Menyusul pemilu legislatif mendatang, presiden akan menunjuk pemimpin partai mayoritas atau koalisi mayoritas sebagai perdana menteri. Sebagai kepala negara, Presiden juga memimpin Dewan Negara dan Dewan Tertinggi Pertahanan dan Keamanan.

Fransisco Guterres memimpin

Untuk saat ini, kandidat Presiden Timor Leste Fransisco Guterres memimpin sementara peraihan suara.

Didukung oleh Fretilin, partai yang menggalang perjuangan revolusioner untuk kemerdekaan negara itu, Francisco Guterres terdepan dengan 59,24 persen suara.

Tapi baru 34,34 persen dari suara yang telah dihitung, Selasa 21 Maret pagi. Hal tersebut mencerminkan masalah ruwet logistik di negeri yang sebagian besar berupa pegunungan dengan jaringan jalan yang buruk.

Meskipun pemungutan suara itu tidak diwajibkan, ratusan ribu rakyat Timor menunggu dengan sabar dalam antrean panjang di bawah terik mentari buat memilih presiden baru untuk jangka lima tahun menjelang pemilihan umum pada Juli mendatang.

Pemilu ini akan menjadi kunci ke masa depan negara demokrasi terbaru di Asia. Di tengah kekhawatiran akan pendapatan minyak dan gas dengan cepat terkuras dari bangsa ini.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat