HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Jepang Masih Menggunakan Klaim Penelitian untuk Buru Ikan Paus

Deretan kapal penangkap paus milik Jepang. (AFP)
61

HARIANACEH.co.id, TOKYO – Armada kapal ikan Jepang kembali setelah berlayar dari Antartika. Mereka diketahui baru saja menangkap sekitar 300 paus jenis Minke.

Sudah sekian lama perburuan Jepang atas paus diwarna dengan kritikan. Namun lagi-lagi Negeri Sakura mengklaim penangkapan itu dilakukan atas alasan penelitian.

Jepang juga menangkap 333 paus minke di musim sebelumnya hingga pada 2016 setelah absen satu tahun mematuhi putusan dari Mahkamah Internasiobnal (ICJ). Putusan itu mengatakan bahwa perburuan adalah usaha komersial yang menyamar sebagai ilmu pengetahuan dan memerintahkan Tokyo agar mengakhirinya.

Di bawah pengawasan Komisi Penangkapan Ikan Paus Internasional (IWC), di mana Jepang menjadi salah satu penandatangan, sudah berlaku moratorium perburuan paus sejak 1986.

Tokyo mengeksploitasi celah yang memungkinkan paus untuk dibunuh demi “penelitian ilmiah” dan klaim yang mereka coba buktikan soal populasi paus cukup besar demi terus mempertahankan perburuan komersial.

Tetapi mereka juga tidak merahasiakan fakta bahwa daging ikan paus menjadi santapan di meja makan.

Jepang dikenal sebagai pemburu paus selama berabad-abad, dan daging ikan raksasa itu sumber protein utama di tahun-tahun pasca-Perang Dunia II ketika negara itu terpuruk amat miskin.

Namun konsumsinya telah menurun drastis dalam beberapa dekade terakhir. Terdapat proporsi yang signifikan dari populasi yang mengatakan, mereka “tidak pernah” atau “jarang” makan daging ikan paus.

Menanggapi putusan ICJ, misi Jepang 2014-15 dilakukan hanya “penelitian bukan mematikan” seperti mengambil sampel kulit dan menghitung jumlah populasi.

Pada misi yang telah selesai, badan itu berkata bahwa selain membunuh, juga menghitung jumlah paus, mengambil sampel kulit dari yang hidup, dan memasang perangkat pelacakan kepada mereka.

Misi sebelumnya telah terhambat oleh kampanye konfrontatif di laut lepas oleh pencinta lingkungan Sea Shepherd. Meskipun Jepang telah memenangkan beberapa gugatan dari kelompok itu melalui pengadilan.

“Sikap Sea Shepherd ‘tampaknya sedikit melunak’ kali ini,” sebut Menteri Perikanan Yuji Yamamoto menurut Kyodo News, Jumat 31 Maret 2017.

Seorang pejabat badan perikanan mengatakan, para penangkap ikan paus saat ini tidak lagi menghadapi perilaku obstruktif yang mengancam keselamatan armada dan awak kapal oleh kelompok seteru.

Dia mengaitkan hal itu karena Jepang sudah mulai mengirim kapal-kapal patroli dari lembaga perikanan untuk melindungi armada penangkapan paus.

Armada maut Jepang

Adapun armada yang melakukan perburuan tersebut berlayar ke Samudera Selatan pada November, dengan rencana membantai 333 paus minke. Mereka mengabaikan moratorium seluruh dunia dan oposisi yang dipimpin oleh Australia dan Selandia Baru.

Armada ini terdiri dari lima kapal, tiga di antaranya tiba pagi hari di pelabuhan Shimonoseki di Jepang barat, kata Badan Perikanan Negeri Matahari Terbit.

Lebih dari 200 orang, termasuk awak dan keluarga mereka, berkumpul di bawah hujan menggelar upacara 30 menit di depan Nisshin Maru, kapal utama armada, menurut seorang pejabat pemerintah Shimonoseki City.

Dalam siaran pers, lembaga itu menggambarkan misinya sebagai “penelitian yang bertujuan mempelajari sistem ekologi di Laut Antartika”.

Tapi para pencinta lingkungan dan ICJ menyebutnya hanya dongeng dan mengatakan tujuan sebenarnya ialah berburu paus untuk diambil dagingnya.

Mengantisipasi kembali berlayarnya armada, badan amal perlindungan hewan Humane Society International (HSI) menyerukan diakhirinya penangkapan ikan paus oleh Jepang.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat