HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Konflik Kongo

Di Desa Kongo Ditemukan Dua Jenazah Penyelidik PBB

7

HARIANACEH.co.id, KINSHASA – Penduduk desa di Republik Demokratik Kongo menemukan jenazah dua penyelidik PBB dan penerjemah asal Kongo. Ketiga orang itu hilang, awal bulan ini, di daerah yang dilanda kekerasan pemberontakan.

Michael Sharp, warga negara Amerika Serikat (AS), dan Zaida Catalan, berkebangsaan Swedia, bertugas dalam sebuah kelompok pakar, yang memantau sanksi yang dikenakan atas rezim Kongo oleh Dewan Keamanan PBB, ketika mereka menghilang di provinsi Kasai Tengah.

Penduduk desa menemukan tiga mayat –dua warga asing dan satu warga Kongo– tidak jauh dari tempat di mana kelompok pakar itu lenyap, menurut pihak pemerintah.

Polisi memberitahu pihak berwenang di ibukota Kinshasa, Senin 27 Maret. Lantas sebuah tim, termasuk komisaris polisi provinsi, dikirim ke lokasi kejadian guna mengidentifikasi mayat.

“Sekarang telah dipastikan. Inilah dua peneliti yang hilang. Kami mengidentifikasi jasad ketiga dalam kuburan sebagai penerjemah asal Kongo yang mendampingi mereka,” kata menteri komunikasi Lambert Mende, seperti dilansir Guardian, Rabu 29 Maret 2017.

Pemerintah Kinshasa mengatakan, awal bulan ini, bahwa dua pejabat PBB telah jatuh ke tangan tak dikenal ‘kekuatan negatif’ bersama empat warga Kongo yang ikut dengan mereka di dekat Desa Ngombe di Kasai Tengah.

John Sharp, ayah Michael, memposting di laman Facebook-nya bahwa mayat dua bule itu telah ditemukan di sebuah kuburan dangkal, seraya mengatakan ‘kemungkinan besar’ bahwa itu adalah para pejabat PBB.

“Ini adalah pesan yang saya harap tidak pernah saya tulis,” tulisnya, menambahkan bahwa tes DNA dan catatan gigi akan digunakan untuk mengkonfirmasi identitas mayat.

PBB mengatakan masih memeriksa jenazah yang ditemukan. “Kami tidak bisa, pada saat ini, mengkonfirmasi bahwa temuan ini adalah mayat para pakar. Kami berharap dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang ini secepatnya,” ucap Juru Bicara PBB Farhan Haq.

Kementerian luar negeri Swedia mengatakan tidak akan mengomentari insiden tersebut sebab sedang ditangani oleh PBB.

Wilayah Kasai di Kongo Tengah menjadi pusat pemberontakan militan Kamuina Nsapu, yang sekarang telah menyebar ke lima provinsi di negara Afrika tengah yang diperintah tanpa wibawa. Para militan menimbulkan ancaman yang semakin serius bagi Presiden Joseph Kabila, yang bersikeras tetap berkuasa setelah mandatnya berakhir Desember lalu. Keputusan Kabila telah mengirimkan gelombang kerusuhan di seluruh negeri pertambangan yang luas ini.

Para pejabat mengatakan, Sabtu 25 Maret, milisi memenggal kepala sekitar 40 polisi dalam serangan paling mematikan atas pasukan keamanan sejak pemberontakan dimulai tahun lalu.

Angka PBB menunjukkan bahwa lebih dari 400 orang telah tewas dalam kekerasan di mana militan telah dituding melakukan kekejaman dan pasukan pemerintah dituduh menargetkan warga sipil.

“Pergi ke lokasi di mana beberapa orang mengungsi, menanyakan pertanyaan kepada beberapa orang yang juga bertanya-tanya, mencari tahu kebenaran, inilah kerja pakar PBB. Beginilah caranya bagaimana laporan dan rekomendasi yang ditulis Dewan Keamanan,” tegas Emilie Serralta, mantan koordinator kelompok PBB Kongo.

loading...